Vegan Festival 2019; Sosialisasikan Pola Hidup Sehat Berbasis Nabati

Vegan Festival 2019; Sosialisasikan Pola Hidup Sehat Berbasis Nabati

Vegan Festival 2019; Sosialisasikan Pola Hidup Sehat Berbasis Nabati

Mulai menjadi tren di masyarakat dan salah satu pola makan untuk diet

Surabaya, Kabarindo- PT Hardayawidya bekerja sama dengan Graha Indonesia Vegetarian Society (IVS) dan Vegan Society of Indonesia (VSI) menyelenggarakan Vegan Festival bertema Nusantara di Grand City Exhibition Hall selama Kamis-Minggu, 17-20 Januari 2019.

Menurut Hendra Purnama, Ketua Panitia Vegan Festival 2019, event tersebut menyambung kesuksesan Helvi Expo yang sudah berlangsung 8 tahun. Ini merupakan event nasional yang telah masuk dalam program tahunan pemerintah dan didukung banyak pihak.

Kegiatan tersebut diikuti oleh banyak tenant mitra IVS dan diisi berbagai acara antara lain talk show, bazar produk dan makanan vegan. Diharapkan event ini dikunjungi oleh masyarakat luas dengan total pengunjung sekitar 30.000 orang.

Hendra menjelaskan, Vegan Festival merupakan event berskala nasional yang bertujuan menyosialisasikan pola hidup sehat berbasis nabati (vegan) dan gerakan ramah lingkungan untuk mengurangi efek global warming dan climate change.

Di Indonesia, khususnya di Surabaya, konsep pola hidup sehat berbasis nabati mulai menjadi tren tersendiri di masyarakat, menjadi salah satu pola makan untuk diet dan telah diterapkan di beberapa sekolah.

“Secara perlahan, banyak orang telah beralih menjadi vegan dengan tidak mengonsumsi makanan dan minuman serta menggunakan produk yang berasal dari hewani,” ujar Hendra.

Dengan menjadi vegan, kita ikut serta mengurangi dampak kerusakan Iingkungan, efek global warming dan menjaga kesehatan kita. Menurut The United Nations, perdagangan daging merupakan salah satu dari dua atau tiga faktor utama dalam kontribusi masalah lingkungan yang serius dalam skala lokal maupun global.

Ini karena limbah dari industri peternakan bisa mencemari lapisan tanah dan air dengan kelebihan unsur hara, zat kimia perindustrian, obat-obatan hewan, antibiotlk, logam dan berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus dan parasit. Sektor peternakan juga merupakan faktor utama penyebab penggundulan hutan tropis untuk lahan merumput ternak, penyebab erosi daratan dunia dan meluasnya pembentukan gurun pasir.

Keadaan ini diperburuk dengan kenyataan 70% air dunia digunakan untuk konsumsi ternak dan aktivitas pencucian di rumah jagal. Pola makan hewani atau konsumsi daging juga dapat berdampak buruk bagi kesehatan kita. Banyak penelitian menyebutkan, timbulnya penyakit-penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, stroke, hipertensi, kanker, diabetes melitus, obesitas dan osteoporosis berkaitan dengan pola konsumsi pangan hewani yang tinggi kolesterol dan lemak jenuh.

American Dietic Association (ADA) menyimpulkan bahwa diet vegetarian dan vegan jauh lebih sehat dibanding diet yang masih mengonsumsi daging. ADA mengatakan, vegetarian mempunyai index massa tubuh, kolesterol darah dan tekanan darah yang lebih rendah. Selain itu, resiko kematian akibat penyakit jantung, diabetes tipe 2, kanker prostat dan usus pada vegetarian jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang mengonsumsi daging.

“Dengan melihat fenomena tersebut, kami sadar perlunya dilakukankan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang pentingnya pola hidup sehat berbasis nabati dan gerakan ramah lingkungan untuk mengurangi efek global warming dan climate change,” ujar Hendra.

Penulis: Natalia Trijaji