Tawarkan Solusi Hadapi Asap; Tim ITS Raih Penghargaan Internasional

Tawarkan Solusi Hadapi Asap; Tim ITS Raih Penghargaan Internasional

Tawarkan Solusi Hadapi Asap; Tim ITS Raih Penghargaan Internasional

Tawarkan CO2 Free Air Device (CFD) yang efektif turunkan CO2 hingga 38% (satuan ppm)

Surabaya, Kabarindo- Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bernama Tim CO2 Free Air Device (CFD) berhasil meraih penghargaan perunggu dalam ajang International Invention and Innovative Competition (INIIC) Series 2 2019 di Palace of The Golden Horses, Selangor, Malaysia.

Pada kompetisi tersebut, tim CFD meraih penghargaan untuk kategori University dengan subtema Science, Engineering and Technology. Tim diketuai oleh Ferdi Saepulah dan beranggota Filo Sofia Kamila Mukmin, Ahmad Imam Fatoni, Hafiz Salam dan Naufal Allam Gani Atmojo.

Mereka mengusung ide terkait asap kebakaran hutan yang dihadapi penduduk Sumatera dan Kalimantan. Asap kebakaran yang berbahaya bagi kesehatan tersebut menjadi fokus tim. Tim CFD menawarkan karya yang solutif dan inovatif, karena melihat masker di pasaran kurang efektif dalam menyaring kadar CO2.

Ferdi mengatakan, karya timnya tersebut berbeda dengan masker biasa yang hanya menahan partikel padatan di udara. Padahal ada juga partikel seperti karbondioksida (CO2) yang berbahaya jika terhirup terlalu banyak oleh manusia, sehingga darah akan sulit untuk mengirimkan oksigen ke seluruh bagian tubuh.

Menurut Ferdi, CFD menjadi inovasi alat yang dapat menurunkan kandungan zat CO2 yang menggunakan prinsip pengontakan udara kotor dengan larutan kapur. Kalsium (Ca) akan mengikat dengan CO2 menjadi endapan kalsium karbonat (CaCO3). Alat CFD ini efektif menurunkan CO2 hingga 38% (satuan ppm).

Kelebihan utama dari inovasi tim ini adalah low cost with high efficiency. Alat tersebut dibuat dengan mengutamakan pembersihan CO2 dari udara dengan teknik yang bisa dilakukan pada seluruh kondisi.

“Hal ini menuntut agar mudah diproduksi, mudah dipahami teknik penggunaannya dan bahan dasar mudah ditemukan,” ujar Ferdi, mahasiswa Teknik Kimia ITS.

Dengan persiapan singkat namun matang selama 16 September - 28 Oktober 2019, tim CFD berhasil mengalahkan beberapa saingan dari berbagai negara lain. Beberapa poin penilaian dapat ditaklukkan yaitu inovasi, kreativitas, penerapan pada masyarakat serta prospek penjualan. Penilaian dilakukan secara bertahap dari seleksi abstrak, pengiriman desain alat hingga presentasi alat.

Menurut Ferdi, keberhasilan tersebut berkat kinerja tim yang maksimal dan pembagian kerja yang efektif. Pemilihan anggota yang berlatar belakang angkatan yang berbeda-beda menjadi salah satu trik. Tim ini memiliki anggota dari angkatan 2019, 2018 hingga 2017.

“Perbedaan tahun angkatan memiliki poin yang saling melengkapi. Setiap angkatan dan umur memiliki perbedaan pengalaman. Angkatan baru lebih berpikir kreatif, sedangkan angkatan lama lebih berpengalaman menyusun paper dan perakitan alat,” ujar mahasiswa kelahiran 1999 itu.

Tim binaan dari dosen Teknik Kimia ITS, Setiyo Gunawan dan Pak Fadlilatul Taufani, ini telah menetapkan target untuk karya CFD, yaitu mendapatkan hak paten untuk alat CFD dan membuat jurnal ilmiah yang akan dipublikasikan.

“Kami telah menganalisa bagaimana kriteria dan cara yang harus dilakukan untuk memperbesar peluang kemenangan mencapai medal emas nantinya,” ujar Ferdi.

Penulis: Natalia Trijaji