MBG : Sejumlah siswa SMAN Bangil menerima pembagian paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Susu menjadi primadona anak-anak di masa Ramadan 2026. (FOTO : KABARINDO.COM/Anton C).
_____________
PASURUAN – Ruang kelas mendadak riuh saat seorang guru membagikan Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk para siswa. Wajah Anastasya dan beberapa temannya sontak sumringah. “Ini untuk dibawa pulang “ujarnya kepada Kabarindo.com Rabu (25/2/2025). Anastasya adalah siswa kelas 12 SMA Bangil, Pasuruan, Jawa Timur yamg sebentar lagi lulus.
Rata-rata usia siswa kelas 12 di SMA itu 17 tahun. Saat makanan dibagikan tangan anak-anak generasi penerus bangsa itu menggenggamnya dengan erat. Menu hari itu berbeda lantaran dalam suasana Ramadan. Paket MBG diberikan dalam bentuk makanan yang bisa dikonsumsi saat waktu berbuka tiba. Sebuah kotak susu cair dan wadah makanan dibagikan secara tertib. “Kalau sebelum Ramadan isinya nasi, ayam saus teriyaki, tumis sayuran, dan potongan buah pepaya atau melon,”katanya.
Tasya, begitu dia disapa, adalah anak sulung dari enam bersaudara. Bagi dirinya, makanan itu bukan sekadar pengganjal perut, tetapi sarana untuk berbagi. Di kepalanya, sudah terbayang wajah adik-adiknya yang menanti di rumah. Ayah Tasya adalah seorang pekerja lepas dengan penghasilan yang tidak menentu.Terkadang membawa pulang lembaran rupiah yang cukup untuk makan dua hari, namun tak jarang pulang dengan tangan hampa. Sebagai anak tertua, Tasya sangat memahami beban di pundak ayahnya. Karenanya, meskipun memiliki tiket eligible untuk mengakses sejumlah Perguruan Tinggi tanpa tes, dia belum memutuskan apakah melanjutkan studi ke jenjang sarjana ataukah harus membantu ayahnya untuk menopang ekonomi keluarganya. “Sedang mencoba mencari beasiswa. Semoga lolos, karena saya ingin kuliah,“ujarnya lirih.
Sesampainya di rumah, adik-adik Tasya yang bersekolah di tingkat SD langsung mengerubungi sang kakak. Tanpa ragu, Tasya membuka kotak MBG nya. Dia mengambil susu kemasan kotak untuk diserahkan ke adik paling bungsunya. Hal itu lantaran dua adik Tasya yang berdekolah di SDN Bendomungal 2 Bangil, Pasuruan masih belum tersentuh program MBG. “Mereka lebih butuh susu dibandingkan saya,”tegasnya.
Di sekolah lain, yakni SMKN Bangil, adik Tasya, Muhammad Rafael juga mendapatkan jatah MBG. Remaja yang baru kelas 10 itu tampak sigap mengambil jatah MBG nya. “Karena Ramadan semua saya bawa pulang. Biasanya, nasi saya makan di sekolah, hanya susu yang saya bawa pulang,”tuturnya.
Dengaan adanya program MBG, diakui Wawan (46), ayah Tasya dan Rafael membuat ekonomi keluarganya perlahan mulai memiliki fondasi. Dia berkata, Tasya kini melangkah ke sekolah dengan kepala tegak, tak lagi dihantui perut yang keroncongan di jam pelajaran kedua setelah istirahat siang. Agaknya, MBG telah mengubah kemiskinan yang sunyi menjadi keriuhan syukur di meja makan.
Bagi Wawan, program MBG tak sekadar pengganjal perut, melainkan asupan gizi untuk masa depan anak-anaknya. “Tentu pengeluaran harian saya jadi berkurang. Uang Rp15.000 hingga Rp20.000 yang biasanya harus saya sisihkan untuk uang saku dan makan siang anak-anak, kini bisa saya alokasikan untuk keperluan lain,”katanya.
Di rumah Wawn yang terlihat sepi itu, MBG bukan sekadar kebijakan pemerintah, tetapi berkah yang masuk melalui pintu-pintu sekolah, membawa harapan bagi anak-anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya. “Sebagai rakyat, tentu kami sangat bersyukur dan berterima kasih adanya program MBG ini,”tutup Wawan.
Sokong Generasi Berkualitas
Susu adalah sumber gizi lengkap yang berfungsi memperkuat tulang dan gigi (kalsium/vitamin D), membangun jaringan tubuh (protein), meningkatkan imun, serta menjadi sumber energi. Kandungan nutrisinya, seperti zat besi dan kalium, juga mendukung fungsi otak, menjaga kesehatan jantung, membantu tidur nyenyak, serta menunjang pertumbuhan anak.
Sayangnya, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih rendah. Menurut data dari Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia rata-rata berkisar di angka 16,27 kg/kapita/tahun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan negara lain. Atau hampir sepauh standar FAO atau Food and Agriculture Organization (Organisasi Pangan dan Pertanian), salah satu badan khusus di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang berada di kisaran 30 kilogram per kapita. Sebagai perbandingan, konsumsi susu masyarakat Brunei Darussalam mencapai 129 kg/kapita/tahun. Thailand senesar 22,2 kg/kapita/tahun, dan Malaysia 36,2 kg/kapita/tahun.
Selain karena masalah ekonomi masyarakat, rendahnya konsumsi susu karena harga susu yang masih mahal. Hal itu lantaran 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor, sementara populasi sapi perah hanya sekitar 541 ribu ekor dengan produktivitas 10–15 liter per hari, jauh dii bawah standar global 25–30 liter.Sekitar 80% bahan baku susu di Indonesia masih harus diimpor dari luar negeri (seperti Australia dan Selandia Baru). Hal ini membuat harga susu relatif mahal bagi sebagian besar lapisan masyarakat jika dibandingkan dengan sumber protein lain seperti telur atau tempe.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat produksi susu nasional. BRIN sendiri, telah mengembangkan riset berbasis IoT, genomik, multi-omik, hingga stem cell untuk meningkatkan produktivitas sapi perah.
Selain itu, BRIN membuka ruang sinergi dengan mitra, tidak hanya di sektor budidaya (on-farm), tetapi juga di pascapanen, termasuk riset protein nabati, hewan, ikan, dan susu. “Hasil riset harus terkoneksi dengan kebijakan, salah satunya melalui policy brief agar bisa segera dimanfaatkan pemangku kepentingan,” tegasnya.
Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Kementan, Hary Suhada, mengungkapkandari kebutuhan susu nasional 4,7 juta ton pada 2024, produksi dalam negeri baru 1 juta ton atau 21 persen. Untuk menutup defisit, pemerintah menyiapkan Inpres Percepatan Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN) dengan target produksi 8,17 juta ton pada 2029 atau 96 persen dari kebutuhan.
Meskipun menghadapi tantangan, namun Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan tetap menyediakan susu sebagai menu dalam MBG. Tak sekadar menyediakan susu, BGN juga merancang skema pendistribusian agar susu yang dikirimkan ke anak-anak sekolah tetap memiliki kandungan gizi yang tinggi, dan tak terdistorsi saat pengiriman.
Karenanya, BGN menerapkan kebijakan rantai dingin (cold chain) menjadi faktor kunci dalam menjamin keamanan susu pada program MBG. Melalui sistem ini, susu tidak hanya didistribusikan, tetapi dijaga mutunya sejak produksi hingga dikonsumsi anak.
Ketentuan tersebut diatur dalam Petunjuk Teknis (Juknis) Standar Penyediaan dan Distribusi Susu MBG yang disahkan melalui Keputusan Deputi Bidang Sistem dan Tata Kelola nomor 004/05/03/SK.04/02/2025 dan menjadi acuan nasional. Juknis ini mengatur kewajiban pengendalian suhu, penyimpanan, dan pengangkutan susu untuk mencegah kerusakan mutu serta risiko kontaminasi.
Menurut Kepala Biro Hukum dan Humas BGN Khairul Hidayati, tanpa pengelolaan suhu yang tepat, susu berpotensi mengalami penurunan kualitas yang berdampak pada kesehatan anak. “Rantai dingin ini menjadi mekanisme pencegahan risiko kesehatan, sehingga distribusi susu MBG tidak boleh dilakukan secara sembarangan,” kata Hida, sapaan Hidayati.
Hida menambahkan, juknis ini menjadi pedoman wajib bagi seluruh pihak yang terlibat, mulai dari penyedia, distributor, hingga satuan pendidikan. “Dengan standar cold chain yang jelas, setiap tahapan distribusi dapat diawasi dan dipertanggungjawabkan,” tambahnya.
Mendistribusikan susu hingga ke pelosok Indonesia, terutama untuk susu segar atau produk yang butuh suhu stabil, adalah tantangan logistik yang sangat kompleks. Sebagai negara kepulauan dengan infrastruktur yang belum merata, tantangan ini sering disebut sebagai perang melawan waktu dan suhu.
Susu segar adalah produk yang sangat sensitif. Tanpa suhu yang terjaga (biasanya di bawah 4°C), bakteri akan berkembang biak dengan cepat. Di daerah pelosok, gudang pendingin (cold storage) dan truk berpendingin sangat langka. Sementara untuk membangun infrastruktur pendingin memerlukan biaya besar dan perawatan rutin yang mahal bagi distributor kecil.
Tantangan lainnya, yakni Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang dipisahkan laut. Sehingga distribusi ke wilayah Timur Indonesia atau daerah pegunungan di Papua bisa memakan waktu berhari-hari. Semakin lama di perjalanan, semakin tinggi risiko kerusakan produk.
Setiap titik perpindahan adalah titik rawan di mana suhu bisa naik dan merusak susu.
Banyak daerah pedalaman memiliki jalanan yang rusak atau sempit yang tidak bisa dilalui truk logistik standar.
Sehingga seringkali distribusi harus menggunakan motor atau kendaraan kecil yang tidak memiliki alat pendingin memadai untuk menjangkau desa terpencil. Risikonya, guncangan di jalan yang buruk bisa menyebabkan kebocoran pada kemasan susu.
Untuk mengatasi kendala itu, industri susu tak tinggal diam. Merasa menjadi bagian dari pencapaian tujuan Indonesia Emas, industri susu dan kemasan mengadopsi teknologi kemasan Aseptik. Susu diproses dengan suhu sangat tinggi dan dikemas secara vakum agar tahan 6–12 bulan di suhu ruang tanpa pengawet. Inilah alasan mengapa susu kotak (UHT) jauh lebih mudah ditemukan di pelosok daripada susu segar.
Produk Dalam Negeri untuk Indonesia
PT Lami Packaging Indonesia (LamiPak Indonesia), adalah salah satu perusahaan yang menaruh perhatian besar terhadap kesuksesan program MBG. “Selain aspek distribusi, tantangan utama dalam program susu nasional adalah menjaga kualitas nutrisi agar tetap terjaga hingga ke tangan anak-anak di seluruh pelosok Nusantara. Di sinilah peran teknologi kemasan menjadi kunci,”tegas Direktur Utama PT Lami Packaging Indonesia Hongbiao Li.
Dia pun menyoroti bahwa rendahnya konsumsi susu berisiko menghambat ambisi Indonesia mencapai masa keemasan di tahun 2045. “Kami mendukung program susu gratis yang disisipkan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Susu bukan sekadar pelengkap, melainkan instrumen vital untuk memerangi stunting dan meningkatkan kecerdasan kognitif generasi muda,”tegasnya.
Bentuk dukungan yang disodorkan LamiPak berupa inovasi teknologi kemasan aseptik enam lapis) yang melindungi produk cair tanpa pengawet, menjaga nutrisi, dan memungkinkan penyimpanan tanpa rantai dingin. Enam lapisan itu terdiri dari outer layer, paperboard with printing ink, lamination layer, alumunium foil, tie layer, dan inside multilayer yang memastikan sterilitas produk. LamiPak juga mengembangkan teknologi kemasan aluminum-free yang dapat didaur ulang dan mengurangi jejak karbon hingga 28%.
Produk kemasan aseptik inovatif LamiPak saat ini menjadi yang pertama di industri kemasan aseptik yang memiliki sertifikasi BRC, FSSC 22000, HALAL, ISO 9001, ISO 14001, PEFC, dan FSC, yang menunjukkan komitmen perusahaan terhadap standar global kualitas dan keamanan pangan. Skema sertifikasi ini diakuisecara internasional dan mencerminkan dedikasi LamiPak terhadap praktik sumber daya yang berkelanjutan.
LamiPak memiliki pabrik kemasan Aseptik di Cikande, Serangyang diresmikan pada 2024. Untuk membangun pabrik ini, investasi yang digelontorkan mencapai Rp 3 triliun. Pabrik LamiPak memiliki kapasitas 21 miliar kemasan per tahundimana 60-70% untuk measan susu/dairy, santan, dan jus. Selain memenuhi kebutuhan di dlam negeri, LamiPak juga mengekspor produknya hingga ke Eropa.
Public Relations Manager PT Lami Packaging Indonesia, Ahmad Rizalmi, menjelaskan bahwa LamiPak Indonesia berkomitmen menyediakan solusi kemasan aseptik berkualitas tinggi yang mampu menjaga sterilitas susu tanpa memerlukan bahan pengawet. “Susu yang disimpan di kemasan LamiPak bisa tahan hingga satu tahun asalakan belum dibuka,”ujarnya kepada Kabarindo.com saat kunjungan ke pabrik LamiPak di kawasan industri Cikande, Serang, Banten pertengahan Januari 2026 silam.
Menurut dia, logistik di Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan suhu dan waktu. Kemasan aseptik LamiPak dirancang dengan teknologi perlindungan berlapis yang memastikan nutrisi susu tetap utuh meski didistribusikan ke wilayah pelosok tanpa rantai dingin (cold chain). “Kami ingin memastikan bahwa ‘Satu Kotak Susu’ yang diterima anak-anak di daerah terpencil memiliki kualitas yang sama baiknya dengan di kota besar,” tutur Ahmad Rizalmi.
Menurut dia, tingkat konsumsi susu di Indonesia tergolong masih rendah, juga disebabkan tantangan distribusi di wilayah kepulauan Indonesia. Sebagai produk bernutrisi yang mudah rusak, susu membutuhkan sistem yang mampu menjaga kualitas dan keamanannya dari proses produksi hingga dikonsumsi.
“Di banyak wilayah, keterbatasan infrastruktur rantai dingin menjadi kendala utama, yang meningkatkan risiko penurunan mutu serta membatasi akses masyarakat terhadap produk susu yang aman. Akibatnya, masyarakat di daerah terpencil dan tertinggal sering kali menghadapi ketimpangan akses terhadap pangan bergizi,” urainya.
Tantangan ini menjadi semakin relevan dalam konteks Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan oleh pemerintah, dimana susu menjadi salah satu komponen nya.
“Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan produk, tetapi juga pada kemampuan sistem distribusi untuk memastikan susu dapat disalurkan secara aman dan efisien ke seluruh wilayah. Tanpa dukungan pengemasan yang memadai, dampak gizi yang diharapkan dari program ini tidak akan tercapai secara optimal,” imbuhnya.
Kemasan aseptik LamiPak menawarkan solusi praktis dengan memungkinkan distribusi susu tanpa memerlukan pendinginan, sekaligus menjaga keamanan dan kualitas nutrisi produk. Teknologi ini memungkinkan susu menjangkau wilayah-wilayah yang lebih luas dan terpencil, sehingga mendukung pemerataan akses gizi di seluruh Indonesia.
Hingga beberapa tahun terakhir, kebutuhan kemasan aseptik di Indonesia sebagian besar masih dipenuhi melalui impor. Dimulainya kapasitas produksi kemasan aseptik dalam negeri pada 2024 oleh LamiPak menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian nasional, meningkatkan efisiensi rantai pasok, serta mendukung ketahanan pangan jangka panjang. “Kehadiran manufaktur lokal seperti kami juga berkontribusi terhadap keberlanjutan industri nasional,” imbuhnya.
Bagi LamiPark, ketersediaan susu yang aman dan berkualitas harus didukung sistem distribusi dan pengemasan yang andal. Karenanya, perusahaan ini memiliki mkomitmen kuat untuk menjadi bagian dari terciptanya Generasi Emas. “Kami ingin menjadi bagian dari sejarah Indonesia untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang cerdas, terampil dan bermartabat,”tutup Ahmad Rizalmi.





