Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Berita Utama > RA. Kartini: Lebih Dari Pejuang Emansipasi Perempuan

RA. Kartini: Lebih Dari Pejuang Emansipasi Perempuan

Berita Utama | Sabtu, 21 April 2018 | 18:11 WIB
Oleh : ARUL Muchsen

BAGIKAN :
RA. Kartini: Lebih Dari Pejuang Emansipasi Perempuan

Jakarta,  KABARINDO-Portal- RA. Kartini lebih dari pejuang Emansipasi Perempuan Indonesia.
Menurut Ahmad Nurcholish
(Penulis buku Celoteh Kartini, aktivis Kebinekaan dan Perdamaian) berikut ini yang diakses dari WAG WowSaveID.

Jika kita menyebut “Jepara” maka ingatan kita biasanya menuju pada dua hal: seni ukiran kayu dan Raden Ajeng Kartini. Ukiran kayu asal Jepara memang tak hanya terkenal di tanah Air tapi juga hingga mancanegara. Pun dengan RA. Kartini. Ketenaran namanya tak hanya dikenang oleh masyarakat Indonesia tapi juga oleh dunia internasional. Namun sejauh manakah perkenalan dan kenangan kita terhadap sosok Kartini?

 Tak dapat disangkal bahwa ingatan dan pengetahuan kita terhadap perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 ini hanya sebatas pada perjuangannya atas emansipasi kaum Hawa. Itupun tiap kali kita memperingatinya pada tanggal kelaiharannya hanya dengan seremoni pakaian kebaya dan pakaian khas Jawa lainnya. Lebih dari itu, misalnya dengan membincang lebih mendalam apa sih sebetulnya kiprah dan perjuangan Kartini semasa hidupnya masih terbatas kalangan tertentu saja. Akademisi, sejarawan, aktivis perempuan, dan penggiat kesetaran jender adalah diantaranya.

 Itu sebabnya pemandangan saban tahun tak pernah berubah. Kesibukan para murid dan orang tua mencari kebaya, blangkon, dan pakaian khas Jawa Tengah lainnya selalu mewarnai jelang peringatan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April. Seolah ingatan kita tentang perempuan pejuang emansipasi kaumnya ini hanya itu. Padahal Kartini tak sebatas kebaya dan seremoni. Kartini adalah hak perempuan, perjuangan kesetaraan jender, dan nasionalisme Indonesia di akhir abad ke-19.

Itu sebabnya, W.R. Supratman ada benarnya ketika menyebut Kartini sebagai “pendekar kaumnya”. Seorang pendekar adalah pembela yang tak selamanya memenangi perkelahian. Demikian catatan Majalah Tempo dalam edisi khusus April 2013 yang kemudian diterbitkan dalam bentuk buku bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia pada Juni 2013 silam.

RA. Kartini merupakan putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang semasa hidupnya pernah menjabat sebagai Bupati Jepara yang diangkat saat berusia sangat muda, yakni 25 tahun. Ia juga  dikenal sebagai salah satu bupati pertama yang memberikan pendidikan barat (baca: pendidikan modern ala Eropa) kepada anak-anaknya.

R.M. Adipati Ario Sosroningrat juga pernah menjabat sebagai bupati Jepara setelah Kartini dilahirkan. Dari ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Tidak hanya itu, ayahnya ditengarai masih memiliki garis keturunan dari Kerajaan Majapahit. Hal ini diperkuat dengan pernyataan bahwa pada abad ke-18 Pangeran Dangirin menjadi bupati di Surabaya sehingga nenek moyang R.M. Adipati Ario Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di Pangreh Praja.  Informasi ini memang perlu diteliti lebih lanjut untuk mendapatkan akujrasi kavalidannya.
Berbeda dengan ayahnya, ibu dari Kartini bukanlah  keturunan dari bangsawan melainkan hanya rakyat biasa. Namanya M.A. Ngasirah yang merupakan anak dari Kyai Haji Madirono dengan Nyai Haji Siti Aminah, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara kandungnya, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakaknya yang bernama Sosrokartono, dikenal sebagai seorang yang pintar dalam bidang sastra dan  bahasa.

