Mendag Bikin Gebrakan Dalam Perundingan ASEAN; Awesome.....!

Mendag Bikin Gebrakan Dalam Perundingan ASEAN; Awesome.....!

Jakarta, Kabarindo- Beberapa hari lalu saat pertemuan ASEAN Economic Ministers (AEM).

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyatakan penolakan atas usulan liberalisasi produk-produk sensitif yang diusulkan Korea Selatan.

Produk-produk sensitif itu seperti hasil kelautan dan perikanan, tekstil dan produk tekstil, otomotif, elektronik, produk kimia hulu dan hilir, serta produk logam seperti baja dan produk baja.

“Saya menolak mengikuti penambahan tariff lines sebesar 2% produk-produk sensitive list yang saat ini sedang dioptimalkan perkembangannya di dalam negeri. Saya juga menolak hal ini dijadikan salah satu usulan untuk dibahas lebih lanjut di tingkat Kepala Negara dalam ASEAN-Korea Commemorative Summit pada bulan Desember mendatang,” tegas Mendag Lutfi di sela-sela pertemuan AEM, di Nay Piy Taw, Myanmar.

Di hari kedua AEM ini Menteri Ekonomi ASEAN bertemu dengan negara mitra ASEAN, seperti Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Salah satu pertemuan yang berlangsung kemarin adalah pertemuan AEM-Republic of Korea (ROK) Consultations ke-11. Pertemuan yang dihadiri oleh para Menteri Ekonomi ASEAN dan Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan Yoon Sang-jick ini membahas perkembangan kesepakatan perdagangan barang ASEAN-Korea Selatan. Para Menteri mendiskusikan usulan Korea Selatan atas
liberalisasi sebagian kecil produk-produk sensitif masing-masing negara dalam kerangka kerja sama ASEAN-Korea Free Trade Agreement (AKFA) guna melaksanakan integrasi yang lebih luas.

Menuju Negara Industri
Mendag Lutfi menyampaikan bahwa ada tiga hal yang perlu dijaga sebagai bagian dari proses review persetujuan perdagangan barang AKFA untuk menuju negara industri. Pertama, kebijakan perdagangan;
kedua, pengembangan industri unggulan yang berdaya saing, dan penyelesaian masalah infrastruktur, pengembangan SDM, ilmu dan pengetahuan; ketiga, inovasi.

“Ketiga hal tersebut bukan hanya tugas pemerintahan saat ini, tetapi juga pemerintah selanjutnya. Sebagai langkah awal dan strategis, Kementerian Perdagangan berkomitmen dengan Kementerian
Perindustrian, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Kementerian terkait lainnya untuk menyelesaikan hal ini,” imbuhnya.

Jalur Perdagangan Maritim
Sementara itu, pertemuan AEM-The Minister of Commerce (MOFCOM) of the People's Republic of China ke-13 dihadiri oleh para Menteri Ekonomi ASEAN serta Menteri Perdagangan Tiongkok Gao Hucheng. Selain ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), beberapa isu lain yang disampaikan adalah inisiatif Tiongkok mengenai konsep jalur perdagangan maritim di abad ke-21 atau “The 21st Century Maritime Silk Road” yang akan memprioritaskan peningkatan pembangunan konektivitas, infrastruktur, dan perekonomian di kawasan Asia Tenggara.

Terkait dengan hal ini, Tiongkok juga mengusulkan tahun 2015 sebagai ASEAN–China Year of Maritime Cooperation. Adapun usulan Tiongkok lainnya adalah Asian Infrastructure Investment Bank guna menyediakan dukungan terhadap proyek-proyek infrastruktur di kawasan regional, dengan konektivitas ASEAN sebagai prioritas.

Kinerja Perdagangan ASEAN
Kerja sama bilateral antara ASEAN dengan negara mitranya menunjukkan perkembangan yang signifikan. Dalam kerangka kerja sama ACFTA, contohnya, kinerja total perdagangan bilateral antara ASEAN-Tiongkok mencapai USD 350,5 milliar, atau sebesar 14% dari total perdagangan ASEAN. Jumlah ini meningkat 9,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Di tahun yang sama, ASEAN menerima arus investasi langsung asing (Foreign Direct Investment/FDI) dari Tiongkok mencapai USD 8,6 miliar atau 7,1% dari total FDI yang masuk ke negara-negara ASEAN. Jumlah ini meningkat sebesar 60,8% dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam kerangka ini, para Menteri juga menyepakati target pencapaian transaksi perdagangan sebesar USD 500 miliar di akhir tahun 2015.
Adapun kinerja total perdagangan kerja sama ASEAN-Jepang yang merupakan mitra dagang ASEAN terbesar ke-3 setelah Tiongkok dan Uni Eropa, mencapai USD 240,9 milliar atau sebesar 9,6% dari total perdagangan di ASEAN. Total FDI dari Jepang ke ASEAN mencapai USD 22,9 milliar, dalam kerangka kerja sama ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP).

Sementara total kinerja perdagangan bilateral antara ASEAN dan Korea Selatan mengalami peningkatan dari USD 131 miliar pada tahun 2012 menjadi USD 135 miliar pada tahun 2013. Importasi ASEAN dari Korea Selatan pada periode yang sama meningkat sebesar 8,1% (YoY) menjadi USD 82,2 miliar, sedangkan ekspor ASEAN ke Korea Selatan mengalami penurunan sebesar 4% (YoY) menjadi USD 52,8 miliar. Namun demikian, arus FDI dari Korea ke ASEAN meningkat dua kali lipat dari USD 1,7 miliar pada tahun 2012 menjadi USD 3,5 miliar pada tahun 2013. Hal ini menempatkan Korea sebagai sumber investasi terbesar ke-5 di kawasan Asia Tenggara.

Untuk kinerja perdagangan di bawah kerangka kerja sama ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Agreement (AANZFTA) total nilai perdagangan ASEAN dengan Australia tahun 2013 sebesar USD 68 milliar. Pada tahun yang sama, ASEAN menerima lebih dari USD 2 milliar nilai FDI. Sedangkan ASEAN dengan Selandia Baru tahun lalu mencapai USD 9,8 milliar.