Mercure Surabaya Ajak Veteran & Siswa SD; Berbagi Cerita & Berdonasi

Mercure Surabaya Ajak Veteran & Siswa SD; Berbagi Cerita & Berdonasi

Mercure Surabaya Ajak Veteran & Siswa SD; Berbagi Cerita & Berdonasi

Berbagi cerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan, berdonasi untuk korban gempa Lombok dan menanam bibit pohon

Surabaya, Kabarindo- Mercure Grand Mirama Surabaya mengajak beberapa veteran perang dan para siswa SD Muhammadiyah 8 Surabaya untuk berkumpul, berbagi cerita dan berdonasi bagi para korban gempa di Lombok.

Menurut Maya Puspita, Humas Mercure Grand Mirama Surabaya, kegiatan tersebut diadakan dalam rangka memperingati Hari Veteran Nasional yang jatuh pada 10 Agustus 2018 dan menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73.

“Kami adakan kegiatan ini untuk merangkul para veteran dan berkumpul bersama para siswa. Para veteran bisa berbagi cerita kepada para siswa yang merupakan generasi milenial tentang perjuangan mereka dulu dalam mewujudkan kemerdekaan. Para siswa juga kami ajak untuk berdonasi bagi para korban gempa Lombok,” ujarnya pada Sabtu (11/8/2018).

Sugito Adhi, General Manager Mercure Grand Mirama Surabaya, menambahkan pihaknya senang bisa mengadakan kegiatan tersebut dan berkumpul bersama mereka. Pihaknya ingin menularkan semangat juang para veteran serta cinta tanah air, lingkungan dan sesama kepada para siswa.

Tiga veteran perang, Koepiyono, Wasito dan Drajat, bercerita tentang perjuangan mereka selama masa penjajahan. Anak-anak mendengarkan dengan antusias.

“Dulu semasa kecil, kami sudah dilibatkan untuk berperang. Waktu itu kami masih di Sekolah Rakyat, kalau sekarang sebutannya SD. Dulu itu peluru disebut mimis. Jadi kalau ada yang teriak mimis!, kami harus siap,” tutur Koepiyono, salah satu Veteran.

Para siswa juga diajak untuk mengumpulkan botol plastik air mineral yang hasil penjualannya akan didonasikan kepada korban gempa di Lombok. Pada kesempatan tersebut juga dibagikan 500 bibit tanaman kepada siswa untuk ditanam kembali.

Seorang siswi, Aliya, mengaku senang dengan kegiatan tersebut. “Kita bisa mendengarkan cerita dari eyang-eyang pejuang. Juga diajak menanam kembali bibit tanaman. Kita tidak bisa berjuang seperti eyang-eyang dulu, tapi bisa berjuang untuk lingkungan dan turut membangun negara,” ujarnya.

Penulis: Natalia Trijaji