Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Iptek > Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA

Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA

Iptek | 3 jam yang lalu
Editor : Natalia Trijaji

BAGIKAN :
Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA

Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kini Lebih Personal Berbasis DNA

KABARINDO, SURABAYA - Gaya hidup sehat kini semakin personal. Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah food genomics atau nutrigenomik, metode nutrisi yang menyesuaikan pola makan berdasarkan profil DNA individu. Pendekatan ini dinilai mampu menjawab keterbatasan diet konvensional yang kerap memberikan hasil berbeda pada setiap orang.

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, dimana rekomendasi asupan disesuaikan dengan kode genetik masing-masing individu. Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan, mulai dari metabolisme hingga potensi intoleransi, tidak sama pada setiap orang.

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, dokter spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat.

Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran terhadap pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat tiap individu. Di Indonesia, pemeriksaan food genomics masih terbatas, meski penelitian terkait hubungan gen dan nutrisi sudah cukup banyak.

Tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur dengan waktu analisis sekitar 1–2 minggu. Hasilnya kemudian diinterpretasikan dokter gizi klinik untuk memberikan rekomendasi nutrisi personal, termasuk pengaturan makronutrien, vitamin tertentu seperti vitamin D, lemak esensial omega-3, hingga rekomendasi olahraga.

“Secara teori, hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Tetapi pada penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres dan aktivitas fisik. Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” papar dr. Davie.

Panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran terkait potensi alergi atau intoleransi makanan, sehingga membantu individu menghindari asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

dr. Davie menegaskan, food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Masyarakat tetap dapat memulai langkah sederhana melalui pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang.

Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu modalitas penunjang gaya hidup sehat yang lebih presisi, dengan potensi integrasi bersama teknologi AI, big data dan perangkat wearable.

“Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam 10 tahun ke depan,” ujar dr. Davie.

Foto: istimewa


RELATED POST


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER