ITS Produksi Face Shield Mask; Bantu Penuhi Kebutuhan APD Tenaga Medis

ITS Produksi Face Shield Mask; Bantu Penuhi Kebutuhan APD Tenaga Medis

ITS Produksi Face Shield Mask; Bantu Penuhi Kebutuhan APD Tenaga Medis

Dapat memproduksi 500-1.000 item setiap hari

Surabaya, Kabarindo- Jumlah Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis yang tak mencukupi, menggugah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya bersama Asosiasi Printer 3D Indonesia memproduksi Face Shield Mask.

Djoko Kuswanto ST, Kepala Laboratorium Integrated Digital Design Departemen Desain Produk Industri ITS, inventor yang juga Koordinator Asosiasi Printer 3D Indonesia chapter Jatim, mengatakan Face Shield Mask dipilih karena mudah dibuat dengan estimasi waktu yang cepat. Berdasarkan data dari Laboratorium Integrated Digital Design ITS, saat ini kebutuhan masker mencapai 270.000 buah. Face Shield Mask dapat diproduksi 500-1.000 item setiap hari.

Djoko menjelaskan, ada dua jenis prosedur produksi untuk efisiensi kerja. Opsi pertama metode 3D printing. Cara kerjanya dengan menata bahan berupa lelehan, sehingga menjadi benda yang dikonsepkan. Kelebihannya, barang dapat terproduksi lebih detail sesuai yang dirancang. Namun untuk kondisi mendesak saat ini, 3D Printing butuh waktu produksi yang lama. Maka CNC Router menjadi opsi untuk mengatasinya.

CNC Router merupakan mesin yang dilengkapi dengan digital signal processing (DSP) dalam proses memotong atau mengukir suatu bahan tertentu. Sistem kerja dengan CNC Router adalah substractive atau dengan melakukan pengurangan. Dari bahan yang utuh, bahan diukir sedemikian rupa sehingga menjadi produk yang diinginkan.

Djoko menyebutkan, satu CNC Router memiliki kecepatan produksi hampir sama dengan 200-400 printer sekaligus. Karena itu dipilih sebagai cara yang diprioritaskan. Dengan menggunakan CNC Router, bekerja sama dengan Laboratorium Protomodel ITS, kecepatan produksi Face Shield Mask diharapkan dapat segera memenuhi kebutuhan, khususnya di Jatim dengan permintaan yang mencapai 35.000 buah.

Djoko yang juga pendiri Rumah Prototesis Indonesia, mengatakan digunakan dua jenis plastik untuk membuat masker darurat ini. Yaitu plastik High Density Polyethylene (HDPE) dan Polyethylene terephthalate (PET).

Masker darurat ini harus diproduksi dengan memperhatikan keamanan bahan yang digunakan. Kedua jenis plastik tersebut aman digunakan termasuk untuk kepentingan medis. Pasalnya, dua jenis plastik tersebut juga dapat digunakan sebagai pengemas bahan pangan. Selain itu, plastik HDPE dan PET mudah ditemukan di pasaran.

Djoko menambahkan, Face Shield Mask hanya diperuntukkan bagi lembaga klinis yang membutuhkan, tanpa biaya, namun pendistribusiannya tidak sembarangan. Ada tim yang menangani, terbagi menjadi empat divisi, yaitu pendataan permintaan, produksi, perakitan dan distribusi. Permintaan yang akan diproses adalah yang mengikuti alur pemesanan.

“Kami tidak ingin ada kesalahan penyaluran kepada yang kurang membutuhkan,” tegasnya.

Lembaga klinis yang ingin mengajukan permintaan harus menyiapkan surat permintaan resmi dan melampirkannya bersama formulir online yang disediakan. Detail dari prosedur dapat diketahui melalui narahubung tim penggerak produksi Face Shield Mask, termasuk Djoko.

Sebanyak 20 mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menjadi mitra produksi APD ini. Djoko mempersilakan siapa saja yang ingin menjadi relawan dalam proses produksi tersebut. Akan ada pelatihan bagi relawan, sehingga social distancing tidak menjadi halangan untuk berupaya mencapai target produksi yang tinggi.

Djoko berharap, dengan banyak menjalin kerja sama, produk yang perlu disterilisasi dan uji kelayakan ini semakin bermutu dan terjamin.

Penulis: Natalia Trijaji