Shangri-La Surabaya Gandeng Yunita Kosasih; Tampilkan Fashion Sambut Festival Kue Bulan

Shangri-La Surabaya Gandeng Yunita Kosasih; Tampilkan Fashion Sambut Festival Kue Bulan

Shangri-La Surabaya Gandeng Yunita Kosasih; Tampilkan Fashion Sambut Festival Kue Bulan

Tampilkan 10 busana yang memadukan unsur etnik Indonesia dan Cina

Surabaya, Kabarindo- Shangri-La Surabaya berkolaborasi dengan desainer Yunita Kosasih telah menggelar fashion show dalam rangka menyambut Festival Kue Bulan mulai 8 Agustus - 24 September 2018.

Festival Kue Bulan dirayakan setiap tanggal 15 bulan ke-8 menurut penanggalan Imlek. Perayaan tahun ini jatuh pada 24 September saat bulan purnama bersinar terang paling bulat dan paling indah dilihat. Biasanya masyarakat berkumpul bersama keluarga dengan makan kue bulan sambil menikmati cahaya bulan yang indah.

Menurut Executive Communications Manager Shangri-La Surabaya, Fajar Mulya, festival tahun ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pihaknya menggandeng Yunita untuk menghadirkan koleksi busana yang dirancang dalam rangka festival tersebut.

Yunita memulai karir sebagai perancang busana setelah lulus dari Arva School of Fashion. Selama rentang karir yang dijalani, ia telah mengikuti berbagai event fashion, diantaranya Surabaya Fashion Parade, Bali Fashion Week, Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Week. Saat ini ia memiliki brand YUNITAKOSASIH untuk busana rancangannya.

Di acara fashion tersebut, para model mengenakan busana koleksi Yunita yang didukung oleh make-up Bobbi Brown dan aksesoris dari Deddy Accessories. Para model mengenakan hair do berbentuk bunga yang cantik dengan anting panjang menjuntai model tussel yang sedang tren.

Yunita menuturkan, ia menghadirkan koleksi busana terbaru yang terinspirasi dari legenda Cina yang terkenal, kisah Chang’e dan Hou Yi. Mereka adalah sepasang suami istri pada zaman dulu kala yang kemudian terpisah setelah Chang’e menelan pil keabadian sehingga kemudian melayang ke bulan dan menjadi dewi bulan. Masyarakat percaya, saat bulan bulat penuh dan bersinar terang, konon tampak bayangan Dewi Bulan.

Yunita menampilkan 10 busana yang memadukan unsur etnik Indonesia dan Cina. Ia mengatakan sengaja memadukan kedua unsur tersebut untuk menunjukkan kecintaannya pada budaya Indonesia sekaligus menghargai tradisi perayaan Kue Bulan yang sudah berlangsung turun temurun.

Kecintaan Yunita dan budaya Indonesia ditunjukkan pada kain lurik yang digunakan sebagai bahan busana rancangannya dipadu bahan lain seperti silk, satin atau jacquard. Sedangkan unsur etnik Cina tampak pada pengaplikasian kerah Cheongsam yang menjadi ciri khas gaun Cina.

Busana-busana tersebut dalam warna-warna lembut ivory, peach, silver dan champagne, berbentuk A-line dan H-line yang terdiri dari two pieces atasan dan bawahan sehingga bisa dipadu-padankan. Di bagian dada dihiasi bordiran cantik diantaranya bermotif perempuan dan mega mendung. Sedangkan di pinggang melingkar obi hitam dengan tali biru melingkar di tengahnya.

“Obi ini bisa membantu membentuk tubuh tampak ramping bagi yang gemuk dan tampak berisi bagi yang agak kurus,” ujar Yunita.

Ia mengatakan, koleksi tersebut bisa digunakan oleh wanita berusia 30 tahun ke atas untuk menghadiri acara-acara seperti pesta cocktail, dining dan semacamnya.

Penulis: Natalia Trijaji