Oleh: Gatot Widakdo
Hari Minggu (25/1) lalu, dunia sepak bola Indonesia kehilangan salah satu sosok terbaiknya. Dede Sulaeman, legenda yang namanya begitu lekat dengan dedikasi dan kerja keras, tutup usia meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan insan sepak bola tanah air. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang mantan pemain, melainkan hilangnya sebuah teladan tentang bagaimana cinta terhadap sepak bola bisa menjadi jalan hidup.
Sejak muda, Dede sudah menunjukkan bakat luar biasa di lapangan hijau. Ia dikenal sebagai pemain yang disiplin, ulet, dan pantang menyerah. Kariernya sebagai pesepak bola profesional menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang bermimpi menapaki jalur serupa. Dede bukan hanya bermain untuk dirinya, melainkan untuk mengangkat martabat tim dan daerah yang ia bela.
Dedikasi Dede tidak berhenti ketika ia menggantungkan sepatu. Justru setelah masa bermainnya usai, ia semakin aktif dalam membina generasi muda. Ia percaya bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan sarana membentuk karakter, disiplin, dan kerja sama. Dari lapangan-lapangan kecil hingga turnamen besar, Dede selalu hadir dengan semangat yang sama: membangun masa depan sepak bola Indonesia.
Saya pribadi pernah merasakan langsung ketajaman mata Dede dalam melihat bakat muda. Dalam proyek Liga Kompas Gramedia U14, kami bekerja sama di medio tahun 2015-2017. Saya sebagai Direktur Liga dan Dede sebagai Ketua tim pemandu bakat. Meski usia kami terpaut jauh, Dede tak pernah gengsi untuk berdiskusi.

Dede menunjukkan kejelian luar biasa dalam menilai potensi pemain belia. Ia mampu melihat bukan hanya teknik, tetapi juga mentalitas dan semangat yang kelak bisa menjadikan seorang anak sebagai bintang masa depan.
Kerja sama itu meninggalkan kesan mendalam. Dede selalu menekankan bahwa bakat tanpa kerja keras tidak akan berarti apa-apa. Ia sering mengingatkan bahwa sepak bola adalah permainan kolektif, di mana ego harus ditundukkan demi kepentingan tim. Filosofi sederhana itu ia tanamkan kepada para pemain muda, dan banyak di antara mereka kini tumbuh menjadi pesepak bola yang matang.
Di luar lapangan, Dede adalah sosok yang rendah hati. Ia tidak pernah membanggakan pencapaiannya sendiri, melainkan selalu mengangkat orang lain. Banyak rekan seprofesi yang mengenang Dede sebagai teman yang setia, pendengar yang baik, dan motivator yang tulus. Kehadirannya selalu membawa energi positif, membuat orang di sekitarnya merasa dihargai dan didukung.
Dede juga dikenal sebagai sosok yang konsisten menjaga integritas. Dalam dunia sepak bola yang kadang penuh intrik, ia tetap berdiri tegak dengan prinsip kejujuran. Ia percaya bahwa kemenangan sejati bukan hanya soal skor akhir, melainkan tentang bagaimana proses dijalani dengan sportif dan bermartabat. Nilai-nilai itu ia wariskan kepada generasi penerus.
Kepergian Dede Sulaeman meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Namun, jejaknya tetap hidup dalam setiap pemain muda yang pernah ia bimbing, dalam setiap pertandingan yang pernah ia jalani, dan dalam setiap cerita yang dituturkan oleh mereka yang mengenalnya. Warisan terbesar Dede bukanlah trofi atau medali, melainkan semangat dan nilai-nilai yang ia tanamkan.
Bagi saya, Dede bukan hanya rekan kerja, tetapi juga guru kehidupan. Dari dirinya saya belajar bahwa sepak bola adalah cermin kehidupan: penuh perjuangan, kerja sama, dan pengorbanan. Ia mengajarkan bahwa menjadi legenda bukan soal popularitas, melainkan soal dedikasi yang tidak pernah padam.
Kini, saat kita melepas kepergiannya, mari kita kenang Dede Sulaeman dengan doa dan penghormatan. Semoga semangatnya terus hidup dalam setiap anak yang berlari di lapangan, dalam setiap pelatih yang membimbing dengan hati, dan dalam setiap insan sepak bola yang mencintai permainan ini. Selamat jalan, Dede. Jejakmu akan selalu abadi dalam sejarah sepak bola Indonesia.





