Cegah Stroke dengan Rutin Berolahraga; Jadikan Sebagai Kebutuhan

Cegah Stroke dengan Rutin Berolahraga; Jadikan Sebagai Kebutuhan

Cegah Stroke dengan Rutin Berolahraga; Jadikan Sebagai Kebutuhan

WHO menganjurkan untuk berolahraga selama 150 menit dalam satu minggu dan membakar 300 kalori dalam sekali olahraga

Surabaya, Kabarindo- Stroke adalah gangguan pembuluh darah otak yang sifatnya mendadak. Di Indonesia, stroke menempati urutan kedua penyebab kematian terbanyak setelah penyakit jantung.

Hal ini disampaikan oleh dr. Gigih Pramono, Sp.BS dari KORTEX, dalam hybrid webinar yang telah diadakan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) bersama KORTEX sebagai salah satu langkah guna meningkatkan derajat aktivitas fisik sehingga terhindar dari stroke. Kegiatan ini diadakan dalam rangka World Stroke Day (Hari Stroke Sedunia) yang diperingati setiap tanggal 29 Oktober. Dalam webinar ini dibahas mengenai penyebab dan pencegahan stroke.

dr. Gigih mengatakan, jika berbicara mengenai stroke, sebenarnya kita berbicara mengenai kesehatan secara holistik dan comprehensif. Ia menekankan, setidaknya diperlukan dua hal penting untuk mencapai kesehatan yang holistik yaitu tulang belakang yang sehat dan sirkulasi darah yang sehat pula.

“Jika kita ingin hidup sehat, maka yang terbaik adalah melakukan olah raga secara rutin. World Health Organization (WHO) menganjurkan untuk berolahraga selama 150 menit dalam satu minggu dan membakar 300 kalori dalam sekali olahraga. Apapun olahraganya, harus disertai dengan olah raga cardio yang sifatnya endurance, misalnya jalan kaki, lari atau bersepeda,” ujarnya.

Dr. Mochamad Parmono, M.Kes, Kepala Pusat Kajian Ilmu Keolahragaan (PKIK) UNESA, merujuk pada hasil survei mengenai aktivitas fisik dan kesehatan terhadap civitas akademika UNESA pada 2021 yang menunjukkan bahwa 66% dosen memiliki riwayat penyakit hipertensi yang beresiko memicu terjadinya stroke, serta 28% lainnya memiliki riwayat penyakit diabetes.

“Kurangnya aktivitas fisik dan olahraga ditengarai menjadi salah satu faktor resiko penyebab terjadinya hal ini,” ujarnya.

Hal ini diperkuat dengan data bahwa 51% dosen UNESA tidak melakukan olahraga, sedangkan 41% lainnya melakukan olahraga 1-2 kali seminggu yang belum memenuhi durasi waktu aktivitas fisik yang direkomendasikan oleh (WHO).

Kunjung Ashadi, S.Pd, M.Fis, AIFO, Seketaris PKIK, memaparkan bahwa civitas akademika UNESA direkomendasikan untuk melakukan aktivitas fisik dan olahraga secara cukup sesuai anjuran WHO. Ide-ide sederhana namun realistis dapat dilakukan untuk memacu aktivitas fisik di lingkungan UNESA. Misalnya parkir mobil/motor lebih jauh 1 meter dari biasanya, menggunakan tangga untuk naik satu lantai dan menyelipkan 5 menit aktivitas fisik setelah bekerja/belajar selama 25 menit.

Untuk memaksa berolahraga, kita dapat mengatur alarm waktu olahraga di handphone, meletakkan pakaian olahraga pada malam hari di depan kamar tidur serta menemukan alasan yang kuat untuk berolahraga. Misalnya agar terlihat gagah, awet muda ataupun terlihat bagus saat memakai setelan baju.

“Tanpa ada alasan yang kuat untuk berolahraga, maka sukar untuk melakukan olahraga sebagai kebutuhan,” ujarnya.

Kunjung menambahkan, civitas akademika dengan rentang usia antara 18-70 tahun harus dapat memilah dan memilih olahraga sesuai dengan usia, jenis kelamin, riwayat kesehatan, pengalaman olahraga dan jenis olahraga favorit. Olahraga aerobik yang bersifat daya tahan jantung dan paru, latihan kekuatan otot, kelenturan dan kecepatan gerak dapat dilakukan dengan mempertimbangkan faktor di atas.

“Secara khusus, untuk mencegah stroke, maka opsi utama yang dilakukan yaitu olahraga yang bersifat aerobik,” ujarnya.

Penambahan latihan kekuatan dan kelenturan juga baik dilakukan oleh beragam usia. Khusus untuk olahraga yang mengandalkan kecepatan gerak dan eksplosif, misalnya sepakbola, futsal, bulutangkis, basket dan lari sprint perlu dipertimbangkan lagi bagi usia 40-70 tahun dengan mempertimbangkan riwayat kesehatan dan pengalaman berolahraga.