Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Berita Utama > Metode Cut and Fill Mining Sebagai Solusi Tambang Bawah Tanah yang Aman dan Ramah Lingkungan

Metode Cut and Fill Mining Sebagai Solusi Tambang Bawah Tanah yang Aman dan Ramah Lingkungan

Berita Utama | Selasa, 20 Januari 2026 | 00:12 WIB
Editor : Anton CH

BAGIKAN :
Metode Cut and Fill Mining Sebagai Solusi Tambang Bawah Tanah yang Aman dan Ramah Lingkungan

Ketua Bidang Hilirisasi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha. (FOTO : ISTIMEWA).

______

JAKARTA -- Metode cut and fill mining merupakan metode penambangan bawah tanah yang mengutamakan keselamatan kerja dan perlindungan lingkungan. Keunggulan utama cut and fill mining adalah minimnya pembukaan lahan di permukaan sehingga hutan dan ekosistem tetap terjaga.

Metode ini dilakukan dengan menambang bijih mineral secara bertahap kemudian mengisi kembali rongga bekas tambang/backfilling menggunakan tailing atau material sisa hasil pengolahan yang telah ditreatment sehingga sesuai dengan standar baku mutu.

Metode ini didukung teknologi pengolahan modern, termasuk fasilitas pengolahan sulfur guna memastikan tailing aman bagi lingkungan dan masyarakat. Sebelum dipergunakan, material backfill dicampur dengan semen untuk meningkatkan kekuatan, kestabilan, serta mencegah rembesan ke tanah dan air tanah.

Industri pertambangan global tengah mengalami transformasi besar menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Salah satu teknik yang kini menjadi primadona adalah backfill (penimbunan kembali). Bukan sekadar mengisi lubang, teknik ini telah berevolusi menjadi strategi teknis untuk mendukung keselamatan operasional sekaligus meminimalkan jejak ekologis.

“Metode backfill ini diadopsi di dalam negeri sejak 2015 dan memang terbukti ramah lingkungan,”tegas Ketua Bidang Hilirisasi Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Muhammad Toha dihubungi Kabarindo.com, kemarin.

Dulu, lanjut dia, tidak terpikir untuk mengolah limbah di dalam negeri. Sejak ada kebijakan hilirisasi, kemudian terpikirkan bagaimana mengelola sisa hasil pengolahan. Diataranya, tailing, slag, dan waste atau limbah. Sehingga, industri pertambangan nasional mengadopsi metode backfill.

Konsep dari metode backfill yakni kegiatan penambangan mengambil material ekonomis, yang tidak ekonomis kemudian dijadikan material penutup. Area yang sudah selesai ditambang ditutup kemudian di reklamasi dan regevetasi.

Tujuannya adalah mengembalikan lagi material tambang dengan beberapa skema teknis untuk memastikan bahwa matetial tailing dikembalikan ke area tambang memungkinkan untuk di reklamasi dan tanaman tumbuh dengan normal. “Di China hasilnya positif dan bagus, tanamam tumbuh baik dan tak ada isu lingkungan,”paparnya.

Menurut Toha, tidak semua limbah tambang dapat digunakan sebagai material pengisi. Waste yang digunakan harus memenuhi standar baku mutu, antara lain pH netral (7–9), kandungan sulfur minimum 6 persen, lulus uji TCLP, serta uji tingkat radioaktivitas.

Kegiatan reklamasi pascatambang membutuhkan material yang banyak untuk menutup bekas lubang tambang. “Ada material tailing yang bisa dugunakan. Dari sisi pertambangan ada solusi positif, tidak ada kesulitan mencari bahan penutup,”ungkapnya. Dari pengolahan, ada kepastian untuk penempatan tailing yakni di backfilling. Dari sisi lingkungan, hal itu itu menjadi positif, karena tailing, slag, maupum waste kalau tidak dikelaola degan baik akan menjadi beban lingkungan. “Dengan adanya backfilling beban lingkungan bisa teratasi. Konsep itu sudah proven di China,”tegasnya.

Beberapa perusahaan tambang dunia menggunakan teknik backfilling untuk mengurangi tailing, antara lain Linglong Gold Mine (LLGM), China yang menggunakan cemented tailings backfill (CTB) untuk mengisi goaf, memungkinkan 15,8 tahun tanpa pelepasan tailing baru. Kemudian Bluestone Mines Tasmania yang memanfaatkan cemented paste backfill untuk dukungan tanah, mengalihkan 88.500 ton tailing/tahun dari penyimpanan permukaan.

Sementara penerapan metode ini di Indonesia hanya dapat dilakukan setelah memenuhi persyaratan teknis, lingkungan, serta memperoleh izin resmi dari pemerintah. Hingga saat ini, ada dua tambang di Indonesia yang berencana akan menerapkan metode ini yaitu tambang Big Gossan di Papua milik PT Freeport Indonesia dan tambang seng dan timah hitam di Dairi, Sumatera Utara milik PT Dairi Prima Mineral.

Sedangkan Direktur Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bismar Bakhtiar menilai, perusahaan tambang yang beroperasi di Indonesia melakukan pencegahan dan mitigasi dengan melakukan reklamasi pascatambang. “Pertambangan sepanjang dilakukan dengan good miming practise maka aman,”tegasnya.

Target Penerimaan Negara

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batubara (minerba) pada 2026 mencapai Rp134 triliun.

Target PNBP tersebut lebih tinggi dibandingkan target pada 2025 sebesar Rp124,7 triliun, meski terdapat pemangkasan produksi batubara dan nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.

Direktur Jenderal Minerba Kementerian ESDM Tri Winarno ditemui di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (19/1), mengatakan kenaikan harga sejumlah komoditas seperti timah, nikel, dan emas menjadi salah satu faktor yang diyakini dapat mendukung pencapaian target tersebut.

“Kita juga mempertimbangkan itu. Maksudnya sekarang harga juga naik, kan? Terus ada beberapa komoditas lain kayak timah juga naik, kemudian nikel, emas, dan lain sebagainya. Jadi mudah-mudahan tercapai,” ujarnya.

Menurut data Kementerian ESDM, realisasi PNBP sektor minerba pada 2025 mencapai Rp138,37 triliun, melampaui target APBN yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp127,44 triliun.

Sementara itu, secara keseluruhan PNBP ESDM pada 2025 mencapai Rp243,41 triliun, lebih rendah dari target Rp255,5 triliun.

Kementerian ESDM sebelumnya menyatakan akan memangkas produksi batu bara menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026, turun nyaris 200 ton dibandingkan produksi batu bara pada 2025 sebesar 790 juta ton.


RELATED POST


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER