Kesenian Terebang Gede membuka perayaan Hari Musik Nasional 2026 di Gedung Negara Serang. Tradisi rebana warisan Kesultanan Banten ini menghadirkan musik sebagai doa bagi keselamatan bangsa.
Oleh: ZA ~ Zen
Teater Populer 84 | Suara Indonesia
“Ketika musik dirawat dengan martabat dan visi kebudayaan yang luas, ia tidak sekadar melahirkan lagu. Ia menghadirkan doa kebudayaan bagi masa depan Indonesia.”
Ada peristiwa kebudayaan yang sekadar hadir sebagai seremoni tahunan. Namun ada pula peristiwa yang menghadirkan sesuatu yang lebih dalam: ruang pertemuan gagasan, harapan, dan arah masa depan bangsa.
Perayaan Hari Musik Nasional yang diselenggarakan oleh Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Provinsi Banten pada 9 Maret 2026 di Gedung Negara Kota Serang terasa berada dalam kategori kedua.
Mengusung tema “Lantunan Musik dan Lagu sebagai Doa dari Banten untuk Keselamatan Indonesia”, perayaan ini tidak sekadar memperingati tanggal kelahiran Wage Rudolf Supratman. Ia juga menghadirkan sebuah refleksi kebudayaan bahwa musik Nusantara telah lama menjadi bahasa batin bangsa dalam menyampaikan harapan, persaudaraan, dan doa bagi masa depan negeri.
Dalam suasana bulan suci Ramadhan, ketika masyarakat Indonesia memasuki ruang kontemplasi spiritual, lantunan musik yang bergema dari Serang terasa seperti pesan yang lembut namun mendalam: bahwa dari tradisi kebudayaan Nusantara, bangsa ini terus merawat doa doanya bagi keselamatan Indonesia.

Bazar UMKM kuliner berbuka puasa dan kerajinan tangan khas Banten turut meramaikan halaman Gedung Negara Serang. Kehadiran masyarakat dalam ruang kebudayaan ini memperlihatkan bahwa musik dan seni selalu tumbuh bersama kehidupan rakyat.
Sejak sore hari halaman Gedung Negara Serang telah hidup oleh aktivitas masyarakat. Bazar UMKM kuliner berbuka puasa dan kerajinan tangan khas Banten menghadirkan suasana yang hangat dan membumi. Percakapan santai para tamu, aroma hidangan tradisional, serta kehadiran masyarakat dalam ruang kebudayaan ini memperlihatkan bahwa seni tidak pernah berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama kehidupan rakyat.
Perayaan kemudian diawali dengan penampilan kesenian tradisional Terebang Gede, musik perkusi rebana khas Banten yang telah hidup sejak masa Kesultanan Banten dan digunakan untuk mengiringi shalawat serta puji pujian kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Jawa Serang dan bahasa Arab.
Irama Terebang Gede yang berlapis menghadirkan suasana spiritual yang khas. Ia bukan sekadar musik tradisional, melainkan warisan budaya yang memperlihatkan bagaimana masyarakat Nusantara sejak lama menjadikan seni sebagai medium ekspresi religius sekaligus perekat kebersamaan sosial.
Imajinasi Kebangsaan dalam Nada
Ketika seluruh hadirin berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman, suasana Gedung Negara berubah menjadi ruang refleksi kebangsaan.
Bukan hanya para undangan yang berdiri. Hampir semua orang yang berada di kawasan gedung menghentikan aktivitasnya dan ikut berdiri dengan sikap hormat. Dalam sekejap, ruang yang sebelumnya dipenuhi berbagai kegiatan berubah menjadi keheningan yang khidmat.
Pada saat seperti itulah makna lagu kebangsaan melampaui fungsi musikalnya. Ia menjadi ruang batin tempat sebuah bangsa mengenali dirinya sendiri.

