Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Hiburan > Film Menjelang Magrib 2 Konsisten Angkat Soal Pemasungan, Siap Tayang 4 September 2025

Film Menjelang Magrib 2 Konsisten Angkat Soal Pemasungan, Siap Tayang 4 September 2025

Hiburan | 4 jam yang lalu
Editor : Natalia Trijaji

BAGIKAN :
Film Menjelang Magrib 2 Konsisten Angkat Soal Pemasungan, Siap Tayang 4 September 2025

Film Menjelang Magrib 2 Konsisten Angkat Soal Pemasungan, Siap Tayang 4 September 2025

Surabaya, Kabarindo- Setelah sukses 3 tahun lalu dengan jumlah penonton hampir 600 ribu orang, Helroad Films kembali membuat film Menjelang Magrib 2: Wanita Yang Di Rantai yang bakal tayang di bioskop pada 4 September 2025.

Film tersebut disutradarai Helfi Kardit sekaligus sebagai produser dan penulis. Ia menuturkan konsisten mengangkat tema pasung, karena ini menjadi tema utama walaupun nanti Menjelang Magrib dibuat berjilid-jilid.

“Tema pasung menjadi energi cerita sejak awal saya membuat film Menjelang Magrib. Ini berdasarkan pengalaman pribadi saya waktu tinggal di daerah Sumatera, yang melihat orang yang dipasung di sebuah rumah sebagai cara pengobatan bagi orang yang bermasalah dengan kejiwaan atau mental illness,“ ujar Helfi usai nobar pada Sabtu (30/8/2025).

Ia mengatakan, di part 2 ia makin intens dengan cerita yang lebih gelap dan mencekam. Juga menyoroti kultur, ketimpangan sosial dan ekonomi dengan latar belakang pada 1920 ketika Indonesia masih dijajah pemerintah kolonial Belanda dan masih bernama Hindia Belanda.

Helfi menambahkan, Menjelang Magrib 2 : Wanita Yang Di Rantai memiliki visi yang kuat dengan energi yang sama ketika ia membuat film Sang Martir pada 2012 dengan PH Starvision. Dari film Sang Martir, ia mendapatkan beberapa nominasi dari AIFFA (Asean International Film Festival and Award) tahun 2023 dan Festival Film Bandung sebagai nominasi penulis cerita.

Bedanya, film Menjelang Magrib bergenre horor yang tren saat ini. Menjelang Magrib yang pertama dibuat dengan docustyle yang jarang di bioskop Indonesia, dan ikut kompetisi di Molins Film Festival, Barcelona, tahun 2022. Sedangkan yang kedua dibuat normalnya feature film. Persiapan syuting selama 3.5 bulan dan lama syuting 28 hari, berlokasi di pedesaan dan sekitar kaki gunung papandayan Garut, Jawa Barat. Trailer film-nya memperlihatkan keindahan pedesaan dan suasana sepi yang mencekam pada zaman dulu, karena minim penerangan.

Production Designer, Yannie Sukarya, mengatakan setting rumah dan lainnya dibangun sesuai kelas ekonomi dan sosial pada zaman itu. Termasuk rumah tempat tinggal tokoh utama, Layla, yang tinggal dengan neneknya yang miskin, namun terlihat artistik.

“Kami membangun rumah itu dengan background Gunung Puntang dan Cikurai, Ini tantangan saya dan tim untuk membangun rumah di kaki gunung dengan cuaca esktrim yang dingin dan kadang-kadang secara tiba-tiba angin kencang,” tuturnya.

Tahayul versus ilmu pengetahuan modern

Menjelang Magrib 2 : Wanita Yang Di Rantai mengangkat isu mistis dan tahayul yang bertentangan dengan saintifik, ilmu pengetahuan modern.

“Film ini mengeksplorasi subjek trauma keluarga, isolasi dan keagamaan dengan cara yang gelap yang bakal meninggalkan kesan mendalam buat penonton,” ujar Eddie Karsito, jurnalis, aktor dan pengamat film.

Menjelang Magrib 2 : Wanita Yang Di Rantai berlatar belakang tahun 1920 pada masa STOVIA, sekolah kedokteran era Hindia Belanda yang melahirkan dokter-dokter di antaranya dari pribumi.

Cerita diawali dengan dokter yang masih muda lulusan STOVIA bernama Giandra (Aditya Zoni). Ia membaca berita di koran Javasche Courant yang ditulis oleh Rikke (Aurelia Lourdes), jurnalis pribumi keturunan Belanda, tentang seorang gadis Bernama Layla (Aisha Kastolan) di Desa Karuhun yang dipasung, karena punya masalah kejiwaan. Ia diobati oleh seorang dukun yang bertentangan dengan cara Giandra sebagai seorang dokter.

Giandra lalu berangkat ke desa tersebut yang jauh dari kota dengan naik pedati yang ditarik oleh kerbau. Sesampai di Karuhun, Giandra disambut oleh Rikke yang penasaran dengan kedatangan Giandra ke pelosok desa di kaki gunung. Rikke asli dari desa itu. Bapaknya seorang Belanda, pengusaha perkebunan, sedangkan ibunya seorang pribumi yang menjadi gundik.

Giandra menemui Layla yang tinggal bersama neneknya (Muthia Datau) dan melepaskannya dari pasungan pada malam hari. Ia meminta pada nenek Layla agar cucunya tidak dipasung lagi. Sosok Layla yang misterius dan mistis kemudian mulai meneror Giandra. Dokter ini dan Rikke ditemani anjing Rikke bernama Molly kemudian mulai mencari penyebab yang membuat Layla menjadi aneh. Ternyata Layla pernah meninggal dan hidup kembali ketika dimakamkan.

Foto: istimewa


RELATED POST


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER