OJK & Perbankan; Lakukan Vaksinasi kepada 144.473 peserta

OJK & Perbankan; Lakukan Vaksinasi kepada 144.473 peserta

OJK & Perbankan; Lakukan Vaksinasi kepada 144.473 peserta

Targetkan nasabah, masyarakat, pegawai perbankan dan keluarga mereka

Surabaya, Kabarindo- OJK dan lima bank umum (BRI, Mandiri, BNI, BCA dan CIMB Niaga) bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan melakukan vaksinasi kepada 144.473 peserta.

Hal ini sejalan dengan komitmen OJK dan industri perbankan dalam mendukung pemerintah untuk percepatan vaksinasi Covid-19.

Target peserta vaksin adalah nasabah dan masyarakat umum sebanyak 81.292 peserta atau 56,27% dari target, disusul dengan pegawai dan keluarga pegawai masing-masing sebanyak 26.399 peserta dan 36.782 peserta yang berasal dari 61 kabuaten/kota di Indonesia.

Tahap pertama vaksinasi dilakukan secara serentak pada 11-24 Juli 2021 di 13 kabupaten/kota (Jakarta, Padang Surabaya, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Palembang, Semarang, Medan, Balikpapan, Manado, Banjarmasin dan Pontianak) dengan target 112.920 peserta.

Regional CEO BRI Surabaya, Triswahju Herlina, kordinator kegiatan vaksinasi di wilayah Surabaya, mengatakan pelaksanaan vaksinasi di Surabaya melibatkan BRI, Bank Mandiri, BCA dan CIMB Niaga. Vaksinasi berlangsung mulai 12-16 Juli 2021 di Grand City Convention & Exhibition yang menargetkan 12.700 orang dengan rincian 2.500 orang per hari, yang terdiri dari pegawai dan keluarga pegawai serta nasabah perbankan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Heru Kristiyana, yang hadir secara virtual mengapresiasi program vaksinasi ini yang pada tahap awal diinisiasi oleh lima bank tersebut.. Program vaksinasi ini merupakan wujud nyata kepedulian sektor perbankan terhadap upaya pengendalian Covid 19. Vaksinasi tersebut diharapkan akan menjadi game changer pemulihan ekonomi nasional.

Ia mengatakan, diperlukan dukungan berbagai pihak untuk percepatan vaksinasi agar target vaksinasi nasional dapat tercapai, termasuk dukungan dari indutri jasa keuangan yang memiliki jaringan luas dari sisi insfrastruktur fisik kantor cabang, cakupan wilayah dan jumlah nasabah terkoneksi dengan industri jasa keuangan, baik nasabah penyimpan maupun nasabah peminjam.

“Meskipun masih relatif risilien, sektor perbankan tidak lepas dari dampak Covid-19. Penurunan kinerja sektor riil secara umum dan kinerja debitur khususnya, memberi efek rembetan terhadap sektor perbankan,” ujar Heru.

Dalam kondisi demikian, ia mengapresiasi sektor perbankan yang telah bersedia sharing pain dengan debiturnya melalui skema restrukturisi kredit kepada hampir 8 juta debitur dengan nominal kredit mencapai hampir Rp 1.000 triliun. Ini merupakan kontribusi perbankan kepada debitur melalui program restrukturisasi yang terbesar sepanjang sejarah perbankan.

Penulis: Natalia Trijaji