Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Berita Utama > PERTAMINA MEMALUKAN!

PERTAMINA MEMALUKAN!

Berita Utama | 6 jam yang lalu
Editor : Anton CH

BAGIKAN :
PERTAMINA MEMALUKAN!

Oleh : Hasyim Arsal Alhabsi, Direktur Dehills Institute

Ada sebuah adagium yang mengatakan, kepercayaan itu ibarat kaca; sekali pecah, ia tak akan pernah kembali seperti semula. Begitulah yang kini terjadi dengan Pertamina, perusahaan energi kebanggaan Indonesia, yang tengah terguncang oleh skandal memalukan. Dugaan korupsi dalam pengolahan bahan bakar minyak (BBM), yang melibatkan pengoplosan Pertalite menjadi Pertamax, bukan hanya mencoreng citra perusahaan, tetapi juga mengkhianati kepercayaan jutaan rakyat yang bergantung padanya.

BBM Oplosan dan Triliunan yang Raib

Ketika Kejaksaan Agung mengungkap bahwa dalam rentang waktu 2018 hingga 2023, Pertamina diduga mengimpor BBM dengan Research Octane Number (RON) 90 lalu mencampurnya dengan zat tertentu agar naik menjadi RON 92 atau 95, publik seolah terhenyak. Dugaan ini bukan sekadar kasus korupsi biasa, melainkan sebuah ironi besar: bagaimana mungkin perusahaan yang seharusnya menjamin ketersediaan energi bagi rakyat justru melakukan praktik kotor demi keuntungan segelintir orang?

Nilai kerugian negara yang mencapai Rp193,7 triliun bukan angka kecil. Ini bukan hanya tentang uang yang menguap, melainkan tentang dampak besar yang bisa terjadi—dari harga bahan bakar yang seharusnya lebih murah bagi rakyat, hingga kualitas BBM yang diduga telah menurun akibat praktik manipulatif ini.

Sinyal Bahaya yang Telah Lama Dirasakan

Lebih menyakitkan lagi, kasus ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba muncul tanpa tanda-tanda. Beberapa waktu lalu, masyarakat telah mengeluhkan kualitas Pertamax yang menurun. Di media sosial, keluhan itu membanjiri berbagai platform—dari pengendara yang merasa performa mesin kendaraannya memburuk, hingga bengkel yang mendapati banyak kendaraan bermasalah akibat BBM yang seharusnya berkualitas tinggi.

Kini, setelah dugaan pengoplosan ini mencuat, semua mulai masuk akal. Jika benar terjadi pencampuran, maka inilah jawaban atas keresahan masyarakat selama ini. Mereka bukan hanya telah dikelabui, tetapi juga dipaksa membayar lebih untuk sesuatu yang seharusnya berkualitas, namun justru dikorupsi sejak awal.

Pertamina, seperti yang bisa diduga, segera membantah tuduhan ini. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa produk yang mereka jual telah sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas). Ia menegaskan tidak ada praktik pengoplosan antara Pertalite dan Pertamax.

Namun, bantahan ini tidak serta-merta menghilangkan kegelisahan publik. Jika semuanya benar-benar sesuai prosedur, mengapa kualitas Pertamax sempat dipertanyakan? Mengapa isu ini mencuat bersamaan dengan dugaan korupsi yang kini diselidiki oleh Kejaksaan Agung?

Lebih dari Sekadar Skandal, Ini Adalah Penghinaan

Kasus ini bukan hanya sekadar praktik manipulasi bisnis, melainkan bentuk penghinaan terhadap rakyat. Setiap kali masyarakat mengisi bensin di SPBU, mereka melakukannya dengan keyakinan bahwa negara telah menyediakan BBM terbaik bagi mereka. Namun kini, keyakinan itu porak-poranda.

Lebih dari itu, ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan yang seharusnya dijaga dengan penuh tanggung jawab. BUMN seperti Pertamina tidak boleh dijalankan dengan prinsip kapitalisme serakah yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Perusahaan ini ada untuk rakyat, bukan untuk kepentingan mafia energi yang bersembunyi di balik tembok kekuasaan.

Saat ini, yang dibutuhkan bukan sekadar klarifikasi atau janji penyelidikan yang sering kali berakhir tanpa hasil nyata. Masyarakat menuntut transparansi, kejujuran, dan reformasi besar dalam pengelolaan energi nasional. Jika dugaan ini terbukti benar, maka pelakunya harus dihukum seberat-beratnya.

Lebih dari itu, sistem yang memungkinkan praktik kotor seperti ini harus dihancurkan. Tidak boleh ada celah bagi korupsi di sektor energi, karena ini adalah hajat hidup orang banyak. Jika Pertamina ingin kembali dipercaya, maka ini adalah momen bagi mereka untuk membuka diri, membongkar setiap praktik culas, dan membuktikan bahwa mereka masih layak mengelola energi negeri ini.

Karena satu hal yang pasti, rakyat tidak akan lagi diam. Mereka sudah lelah dibohongi, sudah cukup lama merasa dikhianati. Dan jika kepercayaan mereka terus dikecewakan, maka kehancuran Pertamina bukanlah hal yang mustahil—bukan oleh tangan rakyat, tapi oleh keserakahan mereka sendiri.


RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER