Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Ekonomi & Bisnis > Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi Bangsa

Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi Bangsa

Ekonomi & Bisnis | Rabu, 21 Januari 2026 | 18:09 WIB
Editor : Anton CH

BAGIKAN :
Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi Bangsa

KEMASAN ASEPTIK : Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi (kanan) dan Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li (tengah) memperkenalkan kemasan aseptik yang disodorkan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)

_________

SERANG – Suhu udara di kawasan industri Cikande, Serang, Banten sangat terik. Pabrik dengan dominasi warna biru tampak berdiri kokoh dari kejauhan. Pabrik itu, bukan sembarang pabrik, tetapi pabrik PT Lami Packaging Indonesia atau yang dikenal dengan LamiPak Indonesia. Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 16,2 hektare itu mengadopsi fasilitas canggih berstandar industri 4.0. Luas bangunannya lebih dari 55.000 meter persegi. Pabrik ini berfokus pada produksi kemasan aseptik dengan kapasitas mencapai 21 miliar kemasan per tahun.

Tak hanya luas, pabrik ini juga ramah lingkungan dan menekan emisi karbon. Sumber energi utama yang digunakan, bukan dari listrikm PLN yang dipasok dari pembangkit listrik batubara, tetapi dari  PLTS Atap berkapasitas 2,8 MWp bekerja sama dengan SUN Energy. PLTS itu menyuplai hingga 20% kebutuhan listrik pabrik, mengurangi emisi karbon sebesar 2,7 juta kg  per tahun, dan mendukung target Zero Nett Carbon Roadmap 2050 perusahaan. “Menjadi komitmen kami untuk menekan emisi karbon agar lingkungan tetap lestari,”tegas Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi kepada Kabarindo.com saat berkunjung ke pabrik LamiPak, Selasa (20/1/2026).

Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi BangsaPabrik LamiPak Indonesia di kawasan industri Cikande, Serang, Banten. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)

______

Di dalam pabrik, sejumlah pekerja tampak sibuk memindahkan gulungan karton dari satu mesin ke mesin lainnya. Pengunjung pun harus menggunakan penutup sepatu, mpenutup kepala hingga penutup tubuh layaknya petugas laboratoriumm. “Mereka (pekerja) harus selalu dalam keadaan steril,”imbuhnya. Standard ketat diterapkan lantaran pabrik yang hasil produksi kemasan aseptik itu digunakan untuk keperluan penyimpanan, salah satunya susu. “Kami terus melakukan inovasi agar produk yang kami hasilkan memberikan kontribusi maksimal bagi bangsa Indonesia, terlebih di program Makan Bergizi Gratis (MBG),”tegas Ahmad.

Ya, ditengah pesatnya industri pangan fungsional, kemasan bukan sekadar pembungkus, melainkan benteng pelindung nutrisi. Menurut Ahmad, LamiPak Indonesia hadir sebagai pemain kunci yang mendefinisikan ulang standar keamanan pangan melalui solusi kemasan aseptik yang inovatif dan ramah lingkungan.

​Sebagai bagian dari ekspansi global, LamiPak menanamkan investasi besar. Tak tanggung-tanggung, senilai USD 200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) untuk membangun fasilitas produksi kelas dunia di Indonesia. Pabrik ini berdiri megah di kawasan industri Cikande, Serang, Banten, di atas lahan seluas 16 hektare.

Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi BangsaDua karyawan LamiPak Indonesia melintas di miniatur pabrik LaamiPak di kawasan industri Cikande, Serang, Banten. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)

________

Pabrik Cikande merupakan salah satu fasilitas kemasan aseptik terbesar di dunia. Pada fase awal, pabrik ini memiliki kapasitas 9 hingga 12 miliar kemasan per tahun, dan diproyeksikan melonjak hingga 21 miliar kemasan seiring optimalisasi operasionalnya.

Perusahaan ini juga memegang sertifikasi PEFC Chain of Custody, yang memastikan bahwa karton yang digunakan dalam kemasan aseptiknya berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan sesuai dengan standar Indonesian Forestry Certification Cooperation (IFCC) dan PEFC.

