Melalui ISPHoA; ITS Kenalkan Manfaat Cahaya bagi Manusia

Melalui ISPHoA; ITS Kenalkan Manfaat Cahaya bagi Manusia

Melalui ISPHoA; ITS Kenalkan Manfaat Cahaya bagi Manusia

Di dunia medis, beberapa operasi yang membutuhkan ketelitian tinggi sudah memanfaatkan laser sebagai media pemotong

Surabaya, Kabarindo- Departemen Teknik Fisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mengenalkan kepada khalayak tentang manfaat cahaya untuk kehidupan manusia.

Hal ini dibahas dalam International Seminar on Photonics, Optics and It’s Application (ISPHoA) yang digelar Rabu-Kamis, 1-2 Agustus 2018. Perhelatan dua tahunan yang sudah kali ketiga ini, menghadirkan narasumber dari berbagai negara.

Ketua pelaksana ISPHoA, Dr rer nat Aulia Nasution, menjelaskan cahaya memiliki banyak manfaat bagi kehidupan sehari-hari. Contohnya di dunia medis sekarang ini. Beberapa operasi yang membutuhkan ketelitian tinggi sudah memanfaatkan laser sebagai media pemotong.

“Kondisi kesehatan juga dapat diketahui dengan memanfaatkan interaksi antara cahaya dan kondisi tubuh. Dari interaksi ini akan dihasilkan data yang nantinya diolah sehingga dapat diketahui kondisi kesehatan manusia,” ujarnya.

Di bidang komunikasi, cahaya dapat dimanfaatkan sebagai kabel penghubung dengan kecepatan yang lebih baik dibandingkan tembaga yang biasa dipakai. Aulia mengklaim, meski manfaatnya sudah banyak dirasakan, tidak banyak masyarakat yang tahu aplikasi dari cahaya ini.

“Dengan seminar semacam ini, khalayak akan tahu seperti apa manfaat cahaya yang tentu tidak sebatas sebagai sumber penerangan,” ujarnya.

Prof Dr Harith bin Ahmad dari Malaysia sebagai pemateri mencoba memberikan gambaran tentang beberapa inovasi baru di bidang pemanfaatan cahaya. “Nanomaterial yaitu penggunaan bahan (materi) berukuran sangat kecil masih menjadi fokus penelitian optika yang diminati pada abad 21 ini,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, beberapa materi yang dapat bekerja dalam skala nano nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sensor yang cukup efisien. Dengan ukuran sangat kecil, materi semacam ini akan praktis untuk digunakan, karena alat yang tercipta tidak membutuhkan ukuran besar.

Pemateri lain, Prof Shi-Wei Chu dari National Taiwan University, yang memanfaatkan hamburan plasmon non-linier untuk membuat mikroskop dengan resolusi tinggi. Resolusi tinggi akan menghasilkan akurasi pengamatan yang tinggi. Dengan hasil tersebut, pengamatan dalam hal pencitraan biomedis atau pemeriksaan organ fungsional dapat dilakukan lebih baik lagi.

Penulis: Natalia Trijaji