Nongkrong di Ibis HR Muhammad; Sambil Ngopi & Ngemil Jajan Pasar

Nongkrong di Ibis HR Muhammad; Sambil Ngopi & Ngemil Jajan Pasar

Nongkrong di Ibis HR Muhammad; Sambil Ngopi & Ngemil Jajan Pasar

Bersantai pada sore hari menikmati timus isi kacang, tahu brontak, lumpia goreng, tape bakar, senteleng dengan parutan kelapa dan lainnya

Surabaya, Kabarindo- Jajan pasar tak pernah membosankan untuk dinikmati. Apalagi ditemani kopi atau teh hangat pada sore hari setelah seharian bekerja atau pada akhir pekan.

Hotel Ibis Budget HR Muhammad di Surabaya menawarkan jajan pasar plus kopi atau teh pada pukul 14.00-16.00 di Waroeng Pati. Kita bisa duduk santai di teras sambil menunggu lalu-lintas agak longgar pada sore hari yang padat atau ngobrol bareng teman, kolega atau klien jika masih ingin melanjutkan urusan pekerjaan.

Menurut Agus Joyo, Manajer Waroeng Pati, di era milenial yang serba sibuk ini, masyarakat butuh tempat ngobrol atau bersantai sejenak untuk melepas lelah di tempat yang nyaman dengan suguhan yang ringan dan enak. Karena itu, Waroeng Pati menawarkan sebagai tempat jujugan atau meeting point untuk ngopi atau ngeteh dan menikmati jajan pasar.

“Banyak orang berpikir makanan di hotel itu-itu saja. Bosan. Nah, kami sajikan yang berbeda. Jajan pasar yang mungkin hanya bisa ditemui di pasar tradisional. Tamu bisa ngeteh atau ngopi dengan kopi tubruk di sini,” ujarnya.

Menariknya, beragam jajan pasar disajikan dengan ditata cantik di atas daun pisang di wadah sangkar kayu. Beberapa namanya unik. Ada timus isi kacang, tahu brontak, lumpia goreng, tape bakar, senteleng dengan parutan kelapa dan lainnya. Semuanya siap menggoyang lidah. Untuk teh dan kopi, juga disuguhkan dalam teko dan cangkir mungil warna hijau yang cantik. Siap menghangatkan tenggorokan.

Agus mengatakan, sekarang ini baru disajikan beberapa macam jajan pasar. Nantinya, jenis jajannya akan ditambah lagi, agar semakin banyak pilihan bagi tamu.

Kopi atau teh dan beragam jajan pasar tersebut bisa dinikmati hanya dengan merogoh Rp.50 ribu. Menurut Agus, harga tak perlu mahal tapi sepadan dengan sajian yang dinikmati.

Penulis: Natalia Trijaji