KABARINDO, TEHERAN - Di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang kian memanas, perbandingan kekuatan militer antara Iran dan Israel kembali menjadi sorotan. Dua negara ini merepresentasikan dua pendekatan berbeda dalam membangun kekuatan tempur: Iran dengan skala dan kuantitas, sementara Israel menitikberatkan keunggulan teknologi dan presisi.
Dari sisi sumber daya manusia, Iran memiliki keunggulan signifikan dalam jumlah personel aktif dan cadangan. Struktur militernya mencakup angkatan darat, laut, udara, serta Garda Revolusi Islam (IRGC) yang berpengaruh besar dan didukung jaringan milisi regional. Israel, meski secara jumlah lebih kecil, mengandalkan sistem wajib militer dan pasukan cadangan yang memungkinkan mobilisasi cepat dan terkoordinasi dalam waktu singkat.
Pada matra darat, Iran menonjol lewat kepemilikan ribuan tank tempur, artileri, dan kendaraan lapis baja. Namun, sebagian alutsista tersebut masih berbasis teknologi lama. Israel justru mengambil jalur berbeda: jumlah tank lebih terbatas, tetapi kualitas menjadi prioritas. Tank tempur modern dengan perlindungan tinggi dan sistem pertahanan aktif membuat pasukan darat Israel unggul dalam efektivitas dan survivabilitas di medan perang.
Keunggulan teknologi Israel paling mencolok terlihat di udara. Angkatan udara Israel diperkuat armada pesawat tempur generasi mutakhir yang mampu menjalankan misi serangan presisi dan superioritas udara. Iran, sebaliknya, masih mengoperasikan pesawat-pesawat generasi lama dengan kemampuan yang relatif terbatas, meski tetap berupaya melakukan modernisasi dan perawatan intensif agar tetap operasional.
Di laut, Iran unggul secara kuantitas dengan armada kapal patroli dan kapal selam taktis yang mendukung strategi penguasaan perairan regional. Israel memang memiliki armada yang lebih kecil, namun teknologi kapal selamnya dikenal sangat canggih dan dirancang untuk misi strategis jarak jauh, termasuk operasi intelijen dan penangkal strategis.
Sistem pertahanan udara menjadi salah satu pilar kekuatan Israel. Pertahanan berlapis yang dirancang untuk menghadapi ancaman jarak pendek hingga balistik jarak jauh telah teruji dalam berbagai eskalasi konflik. Iran memiliki sistem pertahanan udara yang beragam—baik buatan sendiri maupun hasil kerja sama luar negeri—namun dalam skenario konflik besar, sistem ini berpotensi menjadi sasaran utama serangan pendahuluan.
Dalam hal kemampuan serangan jarak jauh, Iran dikenal memiliki salah satu arsenal rudal balistik terbesar di kawasan, dengan jangkauan yang mampu menjangkau target regional hingga lintas benua. Israel memiliki jumlah rudal yang lebih terbatas, tetapi dikembangkan dengan tingkat akurasi tinggi dan kemampuan strategis yang diyakini mampu membawa hulu ledak khusus.
Dimensi perang modern turut diperkuat oleh penggunaan drone. Iran agresif mengembangkan dan memproduksi UAV untuk misi pengintaian maupun serangan, yang menjadi tulang punggung strategi perang asimetrisnya. Israel juga mengoperasikan drone canggih, namun lebih menekankan integrasi dengan sistem intelijen dan serangan presisi berbasis data real-time.
Perbedaan pendekatan ini juga dipengaruhi faktor aliansi. Israel mendapat dukungan teknologi, intelijen, dan persenjataan dari negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Iran, meski dibayangi sanksi internasional, membangun kerja sama strategis dengan mitra non-Barat untuk menjaga keberlanjutan dan pengembangan kemampuan militernya.
Secara garis besar, Iran unggul dalam skala—jumlah personel, kekuatan darat, dan volume rudal balistik—sementara Israel menonjol lewat teknologi militer mutakhir, dominasi udara, dan sistem pertahanan berlapis yang presisi. Dua model kekuatan ini mencerminkan filosofi berbeda: Iran mengandalkan daya gempur massal dan strategi asimetris, sedangkan Israel bertumpu pada kecepatan, akurasi, dan keunggulan teknologi dalam menghadapi ancaman multidimensi.





