Traditional Wedding Makin Diminati Kaum Muda; Lestarikan Budaya Nusantara

Traditional Wedding Makin Diminati Kaum Muda; Lestarikan Budaya Nusantara

Traditional Wedding Makin Diminati Kaum Muda; Lestarikan Budaya Nusantara

Shangri-La Surabaya usung nuansa Jawa yang kental, padukan dengan sentuhan kekinian

Surabaya, Kabarindo- Meningkatnya minat kaum muda yang ingin menikah dengan tata cara tradisional, terutama adat Jawa, mendorong Shangri-La Hotel Surabaya menggelar Heritage Wedding Showcase di area lobby lounge pada Sabtu dan Minggu, 27-28 Juli 2019.

Event tersebut mengusung nuansa Jawa yang kental, yang terlihat pada pembukaan acara dan musik gamelan yang dimainkan oleh para penabuh. Sejumlah owner dari 15 vendor peserta pameran mengenakan kebaya lengkap dengan sanggul. Begitu pula kru EO yang mengenakan kebaya modern warna hitam.

Tak ketinggalan General Manager Shangri-La Surabaya yang bule, Jonathan Reynolds, mengenakan busana adat Jawa untuk laki-laki, beskap warna hijau dan jarit, lengkap dengan blangkon dan keris di pinggang belakang. Ia tampak gagah dan tersenyum bangga.

“Saya senang memakai baju adat Jawa yang indah. Ini pertama kali saya memakainya. Rasanya keren. Saya tampak berbeda. Fotonya akan saya pamerkan pada orang-orang lain,” ujarnya.

Reynolds lalu memberikan sambutan yang diselipi beberapa patah kata dalam bahasa Jawa dengan lafal yang menggelikan. Misalnya mengucapkan ‘sugeng enjing’ yang artinya selamat pagi dan menutup dengan kalimat ‘matur nuwun’ atau terima kasih. Sambutannya mendapat aplaus para tamu.

“Bagaimana bahasa Jawa saya? Not bad?” gurau pria yang ramah ini lalu tertawa yang disahut tawa para tamu.

Setelah sambutan, disusul upacara minum jamu sinom yang dituangkan oleh seorang staf berbusana Jawa sambil menggendong keranjang berisi botol jamu seperti mbok-mbok penjual jamu keliling di kampung-kampung. Reynolds dan owner EO serta vendors mengangkat wadah batok berisi jamu seperti bersulang, kemudian meneguknya bersamaan. Setelah itu, Reynolds memecahkan kendi yang dibalut roncean melati sebagai tanda dibukanya event.

Mereka diiringi para tamu menuju lobby lounge yang dipandu oleh dua gadis membawakan Tari Gambyong dengan gemulai diiringi musik gamelan. Reynolds ikut menari sejenak dengan gerakan agak kikuk sambil tertawa. Para tamu lalu diajak berkeliling mengunjungi beberapa vendor, di antaranya yang menawarkan jasa aksesoris pengantin adat seperti mahkota atau hiasan kepala dari adat Sunda, Bali dan Minang.

Amelia Kartikasari, desainer Kisah Kasih by Tinara Adibusana Nusantara, salah satu vendor, mengatakan pihaknya menggeluti busana pengantin tradisional, karena ingin melestarikan budaya Nusantara. Ia merancang busana pengantin tradisional seperti dari adat Jawa, Bali, Minang dan Palembang, namun dengan sentuhan modern, yang tampak pada detil-detilnya.

“Dulu menikah dengan adat daerah dianggap kuno. Sekarang ini makin banyak anak muda yang ingin menikah dengan tata cara tradisional, terutama adat Jawa. Mereka menyadari pentingnya menjunjung dan melestarikan budaya Nusantara yang agung dan indah,” ujarnya.

Namun sebagai anak muda, imbuh Amelia, mereka juga ingin ada sentuhan kekinian. Karena itu, ia merancang busana sesuai keinginan mereka. Misalnya pengantin perempuan memakai paes Jawa dipadu kebaya dengan tussel.

“Saya mendorong kaum muda untuk menikah dengan tata cara adat, bahwa melestarikan budaya itu bagus dan penting karena memiliki nilai filosofi yang tinggi. Misalnya, pada adat Jawa, ada upacara siraman, sungkeman dan sebagainya itu punya makna yang dalam,” tutur Amelia.

Ia ingin pasangan pengantin bangga dengan budaya daerah mereka. Mereka tampak gagah, cantik dan anggun dengan busana pengantin tradisional sekaligus terlihat kekinian.

Penulis: Natalia Trijaji