BNPT Bekali Mahasiswa Baru ITS; Bentengi dari Radikalisme

BNPT Bekali Mahasiswa Baru ITS; Bentengi dari Radikalisme

BNPT Bekali Mahasiswa Baru ITS; Bentengi dari Radikalisme

Perguruan tinggi merupakan tempat yang tepat untuk mencerdaskan generasi bangsa agar mewaspadai bahaya terorisme

Surabaya, Kabarindo- Untuk membentengi mahasiswa dari paham radikalisme, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah mengundang Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Republik Indonesia, Brigadir Jenderal Polisi Ir Hamli ME, untuk menyampaikan kuliah umum bertema Strategi Pencegahan Terorisme di Perguruan Tinggi di acara Pengukuhan Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2018/2019 di Graha Sepuluh Nopember ITS.

Hamli mengatakan, terorisme merupakan permasalahan berskala internasional, terutama di wilayah yang sering terjadi konflik seperti Suriah dan Afghanistan. “Pelaku terorisme menganggap wilayah tersebut merupakan lahan subur untuk melakukan aksi mereka,” ujarnya.

Hamli menegaskan, aksi terorisme berdampak sangat buruk, termasuk kerugian materi yang sangat besar dan menyengsarakan masyarakat. “Mulai dari kehilangan harta, tempat tinggal, bahkan tidak sedikit yang kehilangan saudara-saudaranya, karena meninggal akibat terorisme,” ujarnya.

Pria yang menjabat sebagai Direktur Pencegahan BNPT sejak 7 Februari 2017 ini merujuk hasil riset oleh Indonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) pada 2012 yang menyebutkan, 45% motif aksi teror adalah ideologi agama.

“Banyak pelaku aksi teror juga merupakan korban dari pemahaman salah yang ditanamkan pada diri mereka, seperti memaknai jalan satu-satunya jihad adalah perang,” ujar Hamli.

Narasi radikalisme dan intoleransi yang sangat kuat mengitari masyarakat juga menjadi pemicu konflik, di antaranya narasi militansi yang menanamkan kebencian terhadap yang lain, narasi keterancaman, narasi teori konspirasi tentang terorisme, narasi umat yang diperlakukan tidak adil dan narasi intoleransi terkait sentimen keagamaan.

“Narasi-narasi tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat yang berpotensi mengarah pada terorisme,” ujar Hamli.

Untuk mengantisipasi potensi ancaman tersebut, BNPT telah menyusun strategi pencegahan radikal teror di perguruan tinggi yang diharapkan dapat diterapkan oleh setiap perguruan tinggi, termasuk di ITS.

Hamli mengajak seluruh mahasiswa baru ITS untuk berkontribusi dalam pencegahan radikalisme dan terorisme di Indonesia. Menurut ia, perguruan tinggi merupakan tempat yang tepat untuk mencerdaskan generasi bangsa agar mewaspadai bahaya terorisme, karena pemuda dan mahasiswa rentan terpapar paham radikalisme. Karena itu, ujung tombak yang paling tepat untuk melawan terorisme adalah pemuda.

Hamli mempersilakan Yudi Zulfahri yang pernah menjadi pendukung Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk memberikan testimoni di depan 4.994 maba mengenai pengalamannya. Ia sekarang menjadi Direktur Yayasan Jalin Perdamain yang fokus mengadakan sosialisasi pencegahan terorisme di sekolah dan perguruan tinggi.

Yudi menceritakan, dirinya dulu merupakan mahasiswa biasa yang membenci terorisme. Namun, setelah mengikuti sebuah kelompok tertentu, semakin lama ia tidak sadar jika dirinya telah hanyut dalam pemahaman yang menganggap bahwa ajaran yang diterimanya adalah yang paling benar dan ajaran lain adalah salah.

Ia mengimbau para mahasiswa agar menjauhi pemahaman-pemahaman yang mengarah kepada intoleransi dan merasa paling benar sendiri serta suka memvonis sesat di luar kelompok atau pemahamannya.

Penulis: Natalia Trijaji