Terkait dengan nama depan RA (Raden Ajeng atau Raden Ayu) adalah sebuah gelar yang diberikan kepada keluarga bangsawan karena Kartini merupakan anak dari kalangan keluarga bangsawan, maka ia berhak mendapatkan gelar R.A atau bisa disebut dengan “Raden Ajeng” jika belum menikah, dan “Raden Ayu” jika sudah menikah.

Sang ayah, R.M. Adipati Ario Sosroningrat, pada pernikahan pertamanya,  menjabat sebagai Wedana di Mayong. Peraturan kolonial pada saat itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Maka M.A. Ngasirah yang bukan dari keturunan bangsawan harus rela karena R.M. Adipati Ario Sosroningrat yang merupakan seorang bangsawan menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung dari seorang Raja Madura yang bernama R.A.A. Tjitrowikromo. Setelah pernikahan tersebut ayah Kartini diangkat menjadi Bupati di Jepara. M.A. Ngasirah menjadi istri pertama dan R.A. Woerjan menjadi istri utama.

Seperti juga kakek Kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV yang melek pendidikan Barat, sang ayah pun demikian. Ia memberi kesempatan kepada Kartini untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Kartini pun bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah ini ia belajar Bahasa Belanda. Sayangnya hal ini hanya bisa dinikmati oleh Kartini sampai usia 12 tahun. Mengapa demikian? Sebab budaya pada masa itu, anak perempuan harus tinggal di rumah untuk 'dipingit' dapat diartikan sebagai dikurung di dalam rumah hingga ada seorang lelaki yang melamar dan menikahinya kelak.
Menginjak usianya 13 tahun tak membuat Kartini berhenti belajar. Belajar dapat di mana saja dan kapanpun selagi kita memiliki kemauan dan kesempatan. Itulah yang dilakukan Kartini. Ia bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya bernama Rosa Abendanon.

Kebiasaan Kartini yang menulis surat kepada teman-teman korespondensi dan juga ditambah dengan sering membaca buku, koran, maupun majalah Eropa, Kartini menjadi tertarik pada kemajuan pola berpikir perempuan Eropa. Akhirnya timbul keinginan untuk memajukan perempuan pribumi karena pada masa itu dengan budaya yang memarjinalkan perempuan, ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat. Juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie.

Dari surat-suratnya, sejumlah sumber menyebut bahwa tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi perempuan, tetapi juga masalah sosial umum, kepemimpinan, pendidikan, bahkan agama. Kartini melihat perjuangan perempuan agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling, Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen, Zelf-werkzaamheid, dan Solidariteit. Semua itu atas dasar Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan, ditambah dengan peri kemanusiaandan Nasionalisme (cinta tanah air). Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi wanita Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.

Tak hanya membaca surat kabar dan majalah. Kartini muda juga gemar melahab berbagai buku. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.

Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, juga  terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginannya tersebut. Akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.

Pada 1903 saat Kartini berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi mungkin hanya akan menjadi mimpi yang tidak dapat diwudujkan. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

R.A Kartini menikah dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 12 November 1903. Ia merupakan seorang bangsawan dan menjabat sebagai Bupati di Rembang yang telah memiliki tiga orang istri. Untungnya suaminya mengerti apa yang diinginkan oleh Kartini. Akhirnya Kartini diberi kebebasan dan didukung untuk mendirikan sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang dan sekarang bangunan tersebut digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Pernikahannya dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo melahirkan satu orang anak bernama Soesalit Djojoahiningrat, lahir 13 September 1904. Berselang beberapa hari setelah melahirkan tepatnya 17 September 1904, Kartini meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Berkat kegigihan yang dilakukan Kartini, kemudian banyak sekolah perempuan yang berdiri di sejumlah kota,  seperti Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, daerah lainnya, selain sekolah perempuan yang didirikan oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912. Nama sekolah tersebut adalah Sekolah Kartini yang didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis. Biografipedia menyebut bahwa Politik Etis adalah suatu pemikiran yang menyatakan bahwa pemerintah kolonial memegang tanggung jawab moral bagi kesejahteraan pribumi.

