Burger Menu
Logo

KABAR BAIK MENCERAHKAN

Beranda > Internasional > China Ganti Strategi Tangani COVID-19

China Ganti Strategi Tangani COVID-19

Internasional
Oleh : Hauri Yan

BAGIKAN :
China Ganti Strategi Tangani COVID-19

KABARINDO, BEIJING – Sangat menularnya varian Omicron telah memaksa pemerintah China mengganti strategi nasional penanganan COVID-19 mereka yang terkenal ketat.

Tersebar di 20 dari 31 provinsi di China, kasus positif Covid di China mengalami lonjakan dalam beberapa hari terakhir, dengan 1.337 infeksi baru COVID-19 dilaporkan hanya di China daratan saja, menurut Komisi Kesehatan Nasional (NHC) pada hari Senin (15/3). 

Angka tersebut menambah total terdaftar tahun ini menjadi lebih dari 9.000, dibandingkan dengan 8.378 pada tahun 2021, menurut perhitungan kantor berita Reuters.

Peningkatan kasus saat ini merupakan tantangan yang signifikan bagi China. Setelah mengadopsi strategi toleransi nol terhadap virus selama hampir dua tahun terakhir, China telah bergeser dalam beberapa bulan terakhir ke strategi "nol dinamis". 

Di bawah strategi baru, para pemimpin nasional telah menoleransi munculnya beberapa kasus di sebuah kota, asalkan para pemimpin kota dengan cepat menghapus semua kasus lebih lanjut.

Sistem China untuk mendeteksi dan melacak infeksi sangat bergantung pada pengujian wajib bagi siapa saja yang demam. 

Selain pemeriksaan suhu yang biasa dilakukan di pintu masuk gedung publik, orang yang mencoba membeli obat pereda demam juga dites virus corona.

Meskipun demikian, dua pertiga dari kasus yang dilaporkan secara nasional pada hari Sabtu melibatkan orang tanpa gejala (OTG) yang tetap dapat menyebarkan virus ke orang lain, sehingga menyulitkan pelacakan, kata pejabat China.

Meskipun China menderita banyak korban jiwa sejak Covid-19 pertama kali muncul di kota Wuhan lebih dari dua tahun lalu, negara itu sesungguhnya telah sempat jauh lebih berhasil daripada negara besar lainnya dalam mengendalikan virus sejak saat itu.

Jumlah kasus harian China masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan sekitar 35.000 di Amerika Serikat, yang populasinya kurang dari seperempat populasi China. Hal ini mungkin terjadi karena China memiliki tingkat vaksinasi hampir 90 persen.

***(Sumber: Reuters, New York Times; Foto: New York Times)


RELATED POSTS


Home Icon


KATEGORI



SOCIAL MEDIA & NETWORK

Kabarindo Twitter Kabarindo Instagram Kabarindo RSS

SUBSCRIBE & NEWSLETTER