Komunitas Nol Sampah; Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Tas Plastik

Komunitas Nol Sampah; Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Tas Plastik

Komunitas Nol Sampah; Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Tas Plastik

Indonesia penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia

Surabaya, Kabarindo- Komunitas Nol Sampah menjadi salah satu pendukung dalam kegiatan bersepeda Coast to Coast yang diadakan Shangri-La Hotel Surabaya dan Shangrila Jakarta pada 5-8 Desember 2019.

Tim dari dari Shangri-La Jakarta akan bersepeda sejauh 366 km dari Jakarta melewati rute Pamanukan dan Cirebon, sedangkan tim dari Surabaya akan melalui rute sejauh 395,6 km melalui Cepu dan Semarang. Kedua tim akan bertemu di tengah, di Kota Pekalongan.

Kegiatan tersebut mengusung misi sosial dan lingkungan, khususnya berkaitan dengan sampah plastik. Sepanjang rute yang dilalui, tim dari Shangri-La Surabaya maupun Jakarta akan mengunjungi beberapa sekolah. Tim Shangri-La Surabaya akan mengunjungi SDN Baureno 1 Bojonegoro, SDN 3 Mijen Demak, SDN Sidorejo 1 Batang dan SD Baitussalam 2 Pekalongan. Dalam kunjungan-kunjungan tersebut, tim dari Shangri-La akan memberikan edukasi kepada para siswa mengenai kesadaran akan bahaya penggunaan plastik sekali pakai. Materi edukasi didukung oleh komunitas Nol Sampah dan disesuaikan dengan usia siswa.

Founder Nol Sampah, Hanie Ismail, mengimbau semua pihak termasuk masyarakat untuk mengurangi penggunaan tas plastik atau yang dikenal sebagai tas kresek. Ia mengatakan, Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia.

Hanie menyebutkan, timbunan sampah nasional mencapai 184 ribu ton per hari. Sampah ini berasal dari rumah tangga sebanyak 48% dan pasar tradisional 24%. Sampah yang dihasilkan Indonesia terdiri dari 60% sampah organik, 14% sampah plastik dan 9% sampah kertas.

“Meski persentase sampah plastik relatif kecil, namun dampaknya sangat besar terhadap lingkungan. Sampah plastik membutuhkan waktu 100-500 tahun untuk hancur dan menjadi mikro plastic yang tetap mencemari lingkungan, termasuk sungai dan lautan. Jika termakan ikan dan kita konsumsi, maka kita juga menerima dampaknya yang membahayakan kesehatan,” ujarnya.

Hanie menceritakan tentang seekor ikan paus yang mati di perairan Wakatobi beberapa waktu lalu dan setelah dibedah, terdapat banyak sampah plastik di dalam perutnya, di antaranya sandal plastik dan tas kresek. Di kawasan Wonorejo, Surabaya, juga ada sejumlah burung yang tersangkut sampah plastik.

Hanie mengatakan, Nol Sampah tak henti-hentinya mengajak masyarakat terutama ibu-ibu yang berbelanja di pasar untuk mengganti tas kresek dengan tas kain yang bisa digunakan berulang kali. Komunitasnya gencar menyuarakan tindakan reduce, reuse dan recycle sampah plastik.

“Ayo kita kurangi dulu penggunaan plastik, kemudian bijak dalam menggunakan plastik, selanjutnya mendaur ulang sampah plastik. Ini demi terjaganya lingkungan dan kebaikan kita sendiri,” ujarnya.

Penulis: Natalia Trijaji