Setelah kematian Kartini, seseorang yang bernama J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-teman korespondensi yang berada di Eropa. J.H. Abendanon yang pada saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang memiliki arti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran. Pada tahun 1938 keluar buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.

Kartini adalah kontradiksi: ia cerdas sekaligus lemah hati. Ia tak enggan menyerap ide masyarakat Barat tapi tak takluk pada adat. Ia feminis yang dicurigai. Ia dianggap terkooptasi oleh ide-ide colonial. Tapi satu yang tak bisa dilupakan: ia inspirasi bagi gerakan nasionalisme di Tanah Air hingga dewasa ini.
Perempuan Jawa ini merupakan pemikir feminisme awal di Indonesia. dia perempuan yang gagasan-gagasannya dinilai mencerahkan dan mengilhami banyak kalangan. Untuk hal ini ia mewariskan ratusan pucuk surat – bagian dari korespondensinya dengan sahabat-sahabatnya di Belanda sebagaimana disebut di atas.

Perjuangan Kartini dimulai di lingkungan keluarganya sendiri. Ia, bersama dengan dua adiknya, misalnya, berani melepaskan berbagai unggah-ungguh atau etiket yang dinilai ruwet. Kartini mengijninkan adik-adiknya memanggil dengan kata “kamu”, begitu pula Kartini memanggil adik-adiknya, hal yang sebelumnya terlarang. Kartini tak butuh panggilan dengan kromo inggil atau bahasa halus, apalagi sembah setelah berbicara, dari adik-adiknya.
Dalam bukunya berjudul  Kartini: Sebuah Biografi, Sitisoemandari Soeroto menyebut tindakan Kartini itu revolusioner dan Kartini menjadi perintis yang patut dicatat dalam sejarah. Pun dengan Pramoedya Ananta Toer, yang menulis biografi Panggil Aku Kartini Saja, menyebutkan Kartini melihat baik atau buruk taka da batasnya dalam tata kehidupan feodal. Ukurannya hanyalah anggukan atau gelengan kaum aristokrat feodal, yang bisa sesuka-sukanya. Dalam kondisi itu, ilmu pengetahuan tak berharga sama sekali.

Memberontak terhadap feodalisme, menentang keras poligami, dan memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan adalah pokok-pokok perjuangan Kartini. Dia paham betul itu tak mudah dan butuh waktu yang panjang. Tapi ia percaya perjuangannya suatu saat akan membuahkan hasil. “Perubahan akan datang di Bumiputera,” Kartini menulis dalam surat kepada Stella pada 9 Januari 1901. “Jika tidak karena kami, pasti dari orang lain. Emansipasi telah berkibar di udara – sudah ditakdirkan.”
Ada energy yang bergelora, ada optimisme. Begitulah Kartini. Dalam kata-kata Aristides Katoppo, editor buku Satu Abad Kartini, “Ia menyongsong masa depan, (sementara) yang lain masih terkungkung dan tersandera keadaan.”

Demikianlah Kartini. Ia tak sekedar pejuang emansipasi perempuan. Ia juga gigih bicara tentang pentingnya pendidikan, pentingnya sebuah cita-cita, isu-isu kebangsaan, dan juga kemanusiaan, bahkan cinta dan agama. Nukilan dari ujaran-ujaran bijak Kartini itulah yang Anda bisa baca di dalam buku Celoteh Kartini: 232 Ujaran Bijak Sang Pejuang Emansipasi.


RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER