Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Gaya hidup > Shangri-La Surabaya Tawarkan 5 Varian Bakcang, Ada Sambal Bajak & Sambal Petai

Shangri-La Surabaya Tawarkan 5 Varian Bakcang, Ada Sambal Bajak & Sambal Petai

Gaya hidup
Oleh : Natalia Trijaji

BAGIKAN :
Shangri-La Surabaya Tawarkan 5 Varian Bakcang, Ada Sambal Bajak & Sambal Petai

Shangri-La Surabaya Tawarkan 5 Varian Bakcang, Ada Sambal Bajak & Sambal Petai

Sambut Festival Perahu Naga 2022, padukan dengan cita rasa Indonesia

Surabaya, Kabarindo- Festival Bakcang atau disebut juga Festival Perahu Naga sudah dimulai bulan Mei ini. Hotel Shangri-La Surabaya ikut merayakannya dengan menawarkan Bakcang kreasi Executive Chinese Chef Alex Kuan dalam 5 varian kepada masyarakat.

Thomas Kresse, Director of Food and Beverage di Shangri-La Surabaya, mengatakan masyarakat bisa memesan Bakcang untuk dinikmati bersama keluarga atau sebagai hantaran untuk kerabat, sahabat, kolega atau klien.

Shangri-La Surabaya menawarkan Bakcang The Classic Collection dan Flavours of Indonesia Collection yang bisa dipesan mulai 8 Mei-3 Juni. Ada 5 varian yang ditawarkan dengan harga mulai dari Rp.58.000+ per buah untuk Flavours of Indonesia Collection. Sedangkan untuk koleksi Klasik mulai dari Rp.78.000+ per buah.

Kelima varian tersebut kreasi Chef Alex yang membuat bakcang menggunakan resep yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam keluarganya. Ada Bakcang ala Hakka, Bakcang tradisional ala Kanton, Premium Mushroom X.O. Sauce, Bakcang Daging Ayam dengan Sambal Bajak dan Bakcang Daging Domba dengan Sambal Petai. Semua bakcang berbentuk limas yang dibungkus daun bambu.

Pada tahun ini, Chef Alex berkreasi dengan membuat Bakcang bercita rasa Indonesia yaitu Bakcang Daging Ayam dengan Sambal Bajak dan Bakcang Daging Domba dengan Sambal Petai.

“Saya ingin Bakcang lebih diterima oleh masyarakat Indonesia. Karena itu, saya padukan dengan sambal bajak dan sambal petai yang disukai orang Indonesia dan cocok dengan lidah mereka,” ujar chef yang sudah berpengalaman selama 25 tahun ini.

Chef Alex menyebutkan isian Bakcang yaitu beras ketan, kuning telur bebek, daging domba, barbeque chicken, chesnut, peanut dan jamur hitam. Untuk Bakcang bercita rasa Indonesia, ditambah dengan sambal bajak dan sambal petai.

Ia menjelaskan cara membungkus Bakcang yang ternyata membutuhkan ketrampilan tersendiri. Pertama, membuat bungkusan berbentuk limas dari 3 lembar daun bambu yang cukup lebar. Selanjutnya masukkan beras ketan, kemudian bahan-bahan lain dan bagian atasnya dilapisi dengan beras ketan lagi. Lalu tutup bungkusan dan ikat dengan tali dari bambu, kemudian kukus selama 3 jam agar isian Bakcang menyatu dengan nasi ketan yang punel dan lengket.

“Kalau dikukus kurang dari 3 jam, isian Bakcang bisa ambyar. Kalau kita ingin bahan isian yang lain, bisa diganti sesuai selera, kecuali beras ketan tetap harus ada. Misalnya daging ayam bisa diganti daging ikan,” ujar Chef Alex.

Sejarah Bakcang

Sejarah Bakcang erat kaitannya dengan perayaan hari raya Pe Cun atau disebut dengan Duan Wu Jie. Menurut catatan buku sejarah Shi Ji yang ditulis sejarawan Shima Qian, acara Peh Cun diadakan untuk mengenang Qu Yuan, menteri dari negara Chu di Tiongkok pada zaman dulu yang terkenal karena bakat dan kesetiaannya.

Qu Yuan banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, salah satunya dengan berhasil menyatukan beberapa negara tetangga untuk menumbangkan negara Qin. Sayangnya, hal ini menimbulkan rasa tidak senang dari keluarga kerajaan. Menteri-menteri korup berupaya agar Qu Yuan dibuang dan diusir dari kerajaan.

Pasca pengusirannya itu, Qu Yuan mengasingkan diri. Di tengah pengasingan, ia mendengar negara yang dicintainya diserang oleh negara Qin. Merasa sedih dan gagal berbakti untuk negaranya, Qu Yuan kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Yu Luo pada 5 bulan 5.

Menurut legenda, rakyat yang merasa sedih memutuskan untuk mencari jenazah sang menteri dengan menggunakan perahu. Lalu mereka melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai agar hewan-hewan sungai tidak mengganggu jenazah Qu Yuan. Supaya tidak dimakan naga yang berdiam di sungai itu, rakyat membungkus makanan yang dilemparkan dengan bumbung bambu. Tetapi karena bumbung bambu sulit didapatkan, maka akhirnya sekarang dibungkus dengan daun bambu atau daun teratai seperti Bakcang yang kita kenal saat ini.


TAGS :
RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER