Tiga Mahasiswa ITS Rancang E-Trash; Atasi Sampah di Tengah Pandemi

Tiga Mahasiswa ITS Rancang E-Trash; Atasi Sampah di Tengah Pandemi

Tiga Mahasiswa ITS Rancang E-Trash; Atasi Sampah di Tengah Pandemi

Platform jual beli sampah dan produk recycle unttuk tingkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus bantu mengurangi sampah di lingkungan

Surabaya, Kabarindo- Pandemi Covid-19 menimbulkan masalah sampah yang semakin meningkat. Untuk membantu mengatasi hal ini, 3 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencetuskan aplikasi E-Trash yang berbasis web.

Mereka adalah Intan Mey Setyaningrum dan Latifatul Fajriyah dari Teknik Fisika serta Fadhila Rosyidatul 'Arifah dari Teknik Material dan Metalurgi yang tergabung dalam Tim Juara. Ide tim ini berhasil memperoleh pendanaan dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di kategori PKM Kewirausahaan dan berhasil menyabet 2nd Runner Up dalam Podium Business Plan Competition 2021.

E-Trash merupakan platform jual beli sampah dan produk recycle yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus membantu mengurangi sampah di lingkungan. Untuk menggunakan platform ini, pengguna tidak perlu mengunduh di Playstore, namun bisa melalui https://www.etrashidn.com. Selanjutnya, mendaftarkan akun dengan email dan login lebih dulu.

Intan menjelaskan, E-Trash diambil dari kata trash yang berarti sampah. Ide mengenai E-Trash muncul agar masyarakat mudah menukarkan sampah anorganik atau barang bekas dengan koin yang bisa dikonversikan ke uang tunai. Dengan begitu, secara tak langsung dapat membantu perekonomian masyarakat.

Pengguna dapat menjadi pembeli sekaligus penjual. Pengguna yang berada di wilayah Surabaya, dapat menjual atau membeli barang dengan 6 kategori yaitu botol plastik, elektronik bekas, botol kaca, kardus, buku dan koran bekas, serta kayu dan bambu. Penjual dapat mengunggah gambar produk, nama produk, deskripsi produk hingga jumlah stoknya.

“Untuk sistemnya, pengguna hanya perlu menyertakan alamat dan foto sampah yang akan dijual. Pihak E-Trash akan mendatangi lokasi dan memberikan sejumlah uang kepada penjual. Namun jika barang dari penjual bernilai Rupiah yang kecil, pihak E-Trash tidak bisa melakukan penjemputan. Penjual akan mendapatkan uang usai pesanan terselesaikan dan nominalnya akan terpotong sebesar 5% dari hasil penjualan produk,” ujar Intan, gadis kelahiran Madiun, 14 Mei 2001.

Pengguna juga dapat membeli sampah dan mengetahui detil barang yang akan dibelinya. Pembeli dari luar kota tidak perlu khawatir, karena E-Trash sudah menyediakan sistem rekening bersama. Uang pembeli baru akan diteruskan ke penjual usai barang sampai dengan kondisi baik, sehingga tidak akan ada penipuan.

E-Trash dilengkapi 5 fitur menarik yaitu fitur home untuk mencari produk, fitur keranjang untuk mengetahui produk yang ingin dibeli, fitur cash flow untuk mengetahui riwayat keuangan yang telah dilakukan serta fitur notifikasi untuk menerima pesan dan riwayat transaksi yang telah dilakukan. Juga ada fitur account untuk mengatur profil pembeli dan toko bagi penjual. Intan berharap, E-Trash dapat mengembangkan fitur-fiur lain.

Ia juga berharap dapat merangkul mitra seperti bank sampah dan UMKM untuk bekerja sama serta E-Trash dapat dikenal oleh masyarakat luas.

“Karena masih terbilang usaha baru, kami akan terus berusaha mempromosikan E-Trash kepada masyarakat luas. Semoga bisnis ini dapat berkembang dengan baik dan berdampak positif untuk masyarakat,” ujar Intan.

Penulis: Natalia Trijaji