Surabaya Fashion Parade 2019; Tampilkan Koleksi dengan Motif Batik Surabaya

Surabaya Fashion Parade 2019; Tampilkan Koleksi dengan Motif Batik Surabaya

Surabaya Fashion Parade 2019; Tampilkan Koleksi dengan Motif Batik Surabaya

Dengan beberapa motif yang sama, hasil yang didapat bisa menjadi banyak kombinasi motif

Surabaya, Kabarindo- Event tahunan Surabaya Fashion Parade (SFP) kembali digelar di Tunjungan Plaza, Surabaya. Untuk SFP 2019 kali ini berlangsung pada 24-28 April 2019.

IFC Surabaya Chapter akan mempersembahkan koleksi kecil dengan mewujudkan motif batik Surabaya sesuai Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 dari Bekraf. Motifnya adalah karya pemenang lomba motif batik Surabaya pada SFP 2018 lalu.

Dibya Hody, Marcom & PR IFC Surabaya Chapter, mengatakan tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa dengan beberapa motif yang sama, hasil yang didapat bisa menjadi banyak kombinasi motif. Dipadukan dengan tren warna dari Indonesia Trend Forecasting dari Bekraf, menjadikan motif batik Surabaya yang modern, unik dan tiada duanya.

“Yang lebih unik lagi, motif ini adalah motif batik open source pertama di Indonesia. Jadi dari saat penyelenggaraan lomba, kami dari Indonesian Fashion Chamber sudah menginformasikan bahwa motif batik Surabaya ini jika menjadi pemenang akan kita share sebagai milik warga Surabaya. Semoga dapat bermanfaat bagi seluruh pelaku industri kreatif di Surabaya,” ujarnya.

Peragaan busana Motif Batik Surabaya menjadi rangkaian acara pembukaan Surabaya Fashion Parade 2019 pada 24 April 2019 di Convention Hall Tunjungan Plaza 3. Sebanyak 15 desainer anggota IFC Surabaya Chapter akan memamerkan busana siap pakai menggunakan berbagai motif Batik Surabaya dengan masing-masing tema besar dalam Indonesia Trend Forecasting 2019/2020 yaitu Exuberant, Svarga, Neo Medieval dan Cortex.

Ke-15 desainer tersebut adalah Alphiana Chandrajani, Geraldus Sugeng, Yunita Kosasih, Alben Ayub Andal, Winarni Widjaja, Dibya Hody, Elly Virgowati, Listya Dyah Rahayu, Saffana, Stella Lewis, Yuliana Wu, Aldre Indrayana, Mega Ma, Dissa Indriyana dan Cecillia Wijaya.

Desainer lainnya, Gita Orlin, menampilkan karyanya yang dinamai “Calathea” yang terinspirasi dari kecantikan daun Calathea. Ia mengaplikasikannya melalui embroidery dengan menggunakan material utama Sarung Mangga, sifon, silk dan lace dengan detil payet, pearl dan swarovski.

Gita berkolaborasi dengan Sarung Mangga, karena tertarik untuk membikin dress premium dari material sarung ini, sehingga kain sarung tersebut bisa menjadi eksklusif dan bisa digunakan ke acara-acara formal maupun semi formal.

Gita mengeluarkan 12 look dengan siluet full klok,A-line, outer, cape & abaya loose yang sangat elegan. Ia menggunakan warna Earth Colour seperti nude, beige, coklat, dusty pink & dusty purple ke arah warna-warna natural. Sesuai dengan trend Forecasting design, Gita lebih cenderung ke arah Cortex & Exuberant. Desainnya kali ini menonjolkan sisi ke feminim seorang wanita muslim.

“Calathea series ini cocok juga untuk digunakan pada saat Ramadhan & Lebaran, karena desainnya elengan, kainnya ringan dan nyaman dipakai,” ujarnya.

Penulis: Natalia Trijaji