Ita Purnamasari bersama kelompok vokal religi Snada membawakan lagu Dengan Menyebut Nama Allah, menghadirkan suasana Ramadhan yang khusyuk dalam perayaan Hari Musik Nasional di Gedung Negara Serang.
Setelah itu Sulis tampil dengan sejumlah lagu populernya yang dikenal menyejukkan hati. Dalam salah satu segmen yang berkesan, Sulis berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan, menghadirkan pertemuan musikal yang memperlihatkan keindahan dialog antara lagu religi dan eksplorasi musikal yang lebih luas.

Sulis berkolaborasi dengan Dwiki Dharmawan menghadirkan lantunan lagu religi yang menyejukkan.
PAPPRI dan Ekosistem Musik Indonesia
Didirikan pada tahun 1986, PAPPRI lahir dari kesadaran para insan musik bahwa kreativitas memerlukan rumah bersama. Selama hampir empat dekade organisasi ini memainkan peran penting dalam membangun ekosistem musik nasional, mulai dari perjuangan perlindungan hak cipta dan royalti hingga penguatan profesionalisme serta pelestarian musik tradisional Nusantara.
Dalam laporan panitia, Ketua DPD PAPPRI Banten Drs. H. Muhammad Faisal S.H., M.H. menyampaikan gagasan strategis bagi pembangunan kebudayaan daerah, yakni perlunya pembangunan gedung kesenian kelas nasional di Provinsi Banten.
Gedung kesenian semacam ini bukan sekadar ruang pertunjukan, melainkan ruang lahirnya gagasan artistik, pendidikan musik, serta dialog kreatif yang memungkinkan generasi baru insan seni berkembang dengan martabat.
Ia juga mengusulkan agar nama Wage Rudolf Supratman diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Serang. Dengan menghadirkan nama tokoh tersebut dalam ruang publik, masyarakat diingatkan bahwa lagu Indonesia Raya lahir dari keberanian imajinasi seorang seniman yang membayangkan Indonesia merdeka bahkan sebelum kemerdekaan itu terwujud.
Gagasan semacam ini menunjukkan bahwa organisasi kebudayaan tidak hanya merawat karya seni, tetapi juga berperan dalam membangun ruang ruang kebudayaan dalam kehidupan masyarakat.
Semangat tersebut layak menjadi inspirasi bagi para pengurus PAPPRI di berbagai daerah Nusantara. Menggagas ruang seni, memperkuat ekosistem musik, dan memperjuangkan kehidupan kebudayaan di daerah masing masing merupakan cara nyata bagi PAPPRI untuk terus bekerja bagi bangsa.

Irjen Kementerian Kebudayaan Fryda Lucyana, Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas, dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam suasana perayaan Hari Musik Nasional di Gedung Negara Serang
Percakapan di Meja Bundar Kebudayaan
Setelah berbuka puasa, sejumlah tokoh berkumpul dalam perbincangan hangat yang berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 malam.
Percakapan mengenai perkembangan kebudayaan Indonesia mengalir di antara Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Dirjen PPK Kebudayaan Ahmad Mahendra s .
Gubernur Banten Andra Soni, Ketua Umum PAPPRI Tony Wenas, Sekretaris Jenderal PAPPRI Dwiki Dharmawan, tokoh musik nasional Chandra Darusman, serta Bendahara Umum PAPPRI Lexi M. Budiman.
Di meja lain, diskusi yang tidak kalah hangat berlangsung antara Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan Syaifullah dengan Wakil Ketua Umum PAPPRI Johnny William Maukar, Hendra S. Sinadia, Restu, Andre J. O. Sumual, Setiabudi Budi Ace, serta Berto Izaak Doko. Sejumlah tokoh musik seperti Ermy Kullit dan Ita Purnamasari turut bergabung dalam suasana akrab mengenai perkembangan musik Indonesia.
Percakapan yang mengalir di antara para tokoh tersebut menunjukkan satu kesadaran bersama bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan ekonomi, tetapi juga oleh kekuatan kebudayaannya.

Para tokoh musik nasional, pengurus PAPPRI, pejabat Kementerian Kebudayaan, dan Pemerintah Provinsi Banten dalam perayaan Hari Musik Nasional 2026 di Gedung Negara Serang.
Ia menghadirkan doa kebudayaan bagi masa depan Indonesia.





