Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Gaya hidup > ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille Pertama; Karya Tim Dosen FTE

ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille Pertama; Karya Tim Dosen FTE

Gaya hidup
Oleh : admin

BAGIKAN :
ITS Siap Pasarkan Mesin Cetak Braille Pertama; Karya Tim Dosen FTE

Surabaya, Kabarindo- Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya telah mengujicoba mesin cetak huruf Braille hasil karya tim dosen dari Fakultas Teknologi Elektro (FTE) di sekolah luar biasa (SLB) Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Gebang Putih, Surabaya.

Mesin cetak Braille (Braille Embossers) tersebut merupakan mesin pencetak huruf Braille, aksara yang digunakan para penyandang tunanetra untuk membaca. Hasil cetakannya berbeda dengan printer pada umumnya, karena huruf yang dicetak berbentuk timbul. Mesin yang dapat mencetak 1.200 halaman per jam ini dikembangkan oleh tim dosen dari FTE ITS dengan tim inti yang beranggota Dr.Tri.Arief Sardjono ST MT (ketua tim), Ir.Tasripan MT dan Ir.Hendra Kusuma MEngSc.

Tim tersebut sebenarnya telah menggarap riset mesin cetak Braille ini sejak 2012 saat masih menjadi Jurusan Teknik Elektro di bawah Fakultas Teknologi Industri (FTI). Mesin cetak Braille ini merupakan pengembangan mesin cetak dari Norwegia yang telah dimiliki oleh sejumlah SLB di Indonesia yang kondisinya sudah tidak layak.

“Tim dari ITS saat itu diminta oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk membantu memperbaikinya,” ujar Tri Arief Sardjono, Dekan FTE, pada Senin (27/11/2017).

Pada 2014, ITS berhasil membuat prototype hasil pengembangan mesin cetak Braille dari Norwegia tersebut menjadi lebih baik dalam beberapa fiturnya. Ini merupakan mesin cetak Braille karya anak bangsa Indonesia yang pertama Karena di Indonesia belum ada perusahaan manufaktur mesin cetak Braille. Pada 2015, ITS berhasil mendistribusikan tiga prototype mesin ini ke SLB di Jayapura, Ambon dan Pangkal.

Menurut Arief, ITS telah diamanahi oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdasmen Kemdikbud untuk membuatkan masing-masing satu prototipe dengan bantuan dana Rp.390 juta per mesin.

“Prototipe mesin cetak Braille karya tim kami telah mencapai TKT 7 (Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7). Mesin ini sudah berskala industri dan siap untuk diproduksi secara massal. Melalui Corporate Social Responsibility (CSR), diharapkan Braille Embossers dapat diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat,” ujarnya.

Mesin cetak Braille tersebut dirancang dengan komponen suku cadang 85% produk Indonesia, sehingga harganya diharapkan lebih terjangkau meski tidak untuk ukuran personal, mudah dioperasikan dan dirawat serta kompatibel dengan sistem operasi komputer modern. Nantinya mesin tersebut akan dihibahkan ke SLB-SLB untuk mempermudah pembuatan soal-soal ujian, buku baca sekaligus mendukung gerakan literasi.

“Mesin ini membutuhkan investor, tidak akan dimiliki secara personal, karena harganya mahal untuk ukuran personal,” ujar Arief.

Mesin Cetak Braille keluaran ke-4 ITS tersebut sudah ditunggu-tunggu oleh SLB di Indonesia, sedangkan mesin keluaran ke-5 akan rilis Desember mendatang. Ada lima SLB yang membutuhkan mesin ini dan ada 50 SLB center yang harus melayani lebih dari 1.000 SLB sekitarnya.

Mesin cetak Braille tersebut dapat mendukung gerakan literasi untuk para tuna netra. Menurut Kepala SLB YPAB, Eko Purwanto, SLB YPAB merupakan sekolah luar biasa dengan siswa terbanyak di Jawa Timur dan satu-satunya SLB untuk tuna netra di Surabaya.

“Siswa SLB YPAB tahun ajaran ini berjumlah sekitar 90 siswa. Diharapkan mesin cetak Braille ini dapat dihibahkan di sini nantinya,” ujarnya.


TAGS :
RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER