Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Berita Utama > Ceramah JK Soal Poso-Ambon adalah Fakta Bukan Doktrin, Berikut Kesaksian Para Tokoh Agama!

Ceramah JK Soal Poso-Ambon adalah Fakta Bukan Doktrin, Berikut Kesaksian Para Tokoh Agama!

Berita Utama | 1 jam yang lalu
Editor : Orie Buchori

BAGIKAN :
Ceramah JK Soal Poso-Ambon adalah Fakta Bukan Doktrin, Berikut Kesaksian Para Tokoh Agama!

KABARINDO, JAKARTA — Polemik yang muncul dari ceramah Wakil Presiden ke-10 dan 12 Jusuf Kalla (JK) di lingkungan Masjid Universitas Gajah Mada (UGM)  terkait tragedi Poso dan Ambon mendapat klarifikasi langsung dari sejumlah tokoh agama lintas iman. 

Dalam pertemuan di JS Luwansa Hotel, Selasa (21/4/2026), para tokoh dari Maluku dan Poso menegaskan bahwa pernyataan JK merupakan paparan fakta sosiologis, bukan ajaran teologis atau penistaan agama.

Mantan Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku, John Chr Ruhulessin, menegaskan bahwa apa yang disampaikan JK semata-mata merekam realitas konflik yang pernah terjadi di Maluku.

Ceramah JK Soal Poso-Ambon adalah Fakta Bukan Doktrin, Berikut Kesaksian Para Tokoh Agama!

“Apa yang dikemukakan Pak JK dalam ceramahnya menyangkut fakta sosiologis di Maluku dan Poso. Beliau tidak pernah membicarakan doktrin agama. Itu adalah realitas yang kami alami sendiri di lapangan,” ujar Ruhulessin.

Ia menambahkan, konflik yang terjadi saat itu justru memperlihatkan bagaimana agama kerap dijadikan legitimasi kekerasan, bukan sebagai ajaran yang murni.

“Agama waktu itu dipakai sebagai legitimasi kekerasan. Itu fakta yang tidak bisa kita ingkari. Karena itu, pernyataan Pak JK sama sekali tidak bermaksud menista agama,” tegasnya.

Senada, tokoh Kristen Poso, Rinaldy Damanik, menyebut ceramah JK sebagai refleksi jujur atas realitas pahit konflik, bukan pernyataan teologis.
“Itu bukan doktrin, melainkan analisis sosiologis. Bahkan saya sendiri mengalami, bagaimana saat konflik orang merasa membunuh atau terbunuh akan masuk surga. Itu benar-benar terjadi,” ungkap Damanik.

Ceramah JK Soal Poso-Ambon adalah Fakta Bukan Doktrin, Berikut Kesaksian Para Tokoh Agama!

Ia juga mengapresiasi peran JK dalam proses perdamaian di Poso yang membuka jalan dialog di tengah konflik yang berkepanjangan.

“Pak JK memberi pilihan yang sangat tegas: lanjut konflik atau memilih damai. Itu yang akhirnya menyadarkan kami. Tidak ada yang menang dalam konflik, semua hancur,” ujarnya.

Damanik mengajak pihak-pihak yang mengkritik pernyataan JK untuk memahami konteks sejarah secara utuh.

“Kalau ingin menilai, pelajari dulu kasusnya. Tanyakan kepada kami di Poso dan Ambon. Jangan melihat sepotong-sepotong,” katanya.

Dari kalangan Muslim Poso, tokoh agama Sugiyanto Kaimuddin juga menegaskan bahwa apa yang disampaikan JK merupakan fakta lapangan yang terjadi pada masa konflik 1998–2000.

Ceramah JK Soal Poso-Ambon adalah Fakta Bukan Doktrin, Berikut Kesaksian Para Tokoh Agama!

“Di lapangan waktu itu, ada yang berteriak ‘Allahu Akbar’, ada yang berseru ‘Darah Yesus’. Semua dilandasi emosi, dendam, lalu dibungkus agama. Itu fakta, bukan rekayasa,” ujarnya.

Ia menyebut masyarakat Poso lintas agama telah bersepakat menolak upaya mempolitisasi ceramah JK, sekaligus menegaskan bahwa konflik telah lama selesai.

“Kami menolak jika ceramah Pak JK dipolitisasi. Konflik Poso sudah selesai, dan kami terus merawat perdamaian itu demi masa depan yang lebih baik,” tegas Sugiyanto.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa pengalaman pahit konflik harus menjadi pelajaran bagi generasi mendatang agar tidak terulang kembali.

“Itu sejarah kelam yang harus kita ceritakan agar tidak terjadi lagi. Tidak ada keuntungan dari konflik, selain kehancuran,” katanya.

Menutup pertemuan, JK menegaskan pentingnya mendengar langsung kesaksian para pelaku sejarah, sekaligus mengingatkan agar tidak ada lagi pihak yang memperkeruh suasana dengan informasi yang menyesatkan.

“Inilah suara mereka yang mengalami langsung. Kita harap ini menjadi pelajaran agar tidak ada lagi fitnah dan kegaduhan,” ujar JK.

Pertemuan tersebut menjadi penegasan bersama bahwa narasi perdamaian harus terus dijaga, serta pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi informasi, khususnya yang berkaitan dengan isu sensitif seperti agama dan konflik sosial. Foto: DMITV


RELATED POST


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER