Rancang Mainan untuk Anak Tunanetra; Raih Sarjana di ITS

Rancang Mainan untuk Anak Tunanetra; Raih Sarjana di ITS

Rancang Mainan untuk Anak Tunanetra; Raih Sarjana di ITS

BaaDaaBoo menggabungkan beberapa permainan menjadi lebih segar untuk anak tunanetra yang masih dalam usia bermain

Surabaya, Kabarindo- Fikria Nur Baiti, wisudawan S1 Departemen Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, mempersembahkan tugas akhir (TA) untuk anak penyandang tunanetra dengan menciptakan mainan khusus.

Ia merancang mainan bernama BaaDaaBoo dengan menggabungkan beberapa permainan yang dibungkus menjadi lebih segar untuk anak tunanetra yang masih dalam usia bermain.

Menurut Betty sapaannya, mainan yang dikhususkan untuk anak penyandang tunanetra masih sulit ditemui. Biasanya permainan yang sering ditemui langsung terfokus pada pembelajaran huruf braille atau sejenis sistem tulisan sentuh yang diperuntukkan penyandang tunanetra.

“Masih jarang terdapat mainan khusus, utamanya untuk menunjang gerak aktif anak,” ujarnya..

Perempuan asal Gresik ini menjelaskan, permainan yang ia buat ditargetkan untuk anak yang masih dalam usia bermain. Karena untuk usia 4-6 tahun, mainan dibuat lebih fokus untuk pembelajaran tekstur dan orientasi mobilitas atau bergerak berpindah-pindah dengan arah tertentu. Latihan terhadap kemampuan motorik dan konsep arah pada anak juga didapat sekaligus saat menggunakan mainan buatannya.

Betty menerangkan, ukuran mainan ini cukup besar. Jika dirangkai secara keseluruhan mencapai 2 x 2 meter. Mainan ini dibuat dalam bentuk puzzle, sehingga dapat diubah-ubah konfigurasinya. Lintasan mainan dapat diubah sesuka hati, bisa berbentuk lurus, belok dan sebagainya.

“Lintasan mainan tersebut sebagai petunjuk arah. Sepanjang lintasan juga ada potongan berbagai bentuk puzzle dan alasnya, sehingga anak bisa bermain puzzle dengan mencocokkan bentuknya,” ujar mahasiswi angkatan 2015 ini.

Betty menambahkan, puzzle tersedia dalam berbagai bentuk geometris. Ada segitiga, lingkaran, kotak dan segilima yang dibuat dengan variasi tekstur halus dan kasar. Juga terdapat suara lagu tentang bentuk geometris yang dapat diputar saat bermain. Jadi ada lintasan yang bisa diikuti anak sambil bermain puzzle agar lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

Dengan satu permainan, menurut Betty, manfaat yang didapat oleh anak cukup banyak. Antara lain dapat melatih kepekaan terhadap indera peraba, melatih konsep arah dengan berkonsentrasi saat berjalan mengikuti lintasan serta orientasi mobilitas. Mainan ini juga aman digunakan penyandang tunanetra, karena bahannya dari karet EVA atau biasa disebut spons.

“Mainan ini sudah pernah dicoba oleh anak penyandang tunanetra di SLB (Sekolah Luar Biasa) di Surabaya dan Gresik. Mereka senang bermain puzzle geometris dan menyukai suara dari mainannya,” ujar Betty.

Ia merasa masih banyak kekurangan pada karya TA-nya tersebut. Karena waktunya singkat, Betty mengaku membuat prototype mainan ini dibantu teman-temannya. Ia berharap mainan ini dapat dikembangkan menjadi lebih baik.

“Saya ingin mainan ini dapat diproduksi dan diberikan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan nantinya, sehingga anak penyandang tunanetra dapat merasakan manfaatnya langsung,” ujar Betty.

Penulis: Natalia Trijaji