JAKARTA - Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta memfasilitasi peluncuran pameran digital koleksi Museum Nasional Indonesia di Aceh yang diberi nama "Keuneubah Aceh" pada 10 Februari di @america, Jakarta. Peluncuran ini menyoroti upaya kolaboratif untuk melestarikan dan memperluas akses terhadap warisan budaya Indonesia dengan menggunakan inovasi Amerika. Acara ini diselenggarakan oleh Yayasan Jalin Narasi Budaya/Southeast Asia Museum Services (SEAMS) melalui Koleksi Kita (Kegiatan Dokumentasi Museum Indonesia), berkolaborasi dengan Museum Nasional Indonesia sebagai bagian dari Museum Cagar Budaya (MCB), dan dengan dukungan dari pemerintah Amerika Serikat melalui program U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation (AFCP).
Pameran "Keuneubah Aceh" tersedia di Google Arts & Culture, sebuah platform digital global untuk mengeksplorasi seni, sejarah, dan budaya. Pameran ini menampilkan benda-benda yang berhubungan dengan Aceh yang tersimpan di Museum Nasional Indonesia dan bersumber dari penelitian arsip, digitalisasi resolusi tinggi, dan kunjungan lapangan ke masyarakat Aceh, Gayo, dan Alas. Artefak seperti alat musik gegedem dan canang, pedang rencong, dan tempat sirih pinang merupakan beberapa di antara benda-benda yang dipamerkan.

Kunjungan lapangan dan wawancara di Aceh

Canang, Gegedem, and Rencong
“Melalui AFCP, pemerintah AS berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarian warisan budaya Indonesia, sekaligus menampilkan keunggulan Amerika,” ujar Juru Bicara Kedutaan Besar AS di Jakarta, Jamie Ravetz. “Pameran digital Keuneubah Aceh mencerminkan pentingnya dokumentasi, penelitian, dan penggunaan teknologi inovatif AS dalam menyediakan koleksi museum untuk generasi sekarang dan mendatang.”

Juru Bicara Kedutaan Besar AS Jakarta, Jamie Ravetz
AFCP mendukung pelestarian berbagai warisan budaya di lebih dari 100 negara. Termasuk di dalamnya adalah bangunan bersejarah, situs arkeologi, benda-benda etnografi, lukisan, manuskrip, dan bahasa. Dalam beberapa tahun terakhir, melalui AFCP, Kedutaan Besar AS di Jakarta telah mendukung pelestarian bahasa daerah dan pelestarian tradisi kuliner dan resep dari seluruh nusantara.
Pimpinan Kegiatan Koleksi Kita dan Pendiri Bersama SEAMS, Dyah Mitayani mengatakan, "Saya berharap masyarakat dapat melihat bahwa koleksi museum tidaklah statis. Maknanya terus berkembang dengan penelitian yang lebih mendalam, dokumentasi yang lebih baik, dan keterbukaan untuk mendengarkan berbagai perspektif. Pameran ini bukanlah titik akhir, melainkan awal, untuk dialog, penelitian lebih lanjut, dan kolaborasi di masa depan."
“Kami sangat mengapresiasi kolaborasi antara Museum Nasional Indonesia, SEAMS, dan dukungan U.S. Ambassadors Fund for Cultural Preservation,” ujar Direktur Eksekutif MCB Esti Nurjadin. “Kemitraan ini menunjukkan bahwa penguatan museum nasional membutuhkan kerja sama lintas institusi, lintas disiplin, dan internasional.”





