Oleh: Hasyim Arsal Alhabsi, Direktur Dehills Institute
KABARINDO, JAKARTA - Dalam dunia penulisan dan analisis, penggunaan gaya totem pro parte dan pars pro toto sering kali menjadi alat retorika yang memengaruhi persepsi pembaca. Meski efektif untuk menyampaikan narasi yang kuat, kedua pendekatan ini dapat menjadi jebakan yang membahayakan objektivitas dan validitas jika digunakan secara tidak bertanggung jawab.
Memahami Totem Pro Parte dan Pars Pro Toto
1. Totem Pro Parte: Sebuah elemen kecil dianggap sebagai simbol yang mewakili keseluruhan. Pendekatan ini lebih bersifat simbolis dan digunakan untuk menonjolkan suatu elemen tertentu sebagai representasi utuh.
2. Pars Pro Toto: Sebagian kecil dianggap sebagai keseluruhan, bukan secara simbolis, tetapi secara kuantitatif atau kualitatif. Pendekatan ini mencoba menyimpulkan keseluruhan berdasarkan elemen parsial.
Bahaya yang Mengintai
Kedua gaya ini memiliki potensi untuk merusak analisis jika digunakan tanpa kehati-hatian:
1. Menyederhanakan Realitas yang Kompleks
Baik totem pro parte maupun pars pro toto cenderung menyajikan gambaran yang tidak lengkap. Dalam analisis yang mengandalkan pendekatan ini, pembaca sering kali diarahkan pada kesimpulan yang terlalu sederhana, sehingga mengabaikan kompleksitas konteks yang ada.
2. Mendorong Bias dan Polarisasi
• Dalam totem pro parte, elemen yang dipilih biasanya mendukung narasi tertentu, yang berisiko memperkuat bias pembaca.
• Dalam pars pro toto, penggunaan bagian kecil sebagai representasi keseluruhan dapat menciptakan generalisasi yang menyesatkan dan memperburuk polarisasi.
3. Mengaburkan Kebenaran
Keduanya sering digunakan untuk menciptakan narasi yang tampak benar secara sepintas, tetapi sebenarnya jauh dari kenyataan. Dengan memilih elemen tertentu dan mengabaikan yang lain, fakta dapat dimanipulasi untuk mendukung agenda tertentu.
Contoh Praktis Bahaya Gaya Ini
• Totem Pro Parte: Menggunakan aksi walk out satu negara dalam forum internasional sebagai simbol ketidakseragaman pandangan seluruh negara anggota tanpa menjelaskan konteks aksi tersebut.
• Pars Pro Toto: Mengklaim bahwa seluruh komunitas Muslim di suatu negara tidak mampu berintegrasi hanya berdasarkan tindakan segelintir individu.
Cara Menghindari Jebakan
Untuk menjaga kualitas analisis, penting untuk menerapkan langkah-langkah berikut:
1. Menyajikan Konteks yang Utuh
Setiap elemen yang diangkat harus disertai konteks yang memadai agar tidak terjadi misinterpretasi. Misalnya, saat membahas aksi walk out, jelaskan latar belakang, alasan, dan implikasi diplomatiknya.
2. Menggunakan Data Representatif
Data yang digunakan dalam analisis harus mencerminkan keseluruhan, bukan hanya bagian yang mendukung argumen tertentu. Pastikan sumber data valid dan mencakup variasi pandangan.
3. Meningkatkan Kesadaran terhadap Kompleksitas
Analisis yang baik tidak hanya mengangkat elemen tunggal, tetapi juga menggambarkan keragaman faktor yang memengaruhi isu. Hal ini membantu pembaca memahami dimensi yang lebih luas.
4. Menghindari Stereotip dan Prasangka
Jangan gunakan elemen parsial untuk memperkuat stereotip terhadap kelompok tertentu. Fokuslah pada analisis yang mengedepankan keadilan dan keseimbangan.
5. Menawarkan Nuansa dalam Narasi
Daripada memaksakan kesimpulan yang seragam, paparkan nuansa yang ada dalam isu yang dibahas. Hal ini membantu pembaca memahami kerumitan topik.
Gaya totem pro parte dan pars pro toto dapat menjadi alat yang kuat dalam komunikasi, tetapi jika digunakan tanpa kehati-hatian, keduanya dapat merusak kepercayaan pembaca dan mengaburkan kebenaran. Untuk mendorong diskusi yang sehat dan konstruktif, analisis harus dilandasi dengan fakta yang representatif, konteks yang utuh, dan narasi yang seimbang. Kesadaran akan jebakan ini merupakan langkah awal untuk membangun argumen yang cerdas dan bertanggung jawab.