Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

-advertising-

Beranda > Ekonomi & Bisnis > Aksi Mogok Produksi se-Pulau Jawa, Ini 4 Tuntutan Perajin Tahu Tempe

Aksi Mogok Produksi se-Pulau Jawa, Ini 4 Tuntutan Perajin Tahu Tempe

Ekonomi & Bisnis | Minggu, 20 Februari 2022 | 11:25 WIB
Editor : Daniswara Kanaka

BAGIKAN :
Aksi Mogok Produksi se-Pulau Jawa, Ini 4 Tuntutan Perajin Tahu Tempe

KABARINDO, JAKARTA Perajin tahu dan tempe rencananya akan melakukan aksi mogok produksi mulai Senin 21 Februari hingga Rabu 23 Februari 2022. Hal ini merupakan upaya para perajin tahu dan tempe karena harga kedelai yang terus menerus mengalami kenaikan.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu (Gakoptindo), Aip Syarifuddin mengatakan aksi mogok perajin tahu dan tempe ini akan terjadi di seluruh pulau Jawa.

"Awalnya, memang Jakarta saja. Cuma kan tukang tempe tahu ini saudara dan sama-sama merasakan kesulitan karena kedelai mahal ini. Makanya kebersamaan persatuan dalam koperasi itu akhirnya kami se-Jawa akan melakukan mogok," papar Aip saat dihubungi, Sabtu (19/2/2022).

Aip mengatakan meskipun aksi mogok produksi direncanakan mulai Senin (21/2), namun para perajin tahu tempe sudah berhenti produksi mulai dari hari Sabtu kemarin. Sebab, sekali produksi memang membutuhkan waktu sekitar tiga hari.

"Jadi hari ini (Sabtu), itu kalau perajin tempe tahu sudah mulai tidak produksi, karena kan itu jadinya 3 hari. Maka Sabtu, Minggu, Senin. Jadi Senin itu sudah tidak ada tempe yang jadi," ungkap Aip.

Mewakili para perajin, Aip pun mengucapkan permohonan maafnya jika aksi mogok produksi ini akan membebani masyarakat. Menurutnya, aksi mogok ini dilakukan agar nasib perajin tahu dan tempe bisa lebih diperhatikan oleh pemerintah.

"Saya juga atas nama perajin mohon maaf sama semuanya, ini bukan keinginan kita. Kami hanya ingin memperlihatkan adanya kesulitan yang kami rasakan. Kami terpaksa lakukan, sehingga pemerintah bisa dengar kami ini perlu bantuan," pungkas Aip.

Di balik aksi mogok produksi, ada empat permintaan yang dilontarkan para perajin tahu tempe. Pertama, perajin meminta agar harga tempe dan tahu dinaikkan. Sejauh ini, Kementerian Perdagangan sendiri sudah mengumumkan hal itu.

"Dengan adanya pengumuman dari Kemendag (Kementerian Perdagangan) soal harga tempe dan tahu naik supaya itu menolong untuk kita," ungkap Aip.

Kedua, para perajin meminta agak harga kedelai tidak naik setiap hari. Melanjutkan permintaan kedua, perajin juga meminta agar harga kedelai bisa stabil selama 1-3 bulan.

"Ketiga, kami minta harganya stabil, setidaknya dalam waktu sebulan sampai 3 bulan," kata Aip.

Keempat, Aip meminta agar pemerintah membentuk skema subsidi kedelai pada perajin tahu dan tempe. Dia meminta agar ada batas maksimal harga kedelai bagi perajin. Perajin setuju apabila harga kedelai dipatok maksimal di kisaran Rp9-10 ribu per kilogram. Sementara, saat ini harga kedelai sudah mencapai Rp11-12 ribu per kilogram di tingkat perajin.

"Kami kalau boleh minta diberikan subsidi. Kita minta beli maksimal 10 ribu aja per kilo, itu sudah diterima di perajin," ungkap Aip.

Perlu diketahui, hingga saat ini kebutuhan kedelai Indonesia sendiri masih bergantung pada kedelai impor. Jika bahan baku kedelai untuk membuat tempe dan tahu saja sudah mahal harganya, secara otomatis biaya produksi perajin pun akan mengalami kenaikan.

Aip sendiri mengatakan 90 persen kebutuhan kedelai untuk produksi tempe dan tahu dipenuhi oleh kedelai impor.

"Dari 3 juta ton per tahun kebutuhan kedelai untuk tahu dan tempe, 90% itu impor. Produk lokal 300-400 ribu ton per tahun. Makanya harga kami ikuti global, jadi ya kalau dia mahal ya kami mahal," ungkap Aip, Senin (14/2/2022).

Lebih lanjut Aip mengatakan, kedelai lokal memang bisa digunakan untuk produksi tempe dan tahu. Namun, hal ini tidak memungkinkan lantaran jumlah produksi lokal tidak mencukupi untuk kebutuhan para perajin tahu dan tempe.

Sumber: Detik.com

Foto: ANTARAFOTO/Maulana Surya


RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER