Runhood Populerkan Olahraga Lari; Lewat Konten Digital

Runhood Populerkan Olahraga Lari; Lewat Konten Digital

Runhood Populerkan Olahraga Lari; Lewat Konten Digital

Sajikan konten variatif dan kelola target pasar yang tepat

Surabaya, Kabarindo- Tren olahraga lari di Indonesia menunjukkan geliat positif dari waktu ke waktu, berkaca dari maraknya gelaran acara lari yang mencetak ribuan partisipan pelari setiap tahunnya.

Di luar kompetisi lari resmi, aktivitas lari semakin banyak digeluti, karena faktor kemudahan yang ditawarkan olahraga ini. Tidak hanya di kota-kota besar, kini pemerintah daerah pun telah memiliki kesadaran mempromosikan gaya hidup sehat kepada warganya dengan memfasilitasi program Car Free Day (CFD) yang sudah digelar di 22 kota di Indonesia.

Dampak yang paling terlihat adalah berkembangnya komunitas lari berbasis daerah yang menyatukan individu peminat lari dari berbagai kalangan. Komunitas ini berperan cukup besar dalam menciptakan inovasi unik dalam berlari, misalnya komunitas lari gunung (trail running) dan komunitas lari malam yang banyak diikuti oleh karyawan.

Seiring meningkatnya komunitas lari di Indonesia, kebutuhan akan informasi yang relevan untuk mendukung pelari dalam memaksimalkan performa olahraga pun semakin dicari. Salah satu pengembang konten independen seputar olahraga lari, PT Kultur Lari Nusantara (Runhood) menilai kebutuhan akan informasi yang objektif dan lengkap yang spesifik membahas olahraga lari masih minim di Indonesia. Hal ini berbeda dengan sepak bola dan badminton yang dianggap lebih populer.

Dibangun sejak 2015 oleh Adystra Bimo, Founder, dan Fransiskus Kesuma, Co-Founder, Runhood memberikan informasi terkini terkait olahraga lari mulai dari dokumentasi kompetisi dalam dan luar negeri, ulasan produk, sampai diskusi dengan pelari profesional.

Adystra Bimo yang kerap disapa Dystra bukan sosok baru di dunia olahraga lari. Berawal dari sering membagikan pengalaman lari di kanal sosial pribadi, Dystra memutuskan untuk lebih serius memproduksi konten-konten lari secara masif dan luas di bawah nama Runhood Mag yang dapat menjaring lebih banyak audiens.

Dystra menilai olahraga lari memiliki banyak aspek pendukung, tidak terbatas pada teknik lari saja. Ia mengatakan, selama ini, jika berbicara mengenai olahraga, umumnya orang fokus dengan teknik untuk meningkatkan kemampuan. Namun Runhood ingin mengangkat olahraga lari dari berbagai sudut pandang berbeda, agar memperkaya referensi penggemar lari dalam meningkatkan performa dan motivasi dalam berlari.

“Untuk itu, Runhood menyajikan konten yang variatif, mulai dari gear pendukung, rute dan lokasi, profil komunitas serta cerita experience dari ajang lari di dalam negeri seperti Bali Marathon, Borobudur Marathon, Asian Games 2018 hingga kompetisi bergengsi di luar negeri seperti Tokyo Marathon dan London Marathon,” ujarnya.

Dinamika inilah yang menjadi potensi bisnis yang digali oleh Runhood. Dengan kombinasi kekuatan kreasi konten dan pengelolaan target pasar yang tepat, Runhood mampu menarik minat sponsor, brand ataupun perusahaan untuk memberikan kontribusi di ekosistem lari.

“Pada 2019 diperkirakan ada sekitar 340 event lari di lebih dari 20 kota, meningkat 300% dari tahun 2014 yang hanya sebanyak 102 event. Lewat tiga platform digital, Youtube, Instagram dan Facebook, Runhood dapat berperan sebagai media partner yang mempromosikan penyebaran event tersebut, sehingga membuka potensi partisipan yang lebih luas. Peranan ini dapat membuka kerja sama strategis antara Runhood dengan para penyelenggara event yang merupakan perusahaan dari berbagai industri, seperti perbankan, FMCG dan sports brand,” ujar Dystra, lulusan Master of Sports Management dari Université de Rennes 2, Perancis.

Potensi bisnis lainnya berasal segi konsumsi pelari terhadap apparel dan gear untuk menunjang aktivitas lari. Melihat persaingan sports brand yang kompetitif, Runhood menyadari perlunya informasi produk yang jujur dan mudah dipahami agar membantu pelari memilih perlengkapan pendukung yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Peluang ini kemudian menjadi kerja sama antara Runhood dengan berbagai sports brand ternama, di mana Runhood bertugas membuat ulasan produk tersebut lewat konten yang menarik. Diperlukan lebih banyak dialog dengan para brand untuk mengelola strategi sports marketing agar para sports talent dapat mendukung aktivitas pemasaran produk lebih baik.

Untuk mencapai tujuan di atas, Runhood mulai melirik peluang diversifikasi bisnis pada awal 2018, yaitu sports marketing agency. Eksplorasi bisnis ini berhasil membawa Runhood mencetak revenue lebih dari Rp.2 miliar pada akhir 2018 dengan tim sebanyak lima orang saja.

“Banyak sekali selling point yang bisa dieksplor di industri olahraga. Berbekal pengalaman selama 4 tahun di industri ini, kami menawarkan solusi yang lengkap untuk brand olahraga maupun non-olahraga yang ingin melakukan sports marketing di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan sampai eksekusi,” ujar Dystra.

Penulis: Natalia Trijaji