Meski fokus memenuhi kebutuhan domestik untuk menekan angka impor, LamiPak Indonesia juga menjadi pilar ekspor yang kuat. Sekitar 80% dari hasil produksinya ditujukan untuk pasar internasional, mencakup lebih dari 72 negara termasuk kawasan Asia Tenggara (ASEAN), India, Timur Tengah (seperti Mesir), Eropa, Australia, Selandia Baru, hingga Amerika Latin.

​Keunggulan utama LamiPak terletak pada teknologi pengemasan aseptik yang memungkinkan produk seperti susu dan jus tetap segar tanpa bahan pengawet. Selain kemasan utama, LamiPak juga memproduksi sedotan kertas (paper straw) dengan kapasitas mencapai 3,7 miliar unit per tahun. Inovasi ini menggunakan material food grade yang 100% dapat didaur ulang, menggantikan penggunaan plastik sekali pakai yang mulai dilarang di berbagai negara. “Ekspor kami hingga Eropa yang menerapkan standard ketat,”tegas Ahmad.

​​LamiPak memahami bahwa industri masa depan harus selaras dengan alam. Fasilitas di Cikande telah mengintegrasikan penggunaan energi bersih dan sistem efisiensi energi yang ketat untuk meminimalkan jejak karbon. Selain itu, perusahaan menerapkan teknologi Automatic Warehouse yang terkomputerisasi sepenuhnya, memastikan proses logistik berjalan presisi, cepat, dan minim emisi dari aktivitas operasional gudang.

Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi BangsaProduk kemasan aseptik yang dihasilkan oleh LamiPak Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk untuk program susu MBG. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)

_____

Dalam skala nasional, LamiPak mengambil peran penting sebagai mitra strategis dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan kapasitas produksi yang mencapai hampir tiga kali lipat kebutuhan kemasan susu nasional yang berkisar 8 miliar unit, LamiPak menjamin ketersediaan pasokan kemasan yang stabil bagi produsen susu lokal. Hal ini memastikan distribusi susu ke berbagai pelosok negeri dalam program MBG dapat berjalan lancar tanpa kendala suplai kemasan.

​”Salah satu tantangan terbesar distribusi susu adalah menjaga kestabilan kualitasnya dari pabrik hingga ke tangan anak-anak. Kemasan aseptik yang kami produksi, kami rancang khusus dengan struktur lapisan canggih yang melindungi susu dari paparan cahaya dan oksigen,”ungkap Ahmad.

LamiPak menghadirkan inovasi teknologi kemasan aseptik enam lapis yang melindungi produk cair tanpa pengawet, menjaga nutrisi, dan memungkinkan penyimpanan tanpa rantai dingin. Enam lapisan itu terdiri dari outer layer, paperboard with printing ink, lamination layer, alumunium foil, tie layer, dan inside multilayer yang memastikan sterilitas produk. LamiPak juga mengembangkan teknologi kemasan aluminum-free yang dapat didaur ulang dan mengurangi jejak karbon hingga 28%.

Teknologi ini memberikan lapisan perlindungan ekstra yang mencegah kerusakan nutrisi meski dalam kondisi penyimpanan yang menantang, memastikan setiap tetes susu yang dikonsumsi tetap higienis, aman, dan bergizi tinggi sesuai standar nasional.

Produk kemasan aseptik inovatif LamiPak saat ini menjadi yang pertama di industri kemasan aseptik yang memiliki sertifikasi BRC, FSSC 22000, HALAL, ISO 9001, ISO 14001, PEFC, dan FSC, yang menunjukkan komitmen perusahaan terhadap standar global kualitas dan keamanan pangan. Skema sertifikasi ini diakuisecara internasional dan mencerminkan dedikasi LamiPak terhadap praktik sumber daya yang berkelanjutan.

LamiPak juga membesut LamiPure, kemasan yang sepenuhnya dapat didaur ulang. Kemasan aseptik ini dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus memastikan keamanan pangan dan stabilitas penyimpanan.

