Ekspor Alas Kaki Indonesia Meningkat 15%; pada Triwulan I/2020

Ekspor Alas Kaki Indonesia Meningkat 15%; pada Triwulan I/2020

Ekspor Alas Kaki Indonesia Meningkat 15%; pada Triwulan I/2020

Dibandingkan periode yang sama pada 2019, industri alas kaki menggeliat di tengah pandemi

Surabaya, Kabarindo- Pada masa pandemi Covid-19 ini, terjadi perubahan yang signifikan terhadap kinerja industri alas kaki.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka dari Kementrian Perindustrian, Gati Wibawaningsih, merujuk pada data World Footwear Business Condition Survey 2020 yang menyebutkan konsumsi alas kaki dunia mengalami penurunan hingga 22,5% dan kinerja penjualan global turun hingga 74%. Daya beli masyarakat turun hingga 53% dan harga barang turun 43%.

“Lini produksi alas kaki dari kulit turun 28%, namun lini produksi sneakers justru mengalami kenaikan sebesar 42%,” ujarnya dalam acara Soft Launching Indonesia Footwear Network secara daring yang berlangsung di gedung BPIPI di Tanggulangin, Sidoarjo, pada Selasa (4/8/2020).

Data survei global dampak Covid-19 terhadap industri alas kaki pada Maret 2020 menunjukkan prediksi penurunan konsumsi alas kaki dunia sebesar 22.5%. Jika prediksi tersebut tepat, maka konsumsi alas kaki tahun ini akan turun menjadi 696 juta pasang di Amerika Utara (-21%), 908 juta pasang di Eropa (-27%) dan 2.4 miliar pasang di Asia (-20%).

Dari data prediksi tersebut, pandemi covid19 cukup berdampak sistematis terhadap industri alas kaki global, termasuk di Indonesia sebagai produsen alas kaki terbesar ke-4 dunia. Indonesia memproduksi 1,271 juta pasang alas kaki pada 2019 dan merupakan negara eksportir produk alas kaki terbesar ketiga di dunia dengan total 406 juta pasang pada 2019.

APRISINDO (Asosiasi Persepatuan Indonesia) mengatakan pandemi Covid-19 berdampak terhadap industri alas kaki nasional pada lini produksi dan distribusi. Eddy Widjanarko, Ketua APRISINDO, menyebutkan produksi secara nasional turun hingga 70% karena faktor daya beli yang melemah dan ketersediaan / keterbatasan bahan baku.

Hal ini mengakibatkan pengurangan 60%-70% tenaga kerja hingga menjelang Lebaran. Kinerja distribusi selama April-Mei juga sangat terganggu oleh PSBB di Jakarta, Bandung dan Surabaya. PSBB membuat terganggunya distribusi bertambah besar (80%), karena jaringan ritel dan penjualan alas kaki tutup.

Namun industri alas kaki tanah air masih mampu menggeliat di tengah pandemi. Ekspor alas kaki pada triwulan I/2020 naik 15% dibandingkan periode yang sama pada 2019. Ekspor didominasi oleh produk dari merk-merk ternama.

Berdasarkan data Pusdatin Kementrian Perindustrian, nilai ekspor industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki pada 2019 sebesar 5,12 miliar dolar AS. Pada periode Januari-Juni 2020 sebesar 2,81 miliar dolar AS, meningkat 9,7% dibandingkan periode yang sama pada 2019 yang hanya mencapai 2,56 miliar dolar AS.

Gati mengatakan, kondisi saat ini bisa dihadapi bersama dengan strategi yang tepat dalam melakukan adaptasi dan lebih proaktif.

Untuk mendongkrak industri alas kaki di tengah pandemi, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka melalui Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) membentuk Indonesia Footwear Network (IFN). Ini merupakan sebuah komunitas atau platform jejaring untuk pelaku industri alas kaki, bahan baku dan bahan penolong. Platform ini menjadi etalase yang menampilkan informasi pelaku usaha yang terdiri dari brand, supplier dan produsen sehingga dapat diakses oleh seluruh pelaku usaha bidang alas kaki dan produk kulit.

IFN dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh pelaku industri alas kaki di Indonesia serta berperan positif dalam memajukan industri alas kaki nasional,” ujar Gati.

Penulis: Natalia Trijaji