KABARINDO, JAKARTA - Pesantren terus maju dan berkembang, tidak hanya di bidang keagamaan, tapi juga beragam ilmu pengetahuan dan pengabdian. Hal ini dapat dilihat dari sederet prestasi yang diukir para santri lembaga pendidikan tertua di Indonesia ini.
Dilansir dari situs resmi Kementerian Agama pada Senin (4/4), Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengatakan bahwa pesantren bukan hanya belajar memahami ajaran Islam secara mendalam.
“Potret pesantren kini tidak hanya tentang tafaqquh fid-din yang menjadi ciri khasnya, tapi juga beragam keunggulan dalam prestasi akademik dan non akademik,” terang Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said.
Menurut Basnang, ruang pengabdian para santri kini makin meluas seiring perkembangan pendidikan di pesantren. Lulusan pesantren tidak hanya mengabdi di bidang dakwah dan keagamaan, baik menjadi ulama, penyuluh agama, atau penghulu, tapi juga dokter, saintis, peneliti, perbankan, saudagar, serta pengusaha di sektor pertanian, perkebunan, perikanan, dan beragam profesi lainnya.
“Ini tidak terlepas dari proses adaptasi pesantren terhadap perkembangan zaman. Kami di Kementerian Agama terus berupaya ikut memberikan pendampingan dan fasilitasi bagi perkembangan pesantren,” tambahnya.
Berikut sederet prestasi santri pesantren dalam kiprah pengabdian mereka di masyarakat:
1. Nabila Saphira
Santri kelahiran pekanbaru (2007) adalah lulusan Pesantren Insan Cendekia Harau. Dia adalah juara 2 Regional Kampus Pidato Bahasa Inggris dan Diplomatik. Karya prototype turbin air yang dapat menghidupi suatu daerah dengan Listrik mengantarkannya sebagai wakil Indonesia dalam program AFS Global STEM Academies di Brasil.
2. Tsuroyyah Hamidah
Santri asal Lamongan (1996) menghabiskan masa belajarnya di Pesantren Sunan Drajat Lamongan. Kini, dia tercatat sebagai Top 7 Wirausaha Muda Berprestasi Nasional Bidang Religius. Itu tidak terlepas dari keberadaannya sebagai pemuda pelopor di bidang pendidikan dan perikanan atas kiprah pemberdayaan masyarakat pesisir serta pemasaran produk hasil olahan perikanan.
3. M. Mifta Yoga Fahreza
Dara kelahiran Air Naningan (2008) ini nyantri di Pesantren Insan Mulia Boarding School (IMBOS) Pringsewu. Juara 1 Lomba Essay KSE FEST UPR “Peran Teknologi Pendidikan Menuju Indonesia Emas 2045”, ini juga menjadi TOP 27 Brand Ambassador YIAE 3 Chapter 3 Negara (Singapura, Malaysia, Thailand). Dia menciptakan SEBULA, aplikasi edukatif yang dipublikasikan dalam INNOVATIVE: Journal of Social Science Research (2024), serta merancang SALAKA, aplikasi digital pemilihan ketua OSIS sekaligus media edukasi demokrasi yang dilombakan pada Olimpiade PPKN 2024 Dia juga terus memperjuangkan isu anak dan iklim bersama Dinas P3AP2KB, serta menginisiasi aksi nyata seperti pungut puntung rokok di Pemda Pringsewu dan gerakan jaga bumi di sekolah sebagai bentuk climate action.
4. Ahmad Faqieh Shakier
Santri asal Parepare (2008) ini hafal 30 juz Al-Qur’an. Dia meraih Medali Perunggu Madrasah Integrated Science Competition (M-ISCO) Bidang IPS Terintegrasi (2022), dan medali Perunggu Indonesian Youth Science Competition Bidang IPS (2022). Kini, dia terlibat dalam Program Social Camp Pesantren IMMIM, yang menempatkan santri di tengah masyarakat untuk belajar hidup bersama warga desa pegunungan.
5. Muhammad Aidil Fitrah Lubis
Lahir di Padangsidimpuan (2008), Muhammad Aidil belajar di Pesantren Al-Azhar Asy Syarif Sumatera Utara. Dia meraih medali Emas kategori life science di NYIIA, Bronze Award di ACHO 2025 dengan produk inovatif bernama ‘Micromelt’ (obat kumur herbal antibakteri yang terbuat dari ekstrak tumbuhan jotang atau Acmella paniculata). Dia aktif dalam kegiatan sosial bertajuk TAMASYA (Tausiah Ramadhan Al-Azhar Asy-Syarif Sumatera Utara).
6. Khoirul Adib
Santri asal Tuban (2002) ini belajar di Pesantren Darul Ilmi Meteseh Semarang. Dia adalah lulusan Terbaik Dengan IPK 3,97 sekaligus Peraih Penghargaan Skripsi Terbaik Tingkat Universitas. Dia juga meraih Medali Emas di World Young Inventors Exhibition (Malaysia). Dia juga membawa pulang Medali Perak di Ajang Internasional Seperti World Invention Competition and Exhibition (Malaysia) dan World Invention Creativity Olympic (Korea Selatan). Atas prestasinya, Khoirul Adib mendapatkan penghargaan Gubernur Jawa Timur sebagai Pemuda Utama Bidang Pengembangan Prestasi dan Hobi (2024). Dia juga memperoleh Beasiswa Program Belajar di Rochester Institute of Technology. Bahkan, platform digital “ByShare” yang dikembangkan, mendapat pengakuan dan pengharagaan dari Jepang, Malaysia, dan Korea Selatan. Demikian juga platform digital “Zeroup” Edukasi Pemanfaatan Lahan Non Produktif, mendapat penghargaan dari KEMNAKER RI dan Hari Santri 2022.
7. Revan Kurnia Aditya
Santri kelahiran Tasikmalaya (2007) ini belajar di Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Condong. Dia meraih juara 1 Festival Inovasi Kesehatan ASTRA (Nasional) melalui inovasi layanan kesehatan “SANTRICARE”. Salah satu karya inovasinya adalah “Pesantrend Shampo Condong”. Revan kini aktif di bidang kesehatan.
8. Qotrotun Nadia
Lahir di Jambi (2006), Nadia adalah lulusan Pesantren Fadlun Minalloh, Yogyakarta. Daia meraih juara 1 MQK Cabang Hadis Wustha Nasional Kemenag (2023), dan Juara 1 MQK FDA 0.4 ASEAN UNIDA Gontor (2022). Selain mahir baca kitab kuning, Nadia juga hobi menulis cerpen. Dia tercatat menjadi juara 3 Lomba Menulis Cerpen Museum Dinas Kebudayaan DI Yogyakarta 2021, juara 3 Lomba Menulis Cerita Mini IKABI UIN Sunan Kalijaga 2021. Sejumlah buku sudah terbit, antara lain: “Serambi Asrama” (2019), “Sorogan, Handphone dan Museum Purbakala (kontributor, 2022), dan “Penjara Suci: Ikhtiar Sepanjang Harapan” (kontributor, 2021).
9. Fitria Raudhatul Jannah
Santri kelahiran Pangkalan Kerinci (2003) ini belajar di Pesantren Al-Munawwarah. Dia terpilih sebagai delegasi Indonesia pada Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Internasional ke-1. Dia juga menjadi juara 1 Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) ke VI tingkat Nasional. Santri satu ini menulis buku berjudul “Ambil Keringanan Agar Nyaman di Perjalanan”.