“LamiPure mewakili generasi kemasan aseptik masa depan. Dengan menghilangkan lapisan aluminium, kami membuatnya lebih mudah didaur ulang sekaligus memastikan bahwa semua bahan berbasis serat berasal dari hutan lestari bersertifikasi PEFC. Ini mencerminkan komitmen kuat kami untuk melindungi keanekaragaman hayati, mendukung komunitas hutan, dan mempromosikan pengelolaan hutan yang bertanggung jawab,”beber Ahmad.

LamiPure diproduksi di bawah sertifikasi PEFC Chain of Custody, memberikan bukti yang dapat diverifikasi bahwa setiap serat berasal dari hutan yang dikelola secara berkelanjutan. Dikombinasikan dengan sistem One Pack One Code, para pemangku kepentingan dapat melacak setiap kemasan di seluruh rantai nilai. “Selain dukungan kepada MBG, kami juga mendukung transisi Indonesia menuju ekonomi sirkular dan transisi energi,”katanya.

Kemasan aseptik LamiPak menawarkan solusi praktis dengan memungkinkan distribusi susu tanpa memerlukan pendinginan, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi produk. Teknologi ini memungkinkan susu menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas dan terpencil, sehingga mendukung pemerataan akses gizi di seluruh Indonesia.

Hingga beberapa tahun terakhir, kebutuhan kemasan aseptik di Indonesia sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Dimulainya kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri pada 2024 oleh LamiPak menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung ketahanan pangan jangka panjang. “Kehadiran manufaktur lokal seperti kami juga berkontribusi terhadap keberlanjutan industri nasional,” tutup Ahmad.

Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li menambahkan, LamiPak Indonesia mendukung penuh program susu gratis yang disisipkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda.

Bentuk dukungan yang disodorkan LamiPak berupa inovasi teknologi kemasan aseptik enam lapis yang melindungi produk cair tanpa pengawet, menjaga nutrisi, dan memungkinkan penyimpanan tanpa rantai dingin. Enam lapisan itu terdiri dari outer layer, paperboard with printing ink, lamination layer, alumunium foil, tie layer, dan inside multilayer yang memastikan sterilitas produk. “Kami mengembangkan teknologi kemasan aluminum-free yang dapat didaur ulang dan mengurangi jejak karbon hingga 28%,”tegasnya.

Manfaat Susu dari BGN

Tim Pakar Bidang Susu, Badan Gizi Nasional (BGN) yang juga Guru Besar IPB , Epi Taufik, memaparkan, data International Dairy Federation (IDF) yang menunjukkan bahwa 160 juta lebih anak di dunia telah merasakan manfaat positif dari integrasi susu dalam program makan siang di sekolah.

​Kehadiran susu berfungsi sebagai penyempurna nutrisi dalam paket pangan yang tersedia. Hal ini memperkuat penjelasan Kepala BGN, Dadan Hindayana, terkait signifikansi konsumsi susu bagi pertumbuhan tinggi badan anak.

​"Berdasarkan analisis kami, kandungan kalsium dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) baru memenuhi 7-12 persen Angka Kecukupan Gizi (AKG). Padahal, untuk mencapai peak height velocity atau puncak pertumbuhan manusia, dibutuhkan asupan yang lebih tinggi," ungkap Epi .

​Dia menambahkan bahwa anak-anak memerlukan sedikitnya 25 persen AKG kalsium. Susu menjadi solusi paling praktis karena kalsium dalam bentuk cair lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan sumber lainnya.

​Susu dianggap sebagai "bahan bakar" pertumbuhan karena menyimpan 13 nutrisi esensial, mulai dari kalsium, protein, hingga vitamin D dan B12. "Kalsium tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh. Produk olahan susu adalah sumber kalsium cair terbaik yang sangat krusial untuk kepadatan tulang dan kekuatan gigi," jelasnya.

