Vero ASEAN; Luncurkan PR Playbook bagi Pelaku Bisnis dan Brand

Vero ASEAN; Luncurkan PR Playbook bagi Pelaku Bisnis dan Brand

Vero ASEAN; Luncurkan PR Playbook bagi Pelaku Bisnis dan Brand

 

Hadapi disinformasi dan misinformasi yang beredar

Surabaya, Kabarindo- Brand di Indonesia, sebagaimana di seluruh dunia, rentan terhadap pelaku kejahatan yang memanfaatkan teknologi untuk menyebarkan berita bohong dan disinformasi yang berpotensi merusak reputasi bisnis.

Penting bagi brand dan para pemimpin bisnis di Indonesia untuk bergerak cepat menghalau potensi krisis, sebelum disinformasi mengancam reputasi perusahaan, merusak harga pasar atau mengganggu proses operasional bisnis.

Beranjak dari hal tersebut, Vero ASEAN, agensi PR dan digital di ASEAN, meluncurkan PR playbook guna membantu pemimpin bisnis dan brand dalam menghadapi ancaman berita bohong yang dapat merusak reputasi perusahaan.

PR Playbook, dapat diunduh di situs web Vero, merupakan panduan untuk mengidentifikasi berbagai dampak buruk akibat serangan berita bohong dan disinformasi, sekaligus memberikan solusi pencegahan bagi perusahaan untuk melindungi reputasinya. Pedoman ini menawarkan analisis yang mencakup tiga zona risiko utama pada bisnis yang rentan terhadap serangan disinformasi, yaitu aktivitas terkait dengan brand, yang berkaitan dengan kegiatan bisnis perusahaan dan aktivitas yang berhubungan dengan individu.

“Kita berada di era disinformasi, dimana pelaku kejahatan sering diuntungkan dalam berbagai situasi. Tidak mungkin untuk menghentikan serangan disinformasi sepenuhnya. Untuk itu, para pemimpin bisnis dan brand harus mengambil pendekatan secara proaktif guna mengelola ancaman ini. Melakukan pemantauan yang cermat terhadap percakapan online dan berkomunikasi secara berkesinambungan untuk membangun kepercayaan dengan para pemangku kepentingan sebagai langkah preventif dalam menghadapi serangan semacam ini,” ujar Managing Director Vero, Brian Griffin.

Saat ini, lebih banyak berita bohong dan disinformasi di Indonesia yang mengarah pada Covid-19 dan program vaksinasi. Sejak Januari 2020 hingga 23 Mei 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkap setidaknya terdapat 1.587 berita bohong terkait penyebaran Covid-19 yang ditemukan di media sosial. Ada beberapa kasus yang mencuri perhatian masyarakat, salah satunya disinformasi mengenai brand terkemuka penyedia vaksin Covid-19 yang menyebabkan reputasi brand tersebut diragukan dan membuat masyarakat ragu untuk melaksanakan vaksinasi.

“Konten palsu biasanya disebarkan melalui platform media sosial untuk menciptakan respon emosional, terutama ketakutan dan kebencian, serta memecah belah pendapat publik. Kita melihat banyak orang di Indonesia yang enggan untuk divaksinasi akibat berita bohong dan disinformasi seputar cara pembuatan vaksin dan teori konspirasi terkait vaksin. Ada banyak zona risiko lain terhadap serangan disinformasi, sehingga penting bagi para pemimpin bisnis untuk melindungi brand mereka terhadap bahaya disinformasi yang dapat berdampak negatif bagi bisnis dan citra perusahaan,” ujar Diah Andrini Dewi, Account Director Vero Indonesia.

PR Playbook juga menawarkan beberapa saran untuk brand dalam mempersiapkan dan meminimalisir dampak serangan disinformasi. Langkah tersebut antara lain menempatkan tim tanggap krisis, meninjau zona risiko yang rentan, membuat daftar kata kunci untuk social listening, membangun kepercayaan dengan komunikasi secara konsisten dan transparan, mengelola kanal media yang dimiliki (owned media), persiapan untuk menyanggah berita bohong dan memanfaatkan platform media sosial untuk menghadapi pelaku kejahatan.

“Brand harus membangun saluran media yang dimiliki serta menggunakannya untuk berkomunikasi dengan jelas dan konsisten. Hal ini akan membantu brand dalam membangun kepercayaan dan memastikan audiens mereka mendengarkan, ketika mereka menghadapi rumor dan berita palsu. Kebenaran yang murni dan tulus, ketika disampaikan secara efektif dari sumber tepercaya, memiliki kekuatan untuk menghalau berita bohong dan meningkatkan kepercayaan,” kata Chief Communications Officer Vero, Pattanee Jeeriphab.

Penulis: Natalia Trijaji