Guru Besar ITS; Ciptakan Berbagai Inovasi Berbasis Kemo dan Biosensor

Guru Besar ITS; Ciptakan Berbagai Inovasi Berbasis Kemo dan Biosensor

Guru Besar ITS; Ciptakan Berbagai Inovasi Berbasis Kemo dan Biosensor

Mulai dari bidang medis, pertanian hingga kehalalan

Surabaya, Kabarindo- Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ke-124, Prof Dr rer nat Fredy Kurniawan MSi, berhasil menciptakan berbagai inovasi berbasis kemo dan biosensor mulai dari bidang medis, pertanian hingga kehalalan.

Melalui temuan risetnya, Kepala Departemen Kimia ITS ini ingin membantu manusia di bidang deteksi dan analisis pada sebuah objek yang diaplikasikan pada berbagai bidang.

Dosen kimia ini menjelaskan, kemo dan biosensor memiliki fungsi untuk mendeteksi analat atau target dengan cara memberikan sinyal. Perbedaan keduanya hanya terletak pada keterlibatan komponen biologi atau tidak. Jadi fungsinya untuk men-sensing sesuatu, targetnya bergantung pada kasusnya.

Fredy menyebutkan 6 penelitian dalam orasi ilmiahnya, yaitu indikator titik beku, sensor glukosa, sensor dopamin, sensor sukrosa, sensor gelatin babi dan sensor kepedasan. Ia mengatakan, sebenarnya masih banyak penelitian lainnya, namun yang disebutkan hanya 6 penelitian itu.

Pada penelitiannya mengenai indikator titik beku, Fredy mengatakan tujuan utamanya adalah untuk mengatasi masalah penyimpanan vaksin polio. Vaksin polio harus tersimpan pada temperatur antara 0-10°C. Di luar temperatur tersebut, maka vaksin polio akan rusak. Tak heran jika penyakit polio di suatu daerah masih saja ditemukan, meskipun telah ada program penyuntikan vaksin polio.

“Vaksin dapat rusak ketika terjadi proses pemindahan dan kerusakan itu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang,” papar lelaki asal Blora, Jawa Tengah ini.

Melihat hal tersebut, Fredy membuat indikator yang dilekatkan pada vaksin saat penyimpanan. Menurutnya, penelitian ini memang sederhana, namun sangat bermanfaat.

“Vaksin yang belum rusak akan berwarna merah. Jika sudah mengalami perubahan suhu, warna merahnya akan menghilang yang menandakan vaksin sudah rusak,” jelasnya.

Penelitian selanjutnya adalah sensor glukosa. Fredy mengatakan, jika sensor glukosa pada umumnya menggunakan enzim. Namun dosen kelahiran 28 April 1974 ini berhasil membuat sensor menggunakan material aktif berupa emas nanopartikel untuk mendeteksi glukosa. Sensor dapat digunakan berulang kali dan dapat dibersihkan pada kondisi yang berat.

Selain itu, Fredy mengungkapkan penelitian tentang sensor dopamin. Mengetahui kadar dopamin sangat penting, karena kekurangan dopamin dapat menyebabkan kekacauan otak seperti parkinson atau skizofrenia. Dopamin sendiri merupakan kelompok hormon katekolamin yang mempunyai fungsi penting pada saraf pusat, renal dan hormonal serta sistem kardiovaskular.

“Dopamin ini senyawa penting, karena berfungsi untuk rasa bahagia dan positif. Untuk mendeteksi tinggi rendahnya bisa melalui darah maupun urin,” paparnya.

Tak hanya di bidang medis, Fredy juga berhasil menciptakan sensor sukrosa untuk bidang pertanian. Sukrosa dapat kita temui sehari-hari, seperti gula di dapur yang biasanya terbuat dari tebu. Dalam proses pembuatannya, untuk tebu sampai ke pabrik harus diukur dan dihitung terlebih dulu kandungan sukrosa di dalamnya. Karena petani tidak dapat mengukur kadar sukrosa, maka harga gula selalu ditetapkan oleh pabrik.

“Saat itu saya berpikir bagaimana caranya kita punya sensor yang mudah digunakan oleh petani, sehingga mereka tidak akan mudah dibohongi,” kata Fredy.

Ia bersama timnya telah membuat biosensor untuk sukrosa dengan melibatkan enzim invertase. Dengan hanya meneteskan sampel tebu pada ujung sensor, kandungan sukrosanya akan langsung terukur.

Tak hanya itu, Fredy juga menemukan alat pendeteksi gelatin babi. “Pembacaan dengan alat yang kami buat hanya dengan melihat pergeseran frekuensi. Frekuensi yang positif atau naik mengindikasikan adanya materi babi pada sampel, dan frekuensi negatif atau turun menunjukkan adanya kandungan materi dari sapi pada sampel,” jelasnya.

Terakhir dalam orasi ilmiahnya, Fredy menciptakan sensor kepedasan. Ia menjelaskan tingkat kepedasan pada cabai berbeda-beda, sehingga ia pun berinovasi menciptakan sensor untuk mengetahui kadar kepedasannya.

“Tim kami berhasil membuat sensor kepedasan yang berbasis emas termodifikasi, yang mampu menggantikan indera perasa manusia untuk mengukur rasa pedas pada cabai,” urai dosen yang mendapat gelar doctor rerum naturalium (Dr.rer.nat.) dari Regensburg University, Jerman, ini.

Melalui berbagai inovasinya tersebut, Fredy ingin membuat produk-produk yang lebih terjangkau di masyarakat dan dapat bermanfaat untuk banyak orang. Ia merasa penelitiannya belum dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Fredy menyampaikan bahwa kebahagiaan seorang peneliti sebenarnya adalah ketika produk penelitian yang dihasilkan dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain dan memberikan nilai lebih bagi mereka.

Penulis: Natalia Trijaji