Tak Sekadar Karton Susu, Tetapi Ikhtiar Bersama untuk Masa Depan Gizi BangsaKemasan aseptik LamiPak banyak digunakan oleh produsen susu kemasan di dalam negeri. (FOTO : KABARINDO.COM/ANTON C)

________

Epi juga menyodorkan riset di India yang dilakukan pada 2022 yang membuktikan bahwa konsumsi susu secara rutin pada anak yang kekurangan gizi efektif melawan stunting dan kekurusan. Selain fisik, asupan ini juga terbukti meningkatkan kemampuan kognitif siswa di sekolah.

​Dalam teknis operasionalnya, siswa TK hingga SD akan menerima 115 ml susu UHT atau pasteurisasi per hari.

Sementara untuk jenjang SMP hingga SMA, porsinya adalah 125 ml. "Kedua kategori ini wajib menggunakan produk dengan kandungan susu segar minimal 20 persen," tuturnya. Standar gizinya pun mengacu pada Peraturan BPOM No. 13/2023, yakni susu lemak penuh rekombinasi dengan kadar lemak minimal 3 persen, protein 2,7 persen, serta karbohidrat dan mineral 7,8 persen.

Merujuk pada Pedoman Gizi Seimbang (Permenkes No. 41/2014) serta panduan FAO & WHO, anak usia sekolah idealnya mengonsumsi 200–400 ml susu setiap hari. "Jadi, porsi susu dalam program MBG sudah sangat tepat dan terukur karena berada di bawah batas anjuran maksimal tersebut," kata Epi.

Terkait distribusi susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dilakukan dengan pengawasan ketat, menggunakan sistem rantai dingin (cold chain) untuk menjaga kualitas produk. Susu (UHT/Pasteurisasi 115 ml) disalurkan ke sekolah atau posyandu, diutamakan dari peternak lokal, dan dipastikan aman di dalam kemasan.

Persoalan daya tahan susu, terutama jenis pasteurisasi, sering kali membayangi keamanan konsumsi. Lemahnya sistem rantai dingin (cold chain), infrastruktur yang timpang, krisis listrik, serta jarak tempuh yang jauh dari pabrik ke sekolah membuat logistik susu menjadi rawan dan mahal. Ia menekankan bahwa teknologi kemasan aseptik adalah solusi paling strategis untuk konteks geografis Indonesia.

“Bisakah kemasan aseptik menjawab kerumitan distribusi susu di tanah air? Tentu saja. Ini pilihan paling masuk akal bagi negara kepulauan karena memangkas ketergantungan mutlak pada mesin pendingin,” papar Prof. Epi.

Dia menjelaskan, susu dengan kemasan aseptik mampu bertahan hingga 6-12 bulan di suhu ruang selama segelnya utuh. Selain menjamin higienitas, distribusinya ke ribuan sekolah, termasuk di area terpencil (3T), menjadi lebih praktis dengan ongkos kirim yang lebih efisien serta risiko kerusakan pangan yang sangat minim.

Sedangkan Direktur Eksekutif Indonesian Packaging Federation (IPF), Henky Wibawa, menyoroti tren kebutuhan kemasan yang aman, fungsional, sekaligus ramah lingkungan yang terus melonjak tajam. ​“Ekspektasi publik terhadap kesehatan dan kelestarian bumi memicu industri untuk menciptakan kemasan yang tidak hanya melindungi isi, tetapi juga mendukung keberlanjutan alam,” urainya.

Industri susu pun memandang aspek keberlanjutan kemasan sebagai pilar vital dalam industri susu masa kini. ​Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew Saputro, mengungkapkan, pihaknya aktif mengevaluasi kemasan dengan jejak karbon yang lebih rendah melalui kemitraan strategis bersama LamiPak Indonesia.

​“Fungsi kemasan tidak sekadar menjaga kemurnian susu, melainkan harus sejalan dengan visi besar perusahaan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup,” pungkasnya. Susu dalam kemasan tak sekadar sebagai simbol kemewahan. Lebih dari itu, susu dalam kemasan kini menjadi ikhtiar bersama untuk memberikan nutrisi terbaik bagi generasi penerus bangsa.


RELATED POST


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER