Sarung Mangga Punya Sarong; Padukan Tenun & Batik di Setiap Koleksi

Sarung Mangga Punya Sarong; Padukan Tenun & Batik di Setiap Koleksi

Sarung Mangga Punya Sarong; Padukan Tenun & Batik di Setiap Koleksi

Mulai garap pasar busana muslimah sejak 2017

Surabaya, Kabarindo- Brand Sarung Mangga meluncurkan kampanye fashion wanita dengan merk Sarong di atrium Tunjungan Plaza 3 pada Sabtu (27/4/2019). Kampanye ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kartini, HUT Surabaya yang jatuh pada bulan Mei serta menyambut Ramadhan dan Lebaran.

Peluncuran tersebut dihadiri oleh Arumi Emil Dardak, istri Emil Dardak, Wakil Gubernur Jatim. Ia mengatakan, dulu sarung identik dengan laki-laki karena biasanya dikenakan laki-laki untuk sholat atau ke masjid. Seiring perkembangan zaman, sarung bisa dijadikan busana pria, bahkan kini juga bisa dijadikan busana wanita yang bagus dan menghasilkan tampilan yang cantik.

Arumi berharap hal itu bisa terus dikembangkan oleh para desainer yang inovatif, sehingga busana dari sarung disukai oleh masyarakat luas, termasuk anak muda dan kaum wanita.

Menurut Emma Bawazeer, Creative Director Sarong, sarung merepresentasikan perpaduan budaya Timur Tengah dan Indonesia. Ada kesamaan budaya. Pada zaman dulu, para pedagang dari Yaman maupun masyarakat tradisional Indonesia kerap menggunakan sarung untuk keseharian.

“Sarung berasal dari Timur Tengah yang dipakai sehari-hari oleh kalangan pria. Ketika bangsa Arab datang ke Indonesia untuk berdagang, ternyata rakyat Indonesia juga sudah memakai sarung. Dari sinilah terjadi akulturasi budaya sarung,” ujarnya.

Perbedaannya terletak pada aksen sarung. Aksen sarung dari Timur Tengah adalah tenun, sedangkan aksen sarung dari Indonesia adalah batik. Karena itu, Sarung Mangga memadukan tenun dan batik pada koleksinya.

Emma mengatakan, Indonesia merupakan satu-satunya negara di dunia yang perkembangan fashion sarungnya paling pesat. Hal ini terlihat pada banyaknya brand sarung di Indonesia.

Ia menambahkan, berkembangnya tren busana muslimah di lndonesia mendorong Sarung Mangga untuk memasuki pasar ini. Mengusung brand Sarong, Sarung Mangga mulai menggarap pasar busana muslimah sejak 2017.

“Kita mulai menggarap sarung for fashion sebenarnya sejak 2015 dengan meluncurkan busana untuk pria. Kemudian pada 2017, kami meluncurkan busana muslim untuk wanita dan responnya positif. Kami memakai lini brand Sarong, karena ingin fokus dan menjadi yang pertama meluncurkan sarung for fashion,” jelas Emma.

Emma tidak khawatir bersaing dengan brand-brand lain, karena busana muslim milik Sarong menggunakan kain berbeda dengan sarung, namun tetap beraksen sarung.

“Tidak semua orang mau memakai busana muslim dari bahan sarung. Produk kami menggunakan bahan yang berbeda dengan bahan sarung, tapi tidak meninggalkan aksen sarung itu sendiri,” ujarnya.

Untuk memenuhi kebutuhan penggunaan, Sarong menawarkan busana muslim untuk berbagai keperluan mulai dari pakaian sehari-hari hingga untuk ke pesta. Untuk itu, Sarung Mangga berkolaborasi dengan desainer Gita Orlin dan Niken Larasati, founder Giyomi.

Sarong menghadirkan looks yang mengangkat sisi etnik sarung dan modesty yang tetap cantik dan anggun tanpa menghilangkan unsur syar’i dari busana muslim yang seharusnya.

Penulis: Natalia Trijaji