Kopi Djagongan; Asik untuk Nongkrong, Dikunjungi Banyak Keluarga

Kopi Djagongan; Asik untuk Nongkrong, Dikunjungi Banyak Keluarga

Kopi Djagongan; Asik untuk Nongkrong, Dikunjungi Banyak Keluarga

Ada kopi, gelato, makanan ringan maupun berat

Surabaya, Kabarindo- Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret lalu membuat berbagai lini kehidupan terpuruk, termasuk usaha kuliner. Namun hal ini tak boleh disikapi dengan apatis. Sebaliknya mendorong pelaku usaha untuk mencari terobosan agar survive.

Hal ini dilakukan Fera Hadriyanti, Owner Restoran Agis dan Kopi Djagongan di Surabaya. Bisnis restonya yang sempat sepi beberapa bulan, membuatnya harus memutar otak untuk mendongkraknya lewat cara membuka kafe Kopi Djagongan yang berada tepat di sebelah resto.

“Saya kira hampir semua pengusaha resto mengalami kondisi ini ya. Mandeg akibat Corona. Entah sampai kapan pandemi ini berakhir. Saya lalu berpikir tak bisa begini terus. Saya punya banyak karyawan yang juga harus menghidupi keluarga mereka. Kebetulan ada lahan di sini. Maka saya buka Kopi Djagongan untuk menampung dan memberdayakan mereka,” ujarnya.

Fera menuturkan, resto Agis selama ini identik sebagai tempat menggelar event. Pandemi membuat event-event berhenti. Otomatis Agis menjadi sepi, padahal ia harus tetap mengeluarkan biaya untuk perawatan gedung, listrik, air dan lainnya. Ia juga tak ingin mem-PHK karyawan.

Fera lalu membuka kafe kekinian yang ngetren saat ini di kawasan Pagesangan, Surabaya selatan, yang menurutnya belum banyak terdapat kafe. Kopi Djangongan mulai dibuka pada Juli lalu dan grand opening pada bulan ini.

Semula Kopi Djagongan menyasar anak muda yang gemar nongkrong, namun ternyata juga dikunjungi banyak keluarga, terutama pada akhir pekan dan hari libur. Setelah jalan-jalan pada siang atau sore hari, mereka mampir ke sini.

Menurut Fera, ini karena kafe ini bukan hanya menyajikan kopi yang menjadi kesukaan anak muda, namun juga jenis minuman lain dan gelato yang disukai anak-anak. Selain itu, ada beragam makanan ringan, antara lain kentang goreng dan sempol. Untuk kopi, andalannya adalah Kopi Djagongan dan Kopi Prajurit yang digemari banyak pengunjung.

Pengunjung juga bisa menikmati makanan berat yang biasanya disajikan resto Agis. Kita bisa memesannya di kafe, kemudian akan diantarkan. Begitu pula sebaliknya. Kita bisa memesan menu dari kafe untuk disantap di resto.

“Cara ini bisa saling mendukung antara kafe dan resto. Pengunjung juga bisa menikmati lebih banyak menu dari kafe maupun resto,” ujar Fera.

Kopi Djagongan mematok harga menu yang terjangkau mulai Rp-8 ribu-Rp.30 ribu. Rata-rata belasan ribu rupiah. Fera ingin, banyak orang yang bisa ngafe tanpa perlu mengeluarkan banyak uang. Seperti di banyak tempat lainnya, kafe ini juga menyediakan wifi sehingga pengunjung bisa nongkrong sambil mengerjakan tugas. Kopi Djagongan juga memiliki spot-spot cantik untuk selfie.

“Pengunjung bisa duduk di dalam atau di luar. Setiap Sabtu malam ada live music dan setiap bulan ada promo menu, misalnya dalam rangka perayaan hari besar,” ujarnya.

Fera menekankan, pihaknya tetap memberlakukan protokol kesehatan dengan memeriksa suhu pengunjung, menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan membatasi jumlah pengunjung maksimal 50% dari kapasitas. Juga sering membersihkan semua yang sering disentuh pengunjung seperti gagang pintu.

Ia menambahkan, tak menutup kemungkinan akan memberikan waralaba bagi yang berminat untuk membuka Kopi Djagongan.

“Ada beberapa orang, juga teman, yang tertarik untuk membuka Kopi Djagongan di kota-kota lain. Ya, monggo, dengan senang hati. Ini bisa membantu pelaku usaha kuliner lain untuk bangkit,” ujar Fera.

Penulis: Natalia Trijaji