ITS Latih Penyandang Tunanetra; Operasikan Mesin Cetak Braille

ITS Latih Penyandang Tunanetra; Operasikan Mesin Cetak Braille

ITS Latih Penyandang Tunanetra; Operasikan Mesin Cetak Braille

Diikuti 15 siswa-siswi tunanetra dari dua SLB di Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Fakultas Teknologi Elektro (FTE) memberikan pelatihan kepada anak-anak penyandang tunanetra di Indonesia di bidang literasi dengan tema Workshop on Using Braille Embosser and Text Editor Software for the Blind and Visual Impairment Student.

Workshop ini bekerja sama dengan Motorolla Solutions Foundation (MSF) yang berlangsung selama empat hari di Gedung Departemen Teknik Elektro ITS.

Dekan FTE ITS, Dr Tri Arief Sardjono, menjelaskan workshop terselenggara berkat bantuan dari MSF yang bermarkas di Amerika Serikat. MSF merupakan lembaga sosial yang didirikan Motorolla Solutions.

Ia menuturkan, tidak mudah untuk mendapatkan pendanaan dari MSF. Ia bersama tim harus melalui proses seleksi yang cukup panjang dan rumit. Namun ia bersama tim riset mesin cetak Braille ITS tidak patah semangat. Setelah melewati tim reviewer dari Motorolla yang berasal dari salah satu Non-Government Organization (NGO) di AS, hasilnya hanya ada dua dari Indonesia yang berhasil mendapatkan pendanaan dari MSF yaitu ITS dan Yayasan Pintar Pemersatu Bangsa.

“Bila ITS soal pelatihan mesin cetak braille, Yayasan Pintar Pemersatu Bangsa ini merancang program pelatihan untuk mitigasi bencana banjir di Jakarta,” ujarnya.

Setelah melewati seleksi dan review berkas dari NGO dari MSF tersebut, ITS juga berhak mendaftarkan diri untuk mendapatkan pendanaan dari lembaga sosial lainnya di seluruh AS. Padahal untuk bisa mendapatkan hak tersebut, harus melalui seleksi yang ketat.

“Ini salah satu langkah ITS untuk bergerak di bidang sosial dalam skala internasional, karena kita tahu dalam proyek skala besar seperti pengembangan mesin cetak Braille ini tak bisa mengandalkan dari pendanaan lokal saja,” ujarnya.

Workshop diikuti 15 siswa-siswi tunanetra dari dua Sekolah Luar Biasa (SLB) di Surabaya yaitu SLB Tipe A Yayasan Pendidikan Anak Buta (SLB A YPAB) di Jl. Tegalsari, Surabaya, dan SLB A YPAB di Jl. Gebang Putih, Surabaya.

Tri sebagai salah satu anggota Tim Riset Braille ITS menjelaskan, program ini merupakan komitmen ITS dalam mendukung anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunanetra. ITS sudah mengembangkan printer Braille sejak 2012 dengan mengembangkan mesin cetak Braille dari Norwegia. Hingga kini ITS sudah bisa memproduksi secara utuh prototipe mesin printer Braille sendiri dengan kapasitas cetak 400 karakter per detik.

Tri menambahkan, salah satu kendala dalam pembuatan prototipe mesin cetak Braille adalah pada harga komponen mesin yang tidak murah. Untuk membuat satu prototipe mesin cetak Braille menghabiskan dana sekitar Rp.500 juta. Dari lima prototipe mesin cetak Braille yang sudah berhasil dibuat ITS, tiga di antaranya sudah diberikan kepada SLB di Ambon, Jayapura dan Pangkal Pinang. Pendanaannya berasal dari program Direktorat Pelayanan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Kemendikbud sejak 2012.

Wokshop tersebut memberikan pelatihan kepada para peserta bagaimana menggunakan komputer untuk menulis dan mengkonversikan tulisan latin ke dalam huruf Braille menggunakan software Mitra Netra Braille Converter (MBC). Mereka juga dilatih untuk mengoperasikan printer Braille milik ITS dan mencetak langsung tulisan mereka.

Dari program ini, ITS mengharapkan motivasi peserta akan bangkit untuk berkarya di bidang literasi atau sejenisnya yang nantinya karya mereka bisa dicetakkan di ITS dan berkasnya bisa dikirimkan secara online.

Untuk pengoperasian program di komputer, ada software atau perangkat lunak bernama JAWS (Job Access with Speech) untuk membaca layar (screen reader) yang membantu tunanetra menggunakan komputer. Ada panduan berupa suara yang menuntun mereka dalam mengoperasikan komputer dengan menggunakan software JAWS.

Dr Ir Hendra Kusuma M Eng Sc, ketua pelaksana workshop dan salah satu tim riset Braille ITS, mengatakan setiap anak memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan minat dan bakat. Mereka layak untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

Workshop ini untuk membangkitkan motivasi para peserta agar bisa berkarya dan tidak patah semangat di tengah keterbatasan mereka,” ujarnya.

Hendra memotivasi mereka bahwa ada tokoh-tokoh hebat yang tunanetra namun mampu berkarya dan menorehkan prestasi. Di antaranya penyanyi terkenal Stevie Wonder dan Stevland Hardaway Morris serta Saqib Shaikh yang menjadi software engineer di perusahaan multinasional Microsoft.

“Saat ini kami memiliki dua printer Braille di Laboratorium Departemen Teknik Elektro ITS yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh siswa-siswi ini dalam mencetak karya mereka maupun dokumen-dokumen pribadi seperti kartu nama, rekening bank dan lain-lain,” ujar Tri.

Ia menambahkan, dari hasil charity yang didapatkan ITS dari Motorolla sebesar 20 ribu dollar AS nantinya juga untuk menghasilkan satu prototipe mesin Braille untuk menambah fasilitas bagi anak-anak tunanetra.

Penulis: Natalia Trijaji