Kembangkan Desa Wisata di Jatim; Bantu Tingkatkan Perekonomian Daerah

Kembangkan Desa Wisata di Jatim; Bantu Tingkatkan Perekonomian Daerah

Kembangkan Desa Wisata di Jatim; Bantu Tingkatkan Perekonomian Daerah

Jatim punya 479 desa wisata, ada yang wisata alam, juga seni budaya dan sejarah

Surabaya, Kabarindo- Desa wisata perlu dikembangkan karena mampu meningkatkan perekonomian daerah. Untuk itu diperlukan sinergi para pihak terkait, termasuk peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDES), akses yang layak dan fasilitas yang memadai.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Jatim, Sinarto, dalam Pelatihan Wartawan, Sinergi Mendukung Wisata Jawa Timur yang diadakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur pada 17-18 April 2021.

Sinato mengatakan, Jatim memiliki kategori wisata yang lengkap mencakup alam, seni budaya dan sejarah. Ada gunung, danau, laut, serta beragam kesenian, budaya dan sejarah. Ada daerah yang memiliki semua kekayaan itu, ada yang memiliki beberapa di antaranya atau salah satunya. Begitu pula dengan desa wisata yang mungkin memiliki wisata alam atau seni budaya atau sejarah, yang bisa dikembangkan untuk menjadi andalannya.

“Desa wisata perlu dikembangkan agar menjadi daerah tujuan wisata (DTW), sehingga dapat meningkatkan perekonomian desa tersebut. Hal ini memerlukan sinergi para pihak terkait termasuk BUMDES yang berperan ikut menggerakkan wisata,” ujarnya.

Sinarto menyebutkan, Jatim memiliki 479 desa wisata. Namun hanya sedikit yang menjadi desa wisata mandiri dan maju, selebihnya masih merupakan desa wisata rintisan. Karena itu diperlukan pengelolaan yang baik agar mampu menjadi unggulan serta andalan daerah tersebut.

Ia menambahkan, beberapa daerah sudah memiliki desa wisata unggulan dan mampu menggerakkan perekonomiannya seperti Trawas di Mojokerto, Wonosalam di Jombang dan Kemiren di Banyuwangi.

Selain potensi alam dan seni budaya, tak kalah penting adalah akses menuju desa wisata dan fasilitas bagi wisatawan di sana. Jika tak didukung oleh kedua faktor ini, maka potensi pariwisata di sana akan terhambat.

“Meskipun objek wisata di desa tersebut bagus, orang enggan ke sana kalau jalannya rusak. Lalu bagaimana fasilitas di sana? Apakah memadai? Ada toilet yang bersih? Tempat makan yang layak dan enak? Ini penting diperhatikan,” ujar Sinarto.

Ia menginginkan, setiap desa memiliki objek wisata yang khas, berbeda dengan desa lainnya. Misalnya Trowulan unggul dalam wisata sejarah, karena merupakan bekas pusat pemerintahan kerajaan Majapahit. Untuk daerah, misalnya di Malang terdapat sejumlah candi, di antaranya Candi Jawi dan Candi Kidal. Sedangkan Pacitan memiliki wisata seni budaya Wayang Beber.

“Potensi tersebut perlu dikembangkan untuk menjadi unggulan serta andalan desa dan daerah masing-masing,” ujar Sinarto.

Penulis: Natalia Trijaji