Permodalan Nasional Madani Gandeng Media; Dukung UMK Songsong MEA

Permodalan Nasional Madani Gandeng Media; Dukung UMK Songsong MEA

Ruang Pertemuan PNM, Gedung Arthaloka, Jakarta, Kabarindo- Indonesia sudah menjejakkan diri di salasar era kompetisi, tidak hanya sambut MEA tapi AFTA/NAFTA sudah di pelupuk mata.

Artinya, tidak perlu heran apabila ekspansi produk-produk China dan negara lain bisa menguasai pasar nasional ataukah buruh atau pekerja profesional dari ASEAN, Asia dan negara lain akan buka praktek dan sudah bekerja di tiap proyek tanah air kita.

Bagaimana Anda dan bagaimana KITA ? Menarik memang akhirnya PT. Permodalan Nasional Madani menggandeng media untuk mendukung UMK songsong Masyarakat Ekonomi Asia dalam sebuah diskusi panel menanti beduq Maghrib.

Diawali dengan Meidyah Indrewari mewakili Agus Muharram sebagai komisaris PT. PNM dan juga Sekum BPKP mendampingi Dirut PT. PNM, Parman Nataatmadja bersama dengan direksi lainnya.

Meidyah mengingatkan akan tiga peran media terkait UMK dari ILO bahwa media bisa sebagai alat/sarana merubah perilaku publik terhadap UMK, selain itu sebagai pressure untuk pemerintah/sebagai corong UMK itu sendiri dan memanage isyu.

Panelis terdiri dari Kominfo yaitu Suprawoto selaku Sekjen KemKominfo bersama pekerja media yaitu Don Kardono (Pemred Harian Indopos), Irfan Djunaedi (Wakil Pemred H. Republika) dan Priambodo selaku Redaktur Senior LKBN Antara.

"Saudara kita di Indonesia Timur merdeka sama seperti kita yang ada di Ibukota tapi beda dari sisi fasilitasi dan informasi. Jadi pemerataan informasi sangat penting bagi Kemkominfo agar masyarakat yang ada sampai di Papua dapat mengakses informasi. Apalagi isyu UMK yang mengajak mereka menjadi enterpreneur di daerah mereka masing-masing, tidak hanya media mainstream harus bisa bekerjasama dengan media baru/medsos agar UMK dapat terkenal luas sekaligus sebagai sarana promosi via e-commerce," papar Suprawoto yang hadir mewakili Rudiantara selaku Menkominfo RI.

Sementara itu selaku Dirut PT. PNM, Parman Nataatmadja , mengingatkan 1 Juni 1999 saat krisis didirinkan PNM selain jadi sebagai institusi pembiayaan dan juga pendampingan untuk usaha mikro menengah agar bisa maju dan bersaing, tidak hanya jadi kepanjangan Permodalan Nasional Madani tapi juga Penolong Nasabah Miskin.
 
"Kami sudah ada dari Aceh sampai Ambon, sudah ada 591 outlet UlaMM sehingga menjadi 721 kantor pelayanan sampai tahun 2015 sampai 1.300 kantor di tahun 2017, sebagai BUMN non bank khusus untuk memberdayakan UMK melalui pembiayaan serta pembinaan dan pendampingan (capacity building) yang terutama belum terlayani oleh perbankan agar bisa bersambut di era MEA jadi tentu saja peran media mainstream dan media baru sangat dibutuhkan oleh PNM untuk merubah mindset dan menumbuhkan semangat kewirausahaan nasional," papar Parman lugas.

Dari sisi media, menarik paparan dari Don dari Indopos bahwa 90% UKM masih berpromosi manual/offline dan sisanya 6,6% promo via FB atau sosmed.

"Banyak tantangan bagi UMK untuk dibantu oleh media baru seperti own media, blog, sosmed jadi tidak hanya media mainstream. Disadari meliput UMK belum ada News Value atau Point of Interest dan ini menjadi tantangan dari PNM untuk memberi nilai inspirasi bagi pembaca pasti menarik untuk diliput. UKM atau UMKM harus punya media sendiri jadi tidak bergantung dengan media mainstream," jelas Don lugas.

Media tertarik apabila ada human interest, inspiring dan tentu saja pihak PNM rajin buat media release atau UMK itu sendiri rajin menposting foto-foto atau new idea dari usahanya agar bisa diketahui oleh masyarakat luas.

Hal tersebutkan diaminkan oleh Priambodo dari sisi media online yang membuka peluang e-commerce.


Ayo Jadi Pengusaha...............!