Film 11:11 Apa Yang Kau Lihat? Memotret Keindahan Laut Indonesia

Film 11:11 Apa Yang Kau Lihat? Memotret Keindahan Laut Indonesia

Lampung, Kabarindo- Film menegangkan memotret Keindahan Laut Indonesia memang sangat jarang.

Layar Production dengan film layar lebar yang bertajuk “11:11 Apa Yang Kau Lihat?”.

Fitrin Hapsari Sukainah selaku eksekutif produser mengatakan film ini akan hadir sebagai film yang bukan hanya menyajikan kengerian, tetapi juga menghadirkan estetika yang terjaga dengan cerita yang memikat.

“Film ini juga menyajikan keelokan pesona latar syutingnya,” kata Fitrin saat acara syukuran film 11:11 Apa yang Kau Lihat? di Jakarta, beberapa waktu lalu. 

Film yang mengambil latar belakang keindahan pantai Indonesia, dengan mengambil lokasi Lampung, Bali dan Jakarta ini  menggandeng Cinema Delapan dalam penggarapannya.

Tak ingin sekedar ikut-ikutan dengan mengambil genre horor, Fitrin menjamin film ini akan berbeda dengan film horor yang sudah ada. film ini dipastikan akan berbeda dan menonjolkan pariwisata Tanah Air.

“Tepatnya di film ini, akan kita sajikan horor dalam laut, yang menegangkan dan akan menguji adrenalin penonton dari awal hingga akhir cerita,” ujar Fitrin.

“Genre horor memang sedang banyak dan diminati, saat ini film-film yang muncul juga sudah mulai berkualitas dengan penonton yang semakin tinggi. Film dengan kualitas dan gambar yang semakin bagus itulah yang dicari. Penonton Indonesia saat ini juga sudah semakin pintar juga kan?,”  tambahnya.

Film ini disutradarai Andi Manoppo yang telah berpengalaman menyutradarai film horor Jailangkung dan Kuntilanak, juga didukung oleh para pemain debutan, seperti Rendy Kejaenet, Twindy Rarasati, Bayu Anggara, Fauzan Smith, Linda Johan, Toriq, dan Lady Nayoan. 

Film yang sudah memulai syutingnya di awal bulan Juli 2018 ini memang mengambil pemandangan sebagian besar di Lampung dengan berlatar belakang pemandangan pantai Lampung yang eksotis. 

Kei Ratnasari, co-eksekuif produser film 11:11, mengemukakan film yang dibuat dengan dasar riset itu juga akan menyajikan banyak adegan yang memperlihatkan betapa indah lokasi syutingnya.

”Kami sekaligus mendukung pariwisata Indonesia lewat film ini,” katanya. Andi Manoppo mengatakan, film horor petualangan itu menyajikan banyak ketegangan di bawah laut. 

Sebagai horor misteri, 11:11 bernarasi tentang petualangan empat sekawan yang berburu foto di sebuah tempat misterius di dasar laut. Menurut rencana film itu akan dirilis mulai November tahun ini.

Jalan Cerita Film
Suatu malam, tepat pukul 11:11, Galih, seorang mahasiswa arkeologi yang suka diving dan fotografi, menemukan fakta mengenai keberadaan Dewi, ibunya. Dewi hilang saat Galih masih kecil, di sebuah pulau terpencil bernama Tanjung Biru. Galih melakukan perjalanan menuju tempat tersebut bersama ketiga temannya, yaitu Ozan, Vania, dan Martin.
Setelah melalui perjalanan panjang mereka sampai di sebuah Villa di pulau Tanjung Biru. Saat menyelam itulah, mereka menemukan sebuah kapal yang karam di dasar laut. Dalam kapal, mereka menemukan sebuah artifak kuno yang menjadi petunjuk untuk mencari ibu Galih, namun artifak tersebut juga membawa bencana kepada mereka.

 Gangguan demi gangguan Siluman penjaga Tanjung Biru terjadi pada kelompok tersebut. Mampukah mereka berempat bertahan hidup dan keluar dari Tanjung Biru hidup-hidup?
Di sebuah laut di lepas pantai Tanjung Biru, bulan purnama menyinari. Tampak sebuah kapal misterius. Dua orang perampok duduk di atas kapal. Mereka melihat jam dengan gelisah. Tampak jam menunjukkan 11:11. Sekarang saatnya mereka menyelam. Tanpa mereka sadari, jam mereka berhenti berdetak di jam 11:11. Setelah mereka menyelam, mereka seperti hilang ditelan laut. Begitu pula seorang wanita bernama Dewi yang memiliki seorang anak bernama Galih, yang menjadi penjaga situs di Tanjung biru.

10 tahun kemudian...

Galih, sekarang adalah seorang mahasiswa, Galih senang mengunjungi berbagai lokasi di Indonesia untuk diving dan mendalami kecintaannya terhadap laut. Galih adalah anak dari Dewi seorang aktivis konservasi alam yang menghilang saat sedang melakukan pekerjaannya. Satu-satunya peninggalan ibu Galih yang masih tersisa, adalah sebuah Kalung etnik dengan simbol yang unik.
Galih memiliki 3 sahabat, mereka adalah MARTIN, seorang cowok tampan petualang; OZAN, yang ceroboh dan selalu ingin tahu; dan VANIA, seorang gadis vlogger yang cantik mereka memiliki hobi yang sama yaitu Diving.
Suatu hari Martin mengajak mereka ke sebuah situs misterius di daerah Tanjung Biru, berdasarkan peta yang ditemukannya. Dari sinilah petualangan ke 4 anak muda ini dimulai dengan beberapa kejadian misterius yang konon pulau tersebut, dihuni para siluman laut, hingga mereka dapat memecahkan misteri dari situs kapal di daerah Karang Hiu di kepulauan Tanjung Biru.

Menegangkan, bukan?