Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Internasional > Tahap Dua Buntu: Israel-Hamas Tak Punya Pilihan!

Tahap Dua Buntu: Israel-Hamas Tak Punya Pilihan!

Internasional | 4 jam yang lalu
Editor : Orie Buchori

BAGIKAN :
Tahap Dua Buntu:  Israel-Hamas Tak Punya Pilihan!

Oleh: Sabpri Piliang
WARTAWAN SENIOR

    MENGAPA Israel harus berunding dengan Hamas? Gempur saja! Apa susahnya?


   Hamas hanyalah kelompok pejuang "kecil" yang bak bumi dan langit dengan Israel. Dari sisi apa pun. 


     Jumlah Hamas yang tidak sampai 50.000 pejuang. Sementara Israel, dalam serangan  infanteri (pasca 7 Oktober 2023). Membanjiri lebih dari 100.000 pasukan elite, dan cadangan. 


     Masuk jauh ke jantung Gaza hingga 15 bulan pertempuran. Israel belum menang dalam perang infanteri. Israel hanya menang di pertempuran udara,  yang tidak kompetitif. Mengapa? 


     Pertanyaan ini menggelayut! Terlebih setelah membaca dua artikel di media besar berbeda: The Guardians (Inggris) edisi 25 Pebruari, dan Jerusalem Post (Israel) edisi 25 Pebruari.


    The Guardians membuat judul: "No Rules: Gaza's doctor's say. They  were tortured, beaten  and humiliated in Israeli detention". (Tidak ada aturan: Dokter di Gaza disiksa, dipukul, dan dipermalukan di di tahanan).


    "Angle" (sudut pandang) lain ditulis Jerusalem Post dengan 'banner' "Edan Alexander's mom says Trump understand how to get hostage deal done". (Ibu Edan Alexander mengatakan Trump mengerti cara menyelesaikan).


     Sebagai pengamat politik Timur Tengah. Apa yang ingin saya katakan dari dua artikel media terbesar Inggris dan Israel ini?


     Membaca "The Guardians", ada rasa "ngilu dan ngeri", betapa paramedis yang dilindungi oleh regulasi HAM PBB. Bisa mengalami penyiksaan teramat sangat di penjara Israel. 


     Sulit menceritakan (silahkan baca!). Bila dokter dan perawat mengalami 'nightmare' (mimpi buruk), bagaimana sekiranya pejuang Hamas yang tertawan oleh Israel?


     Di situlah letak 'spirit' mengapa Hamas mampu membawa Israel maju ke meja perundingan (gencatan senjata). "Equalizer".


     Hamas bisa menjadi penyeimbang perang infanteri dengan Israel. Seandainya pasti menang, Israel tak akan mau melakukan gencatan senjata dengan Hamas yang 'kecil'.


     Dorongan gencatan senjata  Presiden AS Donald Trump kepada Israel, hanya sebatas katalisator. Bisa jadi ada rasa 'malu' Trump melihat sepak terjang Israel yang telah melewati "garis merah" peri kemanusiaan.


   Kehancuran Gaza sendiri terjadi. Karena tidak ada kompetisi yang semestinya antara kedua pihak, Israel-Hamas. Seandainya Hamas juga punya jet tempur dan sama-sama "dogfight", apa pendapat Anda?


     "The Guardian" yang menyoroti penyiksaan terhadap petugas medis. "Jerusalem Post" justru memotret dari sisi hati seorang Ibu Israel. 


      Edan Alexander adalah anggota pasukan elite infanteri Brigade Golani (Batalyon-51). Yang saat ini masih disandera Hamas. Ibunya (Yael Alexander) berharap sang anak bisa dibebaskan, dalam kesepakatan gencatan senjata tahap dua (Israel-Hamas) yang buntu.


     Sejatinya, Yael Alexander dan rakyat Palestina (Gaza) ingin gencatan senjata tahap dua bisa terwujud. Meskipun begitu, syarat yang diajukan Israel adalah mustahil.


      Hamas harus diusir dari Gaza, demiliterisasi Gaza. Pemerintahan Fatah (Ramallah/Tepi Barat) dan Hamas tidak boleh lagi memegang tampuk pemerintahan Gaza.


    Itulah syarat yang dajukan Israel untuk bisa masuk ke perundingan tahap dua. Padahal, Hamas sendiri sudah bersedia untuk tidak memegang Gaza dan menyerahkan pemerintahan kepada otoritas Palestina/PA (Mahmoud Abbas).


     Usul Israel untuk memperpanjang perundingan tahap-I, sepertinya mengulur (akal-akalan) waktu hingga 60-an sandera tersisa bebas semua. Setelah itu, perang berlanjut lagi.


       Steve Witkoff yang diutus Trump untuk mencari solusi, dan perunding PM Benyamin Netanyahu, Ron Dermer. Sepertinya akan bekerja keras memelihara momentum 42 hari yang sudah bagus.


      Hamas yang "menari" seperti  "tidak menderita" (saat pembebasan sandera), sangat memahami penderitaan tahanan Palestina di penjara Israel. Spirit itulah yang menguatkan, dan ingin tetap menyetarakan diri dengan militer Israel.


      Bila tidak ada solusi "equalizer", bila solusinya berat sebelah. Maka, bisa jadi Yaer Alexander akan menunda kepulangan sang anak yang militeristik. Sementara Hamas tidak punya pilihan lain. 


       Hingga benar-benar tersisa, satu pejuang Hamas terakhir.


RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER