Tim ITS Juara di Korea; Gagas ES-PORT Kotak Pendingin Ramah Lingkungan

Tim ITS Juara di Korea; Gagas ES-PORT Kotak Pendingin Ramah Lingkungan

Tim ITS Juara di Korea; Gagas ES-PORT Kotak Pendingin Ramah Lingkungan

Miliki konsep desain 4 in 1 practically

Surabaya, Kabarindo- Dengan mengusung gagasan kotak pendingin ramah lingkungan bernama ES-PORT, tim dari Departemen Teknik Industri ITS berhasil meraih medali emas dan beberapa penghargaan spesial pada ajang Seoul International Invention Fair (SIIF) 2019 di Korea baru-baru ini.

SIIF merupakan perhelatan tahunan pameran produk riset yang pada tahun ini diikuti oleh 635 inventor dari 30 negara di seluruh dunia yang mencakup kalangan mahasiswa hingga perusahaan multinasional.

Gagasan produk Portable, Practical and Eco-Friendly Storage (ES-PORT) yang merupakan hasil kolaborasi mahasiswa dan dosen Departemen Teknik Industri ITS ini mendapatkan penghargaan spesial dari tiga instansi, yaitu Taiwan Invention Association, Universiti Malaysia Trengganu dan Patent Office of Cooperation Council for the Arab States of The Guils (GCCPO).

Delegasi ITS yang dibimbing oleh Dr.Adithya Sudiarno ST MT IPM dan Ratna Sari Dewi ST MT PhD tersebut beranggota tiga mahasiswa lintas angkatan, yaitu Muhammad Adrian Fadhilah, Reza Aulia Akbar dan Dito Abrar Amanullah.

Adithya Sudiarno, dosen pengampu Laboratorium Ergonomi dan Perancangan Sistem Kerja Departemen Teknik Industri yang ikut andil dalam perancangan produk tersebut, mengatakan hal yang membuat tim-nya meraih penghargaan spesial dari GCCPO adalah konsep desain 4 in 1 practically.

Adithya menjelaskan, konsep 4 in 1 practically mencakup 4 hal. Pertama, eco design produk tersebut yang menggunakan bahan 100% Recycled High Density Polyethylene (HDPE). Hal ini berpengaruh pada penambahan kapasitas penyimpanan. Dengan menambah lembaran baru HDPE di beberapa bagian, maka kapasitas produk akan membesar.

Kedua, komponen pendingin yang menggunakan termoelektrik (perangkat konversi energi panas) dan ice gel. Ketiga, penggunaan panel surya dan listrik. Terakhir, desain mobilitas produk yang mengacu pada prinsip rancangan antropometri (pengukuran dimensi tubuh manusia) agar produk bersifat ergonomis.

Muhammad Adrian Fadhilah, salah satu anggota tim, menjelaskan produk ES-PORT telah diuji coba dan diaplikasikan langsung pada nelayan di wilayah Kenjeran, Surabaya. Produk ini mampu mendinginkan hingga suhu minus 5,5 derajat Celcius selama kurang lebih 10 jam.

Produk tersebut berangkat dari masalah para nelayan yang 6%-7% hasil tangkapan mereka sering membusuk sebelum dijual. Juga mengacu pada masalah lingkungan yang ditimbulkan oleh media penyimpanan bahan pangan yang masih menggunakan freon (chlorofluorocarbon). Seperti diketahui, freon memberikan kontribusi terhadap penipisan lapisan ozon.

Adrian, mahasiswa angkatan 2018, mengatakan produk ES-PORT dirancang enam bulan lalu. Menurut ia, banyak tantangan yang dihadapi oleh timnya selama proses perancangan purwarupa produk tersebut. Misalnya ketidaksamaan antara ide awal dan kondisi riil ketika pembuatan, sehingga ada rancangan yang harus diganti ataupun dirancang ulang.

Adithya mengatakan, akan dilakukan pengembangan fitur lebih lanjut mengacu pada masukan yang diterima selama kompetisi. Pihaknya juga menyiapkan untuk hak cipta produk ES-PORT.

Penulis: Natalia Trijaji