Kredit Investasi Tumbuh 17,98%, Ditopang Sektor Pertambangan & Industri Pengolahan
KABARINDO, SURABAYA - Kinerja intermediasi perbankan di Indonesia meningkat dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas di level yang memadai.
Pada November 2025, kredit tumbuh 7,74% yoy (Okt-25: 7,36%) menjadi sebesar Rp.8.314,48 triliun, terutama dikontribusikan dari pertumbuhan pada sektor pengangkutan dan pergudangan sebesar 18,33%, pengadaan listrik, gas dan air sebesar 21,83%, industri pertambangan sebesar 11,0% serta konstruksi sebesar 8,14%.
Data tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta pada 24 Desember 2025.
Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan, M. Ismail Riyadi, mengatakan kinerja intermediasi sampai akhir 2025 diperkirakan semakin solid, dengan pertumbuhan kredit diperkirakan akan di atas batas bawah target yang ditetapkan OJK, sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) diyakini akan mencapai pertumbuhan double digit.
“Hal ini menunjukkan perbankan telah mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit dan sektor riil telah mulai menunjukkan perbaikan permintaan. Untuk tahun 2026, kinerja perbankan diproyeksikan tetap solid, dengan pertumbuhan kredit dan DPK yang tetap stabil, ditopang oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat,” ujarnya pada Jumat (9/1/2025).
Ismail menyebutkan, berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 17,98% yoy, utamanya ditopang oleh sektor pertambangan dan industri pengolahan. Pertumbuhan kredit investasi tersebut merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 10 tahun terakhir, yang menunjukkan peran perbankan dalam pembiayaan ekspansi dan peningkatan kapasitas sektor riil untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Lebih lanjut, Kredit Konsumsi tumbuh 6,67% yoy, sementara Kredit Modal Kerja tumbuh 2,04% yoy. Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 12,06% yoy, sementara kredit UMKM terkontraksi 0,64% yoy.
Di sisi lain, DPK melanjutkan pertumbuhan yang tinggi mencapai 12,03% yoy (Okt-25: 11,48%) menjadi Rp.9.899,07 triliun. Penurunan suku bunga perbankan terus berlanjut. Dibandingkan tahun sebelumnya, rerata tertimbang suku bunga kredit rupiah turun 26 bps (yoy) dan 4 bps (mtm) menjadi 8,97% pada November 2025 (Nov-24: 9,23%; Okt-25: 9,01 %), utamanya didorong penurunan suku bunga kredit produktif. Suku bunga Kredit Modal Kerja turun 44 bps (yoy) dan 6 bps (mtm) menjadi 8,24% pada November 2025 (Nov-24: 8,68%; Okt-25: 8,30%).
Dari sisi penghimpunan dana, rerata tertimbang suku bunga DPK rupiah juga terpantau menurun sebesar 29 bps (yoy) dan sebesar 8 bps (mtm) menjadi 2,77% (Nov-24: 3,06%; Okt-25: 2,85%) dengan penurunan utamanya pada deposito. Adapun suku bunga deposito tercatat turun 66 bps (yoy) dan 15 bps (mtm) menjadi 4,60% pada Nov-25 (Nov-24: 5,26%; Okt-25: 4,75%).
Likuiditas industri perbankan pada November 2025 tercatat memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 131,49% (Okt-25: 130,97%) dan 29,67% (Okt-25: 29,47%), masih di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%. Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 210,38%, sementara LDR tercatat sebesar 83,99% dan masih terdapat ruang dalam mengantisipasi peningkatan kredit.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,21% (Okt-25: 2,25%) dan NPL net membaik menjadi 0,86% (Okt-25: 0,90%). Loan at Risk (LaR) turun dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 9,22% (Okt-25: 9,41%).
Ketahanan perbankan juga tetap kuat tercermin dari permodalan (CAR) yang berada di level tinggi sebesar 26,05% (Okt-25: 26,38%), sehingga dapat menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global.
Selanjutnya, porsi kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan tercatat sebesar 0,32% dari total kredit perbankan dan terus mencatatkan pertumbuhan yang tinggi secara tahunan. Per November 2025, baki debet kredit BNPL perbankan sebagaimana dilaporkan melalui SLIK, tumbuh 20,34% yoy (Okt-25: 21,03%) menjadi Rp.26,20 triliun (Okt-25: Rp.25,72 triliun), dengan jumlah rekening mencapai 31,47 juta (Okt-25: 30,99 juta) dan NPL gross sebesar 2,04% (Okt-25: 2,50%).





