Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Iptek > Scam Mengintai THR, Jangan Asal Klik

Scam Mengintai THR, Jangan Asal Klik

Iptek | 1 jam yang lalu
Editor : Natalia Trijaji

BAGIKAN :
Scam Mengintai THR, Jangan Asal Klik

Scam Mengintai THR, Jangan Asal Klik

KABARINDO, SURABAYA – Saat pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention terdepan di Indonesia, meluncurkan Public Service Announcement (PSA) bertajuk “Jangan Asal Klik” untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan digital.

Melalui kampanye ini, VIDA mendorong literasi anti-scam khususnya pada periode ketika aktivitas digital masyarakat meningkat dan kerap dimanfaatkan oleh pelaku penipuan, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat pelindungan masyarakat di ruang digital.

Pada kesempatan yang sama, VIDA meluncurkan whitepaper bertajuk VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook. Whitepaper ini membahas bagaimana lonjakan scam kerap terjadi pada periode pencairan dana secara massal, khususnya saat momen pencairan THR. Pada momen ini, aktivitas pembayaran digital masyarakat meningkat tajam, sehingga menciptakan kondisi “ramai transaksi” yang kerap dimanfaatkan pelaku untuk menyusupkan modus penipuan yang terlihat meyakinkan.

Di luar periode THR, whitepaper ini juga menyoroti pola berulang yang disebut “payday pulse”, yaitu peningkatan risiko yang muncul hampir setiap bulan pada rentang tanggal 25–28, selaras dengan periode pencairan gaji. Pola ini memperkuat temuan bahwa scam semakin terjadwal dan mengikuti momentum nasional.

Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi RI, Teguh Afriyadi, mengatakan tren penipuan saat ini sangat dipengaruhi momentum dan kerap dipicu kebiasaan pengguna yang kurang melakukan verifikasi.

“Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum, biasanya menjelang Lebaran, Natal dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya,” ujar Teguh.

Komdigi juga mencatat bahwa penipuan kerap terjadi melalui aplikasi pesan dan media sosial. Berdasarkan data CekRekening.id pada periode 2017–31 Oktober 2025, total laporan aduan terkait nomor rekening bank dan nomor e-wallet yang terindikasi digunakan dalam penipuan paling banyak muncul melalui aplikasi pesan, dengan akumulasi 396.691 laporan. Sementara itu, kasus yang terjadi di media sosial berada di urutan berikutnya dengan total 281.050 laporan. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku kerap memanfaatkan kanal yang paling dekat dengan keseharian masyarakat, sehingga pesan, tautan, maupun dokumen yang terlihat “wajar” dan “mendesak” lebih mudah dipercaya.

Kondisi tersebut kerap terjadi karena masih adanya kecenderungan sebagian masyarakat untuk langsung merespons tanpa verifikasi saat menerima pesan, tautan atau dokumen. Karena itu, kampanye “Jangan Asal Klik” mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan mengecek apakah link maupun dokumen yang dibagikan terindikasi mencurigakan sebelum mengambil tindakan.

Verifikasi

Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, menambahkan bahwa penipuan digital kini tidak lagi dilakukan secara individual, melainkan semakin terorganisir dan berkembang layaknya sebuah industri. Karena itu, garda utama perlindungan tetap dimulai dari kesadaran diri: jangan mudah tergiur, jangan terburu-buru saat menerima pesan atau dokumen, dan biasakan stop, cerna, verifikasi, baru bertindak.

Kampanye “Jangan Asal Klik” selaras dengan peringatan dari Komdigi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) terkait peningkatan modus penipuan dokumen digital, impersonasi serta social engineering berbasis AI. Data OJK juga mengungkap kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp.9,1 triliun berdasarkan lebih dari 400 ribu laporan selama November 2024 hingga akhir 2025, dengan modus mulai dari phishing, investasi bodong, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.

Kampanye ini juga tentang menjaga kepercayaan dan melindungi keluarga dari risiko finansial akibat scam. Karena itu, VIDA mengajak masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih aman:

* Jangan klik link dari pesan tidak dikenal, apalagi yang menciptakan rasa panik

* Jangan bagikan OTP, PIN atau kode verifikasi dalam bentuk apa pun

* Waspadai file APK atau dokumen yang meminta instalasi aplikasi tambahan

* Verifikasi ulang setiap permintaan transfer dana, meski mengatas-namakan orang terdekat

Victor juga menekankan bahwa kebiasaan verifikasi adalah langkah sederhana yang dampaknya besar, terutama pada periode pencairan THR. Di periode pencairan THR, satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat.

“Karena itu, ‘Jangan Asal Klik’ kami kemas dalam format video edukatif yang ringan dan mudah dipahami, menargetkan lintas generasi, terutama generasi muda yang aktif di media sosial dan aplikasi pesan singkat. Kami percaya kesadaran publik adalah pondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital. Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan,” ujar Victor.

Di sisi teknologi, VIDA menerapkan pendekatan multi-layer defense, seiring password tidak lagi memadai sebagai satu-satunya lapisan keamanan. VIDA menghadirkan solusi autentikasi tambahan seperti FaceToken dan PhoneToken sebagai lapisan verifikasi berbasis biometrik dan perangkat untuk membantu menekan risiko penyalahgunaan akun dan memperkuat keamanan akses digital.

Foto: ilustrasi-istimewa


RELATED POST


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER