Shangri-La Surabaya Rayakan Hari Cerebral Palsy Dunia; Dimeriahkan 70 Anak

Shangri-La Surabaya Rayakan Hari Cerebral Palsy Dunia; Dimeriahkan 70 Anak

Shangri-La Surabaya Rayakan Hari Cerebral Palsy Dunia; Dimeriahkan 70 Anak

Ikuti cup cake decor, didampingi orang tua, guru dan volunter

Surabaya, Kabarindo- Shangri-La Hotel Surabaya bekerja sama dengan YPCP (Yayasan Peduli Cerebral Palsy) Surabaya merayakan hari Celebral Palsy Dunia dengan mengadakan seminar parenting berdengan tema “Pentingnya Stimulasi dan Pendidikan bagi Anak Cerebral Palsy” pada Kamis (11/10/2018).

Hari Cerebral Palsy Dunia juga diperingati di lebih dari 50 negara pada setiap Rabu pekan pertama bulan Oktober.

Acara di Shangri-La diikuti sekitar 70 anak penyandang Celebral Palsy (CP) atau layuh otak yang didampingi orang tua, 30 guru dari beberapa sekolah dasar negeri inklusi di Surabaya serta beberapa volunter dari karyawan Shangri-La maupun mahasiswa yang mempunyai kepedulian terhadap kegiatan sosial ini.

Diah Anggraeny, Ketua YPCP Surabaya, mengatakan ia mendorong semua pihak untuk bergabung dalam kegiatan semacam ini agar mendapat wawasan lebih luas tentang CP, bagaimana berinteraksi dengan anak penyandang CP dan agar mereka bisa berinteraksi dengan masyarakat.

“Kami mengajak masyarakat agar lebih memahami tumbuh kembang anak cerebral palsy,’ ujar Diah

Seminar digelar untuk lebih mengenalkan CP kepada masyarakat luas, agar bisa melakukan tindakan pencegahan sejak dini. Menurut Diah, selama ini banyak orangtua dan keluarga penyandang CP yang sering kali terlambat menyadari jika anaknya mengalami CP.

Seminar menghadirkan narasumber dr. Adre Maiza Sp.S (K), pakar neurologi dari Jakarta, dan Dr. Sujarwanto, M.Pd, Dekan FIP di UNESA.

Menurut dr. Adre, akan lebih baik jika pemerintah daerah setempat mendirikan Assesment Centre dimana kegiatan dan penanganan terapi terhadap anak-anak penyandang CP bisa dipusatkan jadi satu. Ia menjelaskan, hasil terapi terhadap anak penyandang CP berusia di bawah satu tahun akan lebih baik jika dibandingkan pada usia lebih tua karena terlambat diketahui oleh orang tua. Penanganan motorik maupun sensorik pada usia dini juga bisa dilakukan dengan lebih baik.

Acara tersebut dimeriahkan penampilan grup angklung YPAB (Yayasan Pendidikan Anak Buta) sebagai sahabat CP, dilanjutkan dengan penampilan seni dari sejumlah insan penyandang CP serta menghias cup cakes oleh anak-anak penyandang CP.

Mereka tampak antusias menampilkan kemampuan seni mereka yang mengundang rasa haru sekaligus bangga dari audiens dan memberikan aplaus usai mereka tampil. Anak-anak juga antusias menghias cup cakes dengan dipandu serta dibantu orang tua, guru dan volunter.

Penulis: Natalia Trijaji