Layanan Telehealth; Bantu Dokter Jangkau Lebih Banyak Masyarakat

Layanan Telehealth; Bantu Dokter Jangkau Lebih Banyak Masyarakat

Layanan Telehealth; Bantu Dokter Jangkau Lebih Banyak Masyarakat

Halodoc terus dukung inklusi tenaga kesehatan dalam transformasi digital

Surabaya, Kabarindo- Indonesia hanya memiliki 4,27 dokter untuk setiap 10.000 populasi pada 2018 . Jumlah ini cukup tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Filipina (6), Thailand (8,05) atau Singapura (22,9). Kondisi ini dipersulit dengan tantangan yang dihadapi selama pandemi Covid-19 yang telah berlangsung hampir dua tahun dan merenggut ratusan pahlawan kesehatan.

Untuk itu, peranan teknologi semakin penting guna menjembatani akses yang lebih luas bagi pasien serta keamanan bagi dokter. Berdasarkan hal ini, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) telah mengeluarkan roadmap transformasi digital di sektor kesehatan hingga 2024. Di dalamnya terdapat peranan telehealth dalam membantu mewujudkan layanan kesehatan yang merata dan inklusif.

Sebagai salah satu pelaku telehealth di Indonesia, Halodoc telah menyelenggarakan diskusi terkait masa depan ekosistem kesehatan masa depan bersama Kemenkes dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam menyambut Hari Dokter Nasional yang jatuh pada 24 Oktober.

Chief Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI, Setiaji, ST, M.Si., mengatakan Kemenkes telah membentuk Digital Transformation Office dalam rangka mempersiapkan masa depan sistem kesehatan di Indonesia. Dalam beberapa tahun ke depan, masyarakat diharapkan bisa mengakses layanan kesehatan digital mulai dari dalam kandungan hingga menghadapi kondisi kritis. Semua rekam medis akan terintegrasi pada satu sistem, sehingga masing-masing orang akan memiliki personal health record.

“Teknologi seperti telehealth ini tidak hanya membantu para dokter meningkatkan skill, namun juga memperluas jangkauan layanannya,” ujarnya.

Chief Business Officer & Co-Founder Halodoc, Doddy Lukito, menekankan pentingnya peran dokter dalam ekosistem Halodoc dan kemampuan teknologi dalam memberikan akses kepada masyarakat Indonesia yang lebih luas.

“Dari sebelum pandemi hingga saat ini pandemi masih berlangsung, layanan Chat Dokter di Halodoc menjadi yang paling diminati oleh 20 juta monthly active user (MAU) kami. Dengan bantuan dari 20.000 mitra dokter, pengalaman pengguna dan kualitas pelayanan konsultasi tetap terjaga, meskipun terdapat lebih dari 10x pertumbuhan permintaan dalam platform kami, termasuk dukungan untuk program isolasi mandiri bagi pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala ringan bersama Kemenkes. Kami juga melihat perluasan sebaran pengguna yang telah memanfaatkan layanan Halodoc dengan 25% berasal dari daerah luar Jawa, seperti Aceh, Bengkulu, Sulawesi dan Papua.”

Di tengah kebutuhan kesehatan yang meningkat signifikan selama pandemi, data dari IDI menyebutkan terdapat 730 dokter yang gugur dalam upaya melawan pandemi ini (data per September 2021). Untuk itu, teknologi diharapkan dapat menjadi salah satu jawaban untuk memberikan wadah konsultasi kesehatan yang lebih aman, baik bagi dokter maupun pasien.

Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dr. Daeng M. Faqih, SH, MH, mengatakan sejak awal pandemi, IDI mengimbau para dokter untuk mengurangi praktik tatap muka, namun pelayanan pasien harus tetap berjalan dengan menggunakan APD lengkap. Layanan telemedis ini t luar biasa perkembangan dan manfaatnya, termasuk dalam mempercepat layanan vaksinasi hingga membuka akses pelayanan isoman.

“Tanpa bantuan teknologi, hal ini hampir mustahil dikerjakan, apalagi dengan pasien Covid-19 yang banyak, tenaga kesehatan terbatas dan fasilitas RS yang kekurangan. Wilayah Indonesia juga sangat luas, sehingga akses kesehatan harus dibuka selebar-lebarnya dan telemedis adalah jawabannya,” ujarnya.

Doddy menambahkan, Halodoc selalu berupaya mengadopsi teknologi terkini untuk terus meningkatkan pengalaman pengguna, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Namun, hal yang juga menjadi fokus adalah bagaimana perusahaan turut berkontribusi untuk meningkatkan kapasitas pelaku kunci dalam ekosistem ini, yaitu para mitra dokter.

Untuk itu, Halodoc secara rutin mengadakan program-program edukasi bagi para dokter dengan bekerja sama dengan IDI. Program yang dimiliki mulai dari pelatihan terhadap adopsi teknologi dan penggunaan platform, pembahasaan jenis penyakit maupun metode treatment baru hingga pembahasan studi kasus yang terjadi di sekitar. Halodoc juga memiliki pertemuan mingguan untuk evaluasi kualitas pelayanan berdasarkan feedback pengguna dan pelatihan bulanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan mitra dokter.

“Kontribusi dari mitra dokter tidak akan tergantikan, meskipun banyak pembaruan dan adopsi teknologi yang diimplementasikan oleh Halodoc,” ujar Doddy.